
Ardi mengajak Sabrina masuk ke dalam pasar rakyat yang tidak jauh dari mobil yang di
parkirkan oleh Joni sebelumnya, Sabrina pun mengikuti langkah kaki Ardi yang
membawanya ke dalam pasar yang cukup ramai dimana-mana terdengar suara para
pedagang yang tengah sibuk menjajakan dagangan mereka masing-masing.
“Di sana !”ucap Ardi kepada Sabrina sambil menunjuk ke sebuah warung yang tampak cukup ramai.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi, kemudian keduanya berjalan melangkahkan kaki masuk ke dalam warung tersebut.
“Silah kan !” ucap pemilik warung saat mereka sampai di depan warung tersebut.
Ardi pun tersenyum menanggapi ucapan pemilik warung tersebut dan mengajak Sabrina untuk duduk di meja yang masih kosong.
“Wah mas apa mungkin Joni berubah menjadi gadis secantik ini ?” ucap pemilik warung saat berjalan mendekat ke arah Ardi dan juga Sabrina.
“Hahahaha.” Ardi sontak tertawa mendengar ucapan pemilik warung.
“Bapak bisa saja ! ini Sabrina istri saya.” Ucap Ardi lagi memperkenalkan Sabrina kepada pemilik warung tersebut.
“Sudah menikah ?” tanya pemilik warung lagi.
Ardi menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan pemilik warung sarapan tersebut.
“Selamat ya.” Ucap pemilik warung lagi sambil mengulurkan tangannya kepada Ardi dan juga Sabrina untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
“Terima kasih pak.” Jawab Ardi.
Sementara itu Sabrina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan pemilik warung.
“Oh iya mau sarapan apa mas Ardi dan mbaknya ?” ucap pemilik warung tersebut agak sedikit buru-buru kepada Ardi.
Karena kebetulan pagi ini warung miliknya cukup ramai pengunjung.
“Kamu mau makan apa ?” tanya Ardi kepada Sabrina yang duduk di sampingnya.
“Ada apa saja pak ?” tanya Sabrina kepada pemilik warung tersebut.
“Macam-macam mbak… ada ketupat sayur… nasi goreng… ketoprak… soto mie dan lain-lain.” Ucap pemilik warung tersebut kepada Sabrina.
“Ketupat sayur saja.” Ucap Sabrina kepada pemilik warung tersebut.
“Baik mbak ! masnya mau pesan apa ?” tanya pemilik warung tersebut kepada Ardi.
“Sama saja pak ketupat sayur saja.” Ucap Ardi.
__ADS_1
“Dan minum ?” tanya pemilik warung tersebut lagi.
“Teh hangat saja pak !” jawab Sabrina.
Pemilik warung tersebut pun menganggukkan kepalanya kepada Sabrina.
“Kopi boleh pak.” Jawab Ardi kepada pemilik warung tersebut.
Pemilik warung pun menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Ardi.
“Baiklah tunggu sebentar ya.” Jawab pemilik warung tersebut kepada Sabrina dan juga Ardi.
Keduanya pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan pemilik warung tersebut.
“Kamu sering makan di sini ?” tanya Sabrina kepada Ardi sepeninggal pemilik warung.
“Bisa di bilang begitu.” Ucap Ardi sambil mengambil sepotong gorengan dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Hmmmm.” Ucap Sabrina menganggukkan kepalanya sambil matanya melihat lihat ke segala arah.
“Itu…” ucap Sabrina pelan hampir tak terdengar sambil matanya fokus melihat objek yang di tangkap oleh penglihatannya.
“Ada apa ?” tanya Ardi mengerutkan dahinya melihat ke arah Sabrina.
Karena tidak ada jawaban dari Sabrina Ardi pun memutuskan untuk melihat ke arah yang dimaksud oleh Sabrina.
“Kamu kenal dengan mereka ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Mana nomor ponselmu ?” ucap Sabrina kepada Ardi sambil menyerahkan ponsel miliknya.
“Untuk apa ?” tanya Ardi bingung.
“Sudah simpan saja nomormu di situ.” Ucap Sabrina sambil tetap fokus melihat targetnya.
Tanpa banyak bertanya Ardi pun menyimpan nomor ponsel miliknya di dalam ponsel Sabrina.
