
Dari jauh Sabrina melihat Ardi yang sedang berbicara dengan beberapa orang pria paruh baya, Sabrina pun mempercepat langkah kakinya menuju ke tempat di mana Ardi tengah berada.
Sementara itu di tempatnya Ardi tengah membicarakan hal yang cukup serius.
“Baiklah untuk mengatasi masalah ini kita akan lakukan seperti yang aku katakan tadi saja.” Ucap Ardi kepada para pria tersebut.
“Siap mas bos.” Ucap para pria paruh baya tersebut menanggapi ucapan Ardi.
“Iya.” Ucap Ardi sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan pria tersebut.
Kemudian beberapa orang pria paruh baya tersebut segera melangkahkan kakinya meninggalkan Ardi sendiri di sana.
“Ehmmm…” ucap Sabrina yang baru saja sampai di sana.
Mendengar suara tersebut Ardi segera membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sumber suara.
“Sarapan !” ucap Sabrina sambil menyerahkan kotak bekal yang tadi di bawanya tersebut kepada Ardi.
“Terima kasih !” ucap Ardi datar sambil menerima kotak bekal yang di berikan oleh Sabrina kepadanya.
“Ada apa ? apa terjadi sesuatu ?” tanya Sabrina saat melihat mimik wajah Ardi yang tampak sedang khawatir.
“Sedikit !” jawab Ardi menanggapi ucapan Sabrina.
“Ya sudah sarapan dulu gih ! kamu butuh tenaga lebih agar bisa menyelesaikan masalah tersebut ! jika tidak sarapan bisa-bisa kamu sakit nantinya.” ucap Sabrina kepada Ardi.
“Apa kamu mulai mengkhawatirkan aku ?” tanya Ardi menggoda Sabrina.
“Aku ? ya nggak lah ! aku bilang seperti itu karena aku tidak mau di salahkan oleh ibumu jika nanti kamu sakit !” jawab Sabrina.
“Tidak usah dipikirkan ucapan ibuku ! ibuku itu sebetulnya baik mungkin saja karena ini tiba-tiba baginya makanya ibuku seperti itu padamu.” Terang Ardi kepada Sabrina.
“Bukan hanya bagi ibumu ! bagiku ini juga tiba-tiba… tiba-tiba aku di sini… tiba-tiba aku menikah padahal aku masih muda… cantik juga… masa depanku masih panjang.” Ucap Sabrina dengan percaya diri kepada Ardi lalu setelahnya dia menarik napas dalam lalu membuangnya kasar .
Ardi yang mendengar ucapan Sabrina pun kemudian menatap Sabrina tanpa ekspresi.
“Apa kamu menyesal ?” tanya Ardi kemudian.
“Entah lah !aku tidak tahu apakah aku menyesal dengan semua ini atau tidak yang jelas mungkin untuk saat ini… inilah jalan keluar yang terbaik.” Ucap Sabrina lagi.
__ADS_1
Kemudian Sabrina pun terdiam sambil melihat pemandangan di sekitar.
“Ya saat ini mungkin ini yang terbaik… karena aku tidak punya tempat tujuan yang lain dan aku juga ingin mencari keberadaan mama.” Ucap Sabrina dalam hati.
“Saat ini ? berarti suatu saat kamu berniat untuk pergi dari sini meninggalkanku ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Hmmm aku suka udara di sini masih segar !” ucap Sabrina cepat cepat mengalihkan pembicaraan karena dia tidak ingin menjawab pertanyaan Ardi.
“Oh iya itu sarapan nya dimakan !” ucap Sabrina lagi kepada Ardi.
Kemudian Sabrina pun segera mengambil kotak bekal tersebut dari tangan Ardi lalu membawanya ke tempat di mana Ardi bisa memakan sarapannya tersebut.
“Ayo ke sana ! sepertinya di sana cocok.” Ucap Sabrina kepada Ardi sambil menunjuk sebuah pohon besar yang di bawahnya terdapat saung yang terbuat dari bambu.
Ardi pun mengikuti langkah kaki Sabrina menuju ke saung yang berada di bawah pohon tersebut walaupun di dalam hatinya masih menunggu jawaban atas pertanyaan yang tadi dia tanyakan kepada Sabrina namun dia sendiri juga tidak mau mendesak Sabrina untuk memberikan jawaban.
