
Ardi mengemudikan mobilnya melaju membelah jalanan malam, di kursi penumpang mak Ijah tengah menangisi kondisi Endah sang putri yang penuh memar akibat dipukuli oleh suami yang tidak bertanggung jawab seperti Yanto tersebut.
“Sungguh malang nasib mu nak !” ucap mak Ijah sambil terus menangis sembari memperhatikan sekujur tubuh sang anak yang sangat memprihatinkan.
“Nak Ardi tolong lebih cepat sedikit !” ucap mak Ijah meminta Ardi agar mengemudi lebih cepat.
Karena kondisi Endah sang anak sudah terkulai lemas tidak bertenaga.
Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucap mak Ijah lalu kemudian menambah kecepatan mobilnya agar Endah bisa segera sampai dan di tangani oleh dokter secepat mungkin.
Sementara itu Sabrina menggandeng tangan Intan menaiki anak tangga menuju ke rumah di ikuti oleh Sari dari belakang.
“Apa yang terjadi ?” tanya pak Agus saat mereka berpapasan kepada Sabrina saat melihat Intan tengah menangis terisak-isak.
Kemudian Sabrina pun menatap Sari seolah meminta agar menjelaskan apa yang terjadi kepada sang mertua.
Sari pun menganggukkan kepalanya menatap Sabrina lalu kemudian dia pun menjelaskan kejadian yang terjadi sama seperti kejadian yang sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi.
“Bagaimana dengan Endah ?” tanya pak Agus kepada Sari.
“Sudah dibawa mas Ardi ke rumah sakit yah !” ucap Sari menanggapi pertanyaan pak Agus.
Pak Agus pun mengangguk kecil menanggapi penjelasan Sari, lalu dia pun menghampiri Intan dan mengelus lembut puncak kepala gadis kecil tersebut.
“Ya sudah bawa Intan ke dalam !” ucap pak Agus kepada Sabrina sang menantu.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang mertua.
“Ayo !” ucap Sabrina tersenyum kepada Intan lalu mengajak gadis tersebut untuk masuk ke dalam rumah.
Kemudian ketiganya masuk ke dalam rumah sementara pak Agus masih berdiri di sana sambil menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan apa yang terjadi dengan orang tua Intan tersebut.
“Kamu sudah makan ?” tanya Sabrina kepada Intan.
Intan hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Sabrina, yang dilakukannya hanya menangis dan menangis.
“Kamu tenang ya jangan menangis lagi ! mama kamu pasti akan baik-baik saja dan akan segera pulang dan bisa berkumpul lagi seperti sebelumnya.” Ucap Sabrina kepada Intan sambil menarik kursi agar Intan bisa duduk di sana.
__ADS_1
“Iya ntan ! yang di katakan tante Sabrina benar… mama kamu pasti akan baik-baik saja ! percaya deh sama mbak Sari.” Ucap Sari agar Intan sedikit lebih tenang.
Intan pun menatap ke arah Sabrina dan juga Sari secara bergantian lalu dia pun menghapus air matanya menggunakan kedua tangannya.
“Apa benar yang mbak Sari katakan ?” tanya Intan lagi seolah percaya dengan apa yang Sari katakan.
Sari pun menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Intan sembari tersenyum.
“Benar tante ?” tanya Intan lagi kepada Sabrina ingin memastikan lagi jika mamanya akan baik-baik saja.
Sabrina pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan dari Sari tersebut.
“Ya sudah kalau begitu ! apa kamu lapar ?” tanya Sabrina kepada Intan dengan lembut.
Intan pun menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Sabrina tersebut.
“Ya sudah kalau begitu Intan tunggu sebentar ya !” ucap Sabrina kepada Intan.
Mbok Ya yang baru saja selesai beberes di dapur datang dengan langkah yang tergopoh-gopoh.
“Mbok apa nasi dan lauknya masih ada ?” tanya Sabrina kepada mbok Ya.
Kemudian Sabrina pun hendak bangkit dari duduknya menuju ke arah dapur untuk mengambilkan sepiring nasi untuk gadis kecil tersebut.
“Sudah mbak biar aku saja !” ucap Sari kepada Sabrina kemudian dengan cepat Sari pun bangkit hendak berjalan melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Sari dan memutuskan untuk kembali duduk di kursi yang ada di dekat Intan tersebut.