“Sudah.” Ucap Ardi sambil menyerahkan kembali ponsel milik Sabrina kepadanya.
“Oke.”ucap Sabrina sambil melihat ke arah Ardi lalu memasukkan ponsel miliknya ke dalam kantong celananya.
“Aku ke toilet sebentar !” ucap Sabrina kepada Ardi.
Lalu Sabrina pun bergegas bangkit dari duduknya meninggalkan Ardi dengan seribu satu pertanyaan di benaknya.
“Mau aku antar ?” ucap Ardi kepada Sabrina yang pergi dengan terburu-buru.
Sabrina pun membalikkan badannya melihat ke arah Ardi sambil mengangkat ponselnya.
__ADS_1
“Tidak usah.” Jawab Sabrina kemudian berjalan dengan tergesa-gesa.
Ardi pun pasrah tidak bisa berbuat apa-apa karena Sabrina sendiri yang bersikeras ingin pergi sendiri tidak mau di temani olehnya.
Ardi pun awalnya sempat khawatir karena Sabrina pergi sendiri karena bisa di bilang Sabrina masih asing dengan tempat ini namun hatinya merasa cukup lega usai Sabrina mengangkat ponselnya karena itu berarti jika Sabrina tersesat pasti dia akan menghubungi dirinya.
Di sisi lain…
“Aku butuh uangnya sekarang !” ucap seorang pria kepada wanita yang ada di depannya.
“Uang apa lagi ha ? aku sudah tidak punya uang lagi sekarang !” ucap wanita tersebut menolak memberikan uang kepada pria yang ada di depannya tersebut.
“Oh jadi begitu ? kamu sudah merasa hebat sekarang ?” ucap pria tersebut mulai tampak emosi.
“Apa kamu tidak takut jika semua perbuatanmu kepada Adelia sahabatmu aku ungkapkan?” ucap pria tersebut lagi.
“Jangan aku mohon jangan.” Ucap wanita tersebut mulai terlihat ketakutan.
“Berikan aku uang sekarang.” Ucap pria tersebut sambil menengadahkan tangannya.
“Aku hanya punya segini.” Ucap wanita tersebut sambil menyerahkan amplop berisi uang tunai di dalamnya.
“Kamu ingat tidak ada lain kali.” Ucap wanita tersebut menegaskan kembali sebelum uang tersebut berada di tangan pria tersebut.
“Iya aku paham.” Ucap pria tersebut tersenyum melihat amplop yang berada di tangannya.
Kemudian pria tersebut berjalan meninggalkan wanita yang tampak kesal tersebut.
“Dasar licik.” Umpat wanita tersebut saat pria yang tadi bersamanya sudah menjauh.
Kemudian wanita tersebut pun ikut pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Kalian sama liciknya.” Ucap Sabrina sambil menyimpan rekaman video yang tadi sudah di rekamnya.
“Apa maksud dari ucapan pria tadi ? dia sahabat mama ? apa jangan-jangan mama keluar dari rumah ada hubungannya dengan wanita ular itu ? iya aku yakin ini semua pasti ada hubungannya dengan mama.” ucap Sabrina menerka-nerka.
“Papa harus tahu tentang ini ! iya aku harus memberitahu papa tentang rekaman video ini.” Ucap Sabrina.
“Ada apa ?” tanya Ardi yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Sabrina.
Sabrina yang kaget buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya lalu tersenyum nyengir ke arah Ardi.
Ardi yang merasa aneh melihat tingkah Sabrina pun mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk melihat apa yang sedang terjadi dan di perhatikan oleh Sabrina namun nihil tidak ada sesuatu yang spesial di sana.
“Ada apa ?” tanya Ardi lagi.
“Eh tidak ada.” Jawab sabrina sedikit gugup.
__ADS_1
Namun Ardi tidak percaya begitu saja dengan apa yang di ucapkan oleh Sabrina tetapi dia sendiri juga tidak bisa memaksa Sabrina untuk berkata jujur kepadanya, karena dia merasa jika itu merupakan hal tidak yang boleh dia ketahui, hingga Sabrina sendiri yang memutuskan untuk menceritakan.
Bersambung….