Saat sampai di saung tersebut Sabrina pun segera menyuruh Ardi untuk menikmati sarapannya, Ardi pun tidak menolak dan dia pun memutuskan untuk segera mengisi perutnya yang juga sedang lapar.
“Kalau aku boleh tahu apa masalah yang sangat serius ?” tanya Sabrina kepada Ardi saat Ardi sedang menikmati sarapannya.
“Apa ?” tanya Ardi yang tidak paham dengan pertanyaan Sabrina.
“Oh tidak terlalu serius… hanya saja karena hujan lebat semalam beberapa kolam ikan yang siap panen ambruk dan hal tersebut membuat panen kali ini kita akan sedikit berkurang dan merugi.” Terang Ardi menjelaskan kepada Sabrina.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya mengerti mendengar penjelasan Ardi.
“Lalu bagaimana ?” tanya Sabrina lagi.
“Tidak apa-apa aku sudah meminta beberapa orang untuk segera memperbaiki kolam yang ambruk tersebut !” jawab Ardi.
Sabrina pun kembali menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi.
“Oh rumah itu bagus!” ucap Sabrina sambil menunjuk ke arah sebuah rumah yang tampak bagus khas pedesaan.
Dari sana terlihat sebuah rumah yang cukup unik yang berdiri kokoh yang berada tidak terlalu jauh.
Ardi pun menatap datar ke arah yang dimaksud oleh Sabrina.
“Apa ada yang tinggal di sana ?” tanya Sabrina antusias.
__ADS_1
Dari raut wajahnya Sabrina tampak kagum dengan rumah tersebut.
“Ada ! sebaiknya kamu jangan bermimpi ingin ke sana !” ucap Ardi kepada Sabrina.
“Kenapa ?” tanya Sabrina semakin penasaran.
“Tidak ada alasan !” jawab Ardi singkat sambil terus melanjutkan sarapannya.
Bukan Sabrina namanya jika harus menahan rasa penasaran akan sesuatu.
Beberapa saat kemudian Ardi pun selesai menikmati sarapannya, dia pun meminta Sabrina kembali tanpa dirinya ke rumah karena dia harus melihat kembali para pekerja yang sedang memperbaiki kolam ikan yang ambruk tersebut.
Tanpa banyak protes Sabrina pun menuruti perintah Ardi dia pun segera melangkahkan kakinya menjauh dari saung tersebut segera setelah Ardi pergi lebih dulu.
Karena Sabrina kagum dengan rumah yang tadi dia lihat dengan sendirinya kakinya melangkah menuju ke rumah tersebut, rumah yang sangat indah dengan ciri khas pedesaan tersebut sangat menarik perhatian bagi Sabrina yang terbiasa tinggal di kota yang super sibuk, saat melihat rumah tersebut Sabrina seakan di tarik oleh magnet untuk mendekat ke sana.
Perlahan tapi pasti Sabrina pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut, semakin jauh Sabrina melangkah masuk semakin dia merasa takjub dengan rumah tersebut, rumah yang di penuhi oleh aneka tanaman dan juga bunga beraneka ragam yang menambah cantik pekarangan rumah tersebut.
Dari sana Sabrina melihat seorang anak kecil yang sedang bermain di temani oleh seorang wanita dewasa yang duduk membelakang ke arah Sabrina.
“Tante ?” ucap anak kecil tersebut saat melihat Sabrina.
Mendengar hal tersebut sontak wanita yang tadi bersama anak kecil tersebut menoleh ke arah Sabrina.
Seketika Sabrina merasa canggung karena ketahuan masuk ke pekarangan rumah orang lain tanpa ijin, buru-buru dia hendak membalikkan badannya untuk segera pergi dari sana.
“Tunggu !” ucap wanita tersebut kepada Sabrina.
Sabrina pun menghentikan aksinya tersebut dan menghadap kembali ke arah wanita tersebut.
“Maaf saya lancang !” ucap Sabrina buru-buru meminta maaf tidak berani menatap sang pemilik rumah.
“Kamu ? Sabrina ?” ucap wanita tersebut kepada Sabrina.
Mendengar hal tersebut Sabrina baru berani menatap ke arah pemilik rumah tersebut.
“Oh tante ?” ucap Sabrina saat mengenali pemilik rumah tersebut.
Sang pemilik rumah pun tersenyum sambil mengangguk melihat ke arah Sabrina.
__ADS_1
Bersambung…