Sari pun melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Intan sedangkan mbok Ya mengikutinya dari belakang.
“Apa kejadian yang sama terulang kembali mbak ?” tanya mbok Ya yang penasaran saat melihat ada Intan di sana.
“Iya mbok !” jawab Sari menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan mbok Ya sambil mengambil sebuah piring dari rak piring.
“Mbok tidak habis pikir ya mbak kenapa Endah masih mau bertahan bersama suami yang tidak bertanggung jawab begitu ditambah lagi pemalas serta suka berjudi dan mabuk-mabukan.” Ucap mbok Ya merasa bingung kenapa Endah masih bisa bertahan dengan suami seperti Yanto tersebut.
“Entah lah mbok aku juga bingung dengan mbak Endah.” Ucap Sari juga tidak habis pikir sambil menyendokkan nasi ke atas piring.
__ADS_1
“Iya mbak kasihan Intan dan juga Endah seperti tertekan perasaan.” Ucap mbok Ya lagi khawatir dengan kondisi Intan.
Sari pun menghembuskan napas kasarnya menanggapi ucapan mbok Ya.
“Kalau mbok Ya yang di posisi Endah lebih baik berpisah dari pada tiap hari di marahi bahkan di pukuli, suami macam apa itu sudah tidak menafkahi keluarga bisanya hanya minta uang terus untuk modal berjudi dan kalau tidak di kasih ya seperti ini lah.” Ucap mbok Ya lagi.
Usai mengambilkan sepiring nasi beserta lauknya Sari pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan di mana sang kakak ipar dan Intan berada diikuti oleh mbok Ya membawa segelas air minum dari belakang.
“Nah nasinya sudah datang ! sekarang intan makan Ya ?” ucap Sabrina tersenyum kepada Intan saat melihat Sari datang dengan sepiring nasi serta lauknya.
Sari pun memberikan nasi tersebut kepada Sabrina lalu ikut duduk di salah satu kursi di sana, beberapa detik kemudian mbok Ya datang dengan membawa segelas air minum untuk Intan.
“Terima kasih Sar !” ucap Sabrina sambil tersenyum lalu mengambil piring tersebut dan meletakkannya di depan Intan.
“Sekarang Intan makan ya ?” ucap Sabrina lembut.
“Terima kasih tante… mbak Sari dan nek Ya.” Ucap Intan sopan.
Sabrina Sari dan juga mbok Ya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Intan sembari tersenyum menanggapi ucapan Intan.
Dari senyuman Ketika wanita beda usia tersebut tampak jelas sekali jika ketiga wanita tersebut merasa iba dan kasihan melihat ujian yang di hadapi oleh gadis kecil tersebut, yang seharusnya hidup dengan tenang menikmati masa kecilnya dengan mengukir kenangan indah bersama kedua orang tuanya namun yang terjadi hanya lah kenangan yang akan mengakibatkan luka jika dia mengingatnya kelak.
Intan pun makan dengan sangat lahapnya bagaikan orang yang tengah kelaparan.
“Sudah makannya pelan-pelan saja tidak ada yang akan memintanya !” ucap Sari kepada Intan.
“Iya mbak Intan lapar soalnya.” Ucap Intan tersenyum cengengesan.
Sabrina pun ikut tersenyum mendengar jawaban gadis kecil tersebut.
“Ya sudah kalau begitu dihabiskan ya ! tidak boleh bersisa jika masih kurang kamu boleh tambah lagi kok !” ucap Sabrina kepada Intan.
“Terima kasih tante !” ucap Intan menanggapi ucapan Sabrina.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menanggapi ucapan Intan sedangkan Intan kembali menikmati makanannya dengan lahap.
Sari dan mbok Ya pun ikut tersenyum melihat tingkah gadis kecil tersebut namun disisi lain juga merasa iba dan kasihan dengan ujian yang Intan hadapi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Intan pun melahap habis tidak bersisa nasi yang tadi diambilkan oleh Sari untuknya tersebut, tidak lupa Intan pun kembali mengucapkan terima kasih kepada ketiga wanita yang berbeda usia tersebut.
Bersambung….