Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 87


__ADS_3

Di sisi lain Sabrina baru saja sampai di kediaman sang papa rumah yang memiliki sejuta kenangan masa kecilnya di saat orang tuanya masih bersama, dengan langkah sedikit gontai Sabrina pun mendorong pintu rumah tersebut dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Bik Ina yang hendak mengantarkan jus untuk Nyonya rumah tersebut tampak membeku seketika saat melihat sosok Sabrina yang baru saja tiba di rumah tersebut setelah beberapa bulan pergi meninggalkan rumah.


“Non.” Ucap bik Ina.


Kemudian bik Ina dengan cepat menghampiri putri dari majikannya tersebut, sementara sang Nyonya rumah beserta putrinya seketika menoleh ke arah Sabrina.


“Sabrina !” ucap Nyonya Rosita sedikit kaget.


“Non dari mana saja ? bibi khawatir sama non Sabrina.” Ucap bik Ina.


“Non baik-baik saja kan ? tidak terluka kan ?” tanya bik Ina lagi tampak mengkhawatirkan Sabrina.


Sabrina pun tersenyum menatap bi Ina.


“Maafin aku ya bi sudah membuat bibi khawatir.” Ucap Sabrina.


“Aku baik-baik saja kok bik.” Ucap Sabrina lagi.


“Syukurlah kalau begitu bibi lega mendengarnya.” Ucap bik Ina menghembuskan napas lega.


“Sini non tasnya bibik akan bantu membawanya ke kamar non Sabrina.” Ucap Bi Ina sambil mengambil alih tas koper milik Sabrina dari tangannya.


“Terima kasih bik.” Ucap Sabrina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Iya sama-sama non.” Ucap bik Ina kemudian berjalan mendahului Sabrina menuju ke kamar.


“Sabrina ! dari mana saja kamu ?” tanya nyonya Rosita kepada Sabrina yang notabennya anak sambungnya tersebut.


Sabrina yang berjalan hendak menyusul bik Ina tersebut pun menghentikan langkahnya kemudian menatap ke arah Nyonya Rosita dengan tatapan dingin.


Tanpa berkata sepatah kata pun Sabrina pun melangkahkan kakinya menyusul bik ina menuju ke kamarnya.


“Huh dasar anak itu sama sekali tidak tahu sopan santun.” Ucap Nyonya Rosita mengatai Sabrina.


“Iya mama benar !” ucap Renata ikut nimbrung.


Sabrina yang mendengar ucapan tersebut memilih untuk diam dan mengabaikan karena dia sedang tidak ingin meladeni ibu sambungnya tersebut.


“Bik taruh saja di situ !” ucap Sabrina kepada mbok Ya.

__ADS_1


“Baik non !” ucap bik Ina patuh.


“Apa non Sabrina lapar ? mau bibik siapkan makanan ?” tanya bik Ina lagi kepada Sabrina.


“Tidak usah bik nanti saja.” Jawab Sabrina.


“Baiklah kalau begitu ! bibik permisi dulu kalau ada apa-apa non bisa panggil bibi ! bibik ada di belakang.” Ucap bik Ina kepada Sabrina.


“Iya bik !” ucap Sabrina tidak bersemangat.


Mendengar jawaban Sabrina bik Ina pun memutuskan untuk segera keluar dari kamar Sabrina.


“Bik Sekalian pintunya tolong ditutup.” Ucap Sabrina kepada bik Ina.


“Baik non.” Jawab bik Ina menanggapi ucapan Sabrina.


Pintu kamar Sabrina dibuka kembali dari luar sesaat setelah bik Ina menutup pintu tersebut, dari balik pintu Renata berjalan dengan santainya.


“Keluar lo !” ucap Sabrina kepada Renata.


“Kalau gue nggak mau lo mau apa ?” ucap Renata kepada Sabrina.


“Ini kamar gue ! dan lo tidak gue izinkan masuk ke kamar ini !” ucap Sabrina kepada Renata.


Mendengar ucapan Renata tersebut emosi Sabrina ikut terpancing, Sabrina pun melangkahkan kakinya mendekat kea rah Renata.


“Gue paham tidak heran kenapa lo bisa seperti ini ! lo dan nyokap lo itu sama-sama tidak tahu diri Sukanya mencuri milik orang lain.” Ucap Sabrina kepada Renata.


“Lo !” ucap Renata sembari mengangkat tangannya hendak menampar Sabrina.


“Apa ! lo mau tampar gue ?” ucap Sabrina.


“Jangan lo pikir gue akan sama seperti sebelumnya dan gue ingatkan gue tidak akan tinggal diam.” Ucap Sabrina menegaskan.


Renata pun akhirnya menurunkan kembali tangannya.


“Gue minta sekarang lo keluar dari kamar gue !” ucap Sabrina lagi.


“Awas lo ! gue bakalan aduin ke papa.” Ucap Renata.


“Silah kan dan gue tidak akan takut ! kita lihat saja siapa yang akan terusir dari rumah ini.” Ucap Sabrina menanggapi ucapan Renata.

__ADS_1


Renata menghentak kan kakinya ke lantai saking kesalnya mendengar ucapan Sabrina.


“Keluar sekarang !” ucap Sabrina kembali menegaskan.


Renata pun akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari kamar Sabrina tersebut walaupun dengan hati yang sedikit kesal dengan Sabrina.


Setelah Renata keluar dari kamar tersebut Sabrina pun melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu hendak mengunci pintu kamar tersebut agar tidak ada yang bisa masuk untuk mengganggunya.


Sabrina melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang lalu mendaratkan pantatnya tepat di pinggir ranjang tidurnya tersebut, tiba-tiba ingatannya kembali mengingat kejadian yang pernah dia alami hingga akhirnya dia menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya.


Tatapan Sabrina tampak kosong tanpa terasa air matanya kembali menetes membasahi pipinya saat ingatan terakhirnya mengingat kejadian yang membuatnya mengalah dan memutuskan untuk meninggalkan sang suami.


“Benar… yang gue lakukan sudah benar ! ini demi kebahagiaan dan masa depan Zahra yang masih panjang, gue tidak ingin dia juga merasakan apa yang pernah gue rasakan saat masih seusianya… harus hidup terpisah dari mas Ardi !” ucap Sabrina sambil menghapus air matanya.


“Tapi bagaimana dengan gue ? apa gue bisa merelakan semua ini ?” tanya Sabrina kepada dirinya sendiri.


“Gue hurus kuat ! gue juga tidak boleh egois mementingkan diri gue sendiri.” Ucap Sabrina bertekad.


Merasa lelah dengan masalah yang di hadapinya Sabrina pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya dengan harapan setelah nanti terbangun semua masalah menghilang dengan sendirinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam semenjak datang tadi Sabrina tak menampakkan batang hidungnya, pak Yuda yang saat itu baru saja pulang dari kantor melihat bik Ina tengah mondar mandir di depan pintu kamar sang putri Sabrina.


“Bik ngapain di sana ?” tanya pak Yuda kepada bik Ina dengan kening yang mengkerut karena merasa heran dengan tingkah laku asisten rumah tangganya tersebut.


“Anu begini pak !” ucap bik Ina ragu-ragu.


“Ada apa bi ?” tanya pak yuda lagi.


“Begini pak sejak pulang tadi non Sabrina hanya mengurung diri dari kamar sama sekali tidak keluar walau hanya untuk sekedar minum.” Ucap bik Ina menjelaskan.


“Sabrina ?” ucap pak Yuda memastikan pendengarannya tidak bermasalah.


“Iya pak ! non Sabrina sudah pulang.” Ucap bik Ina.


“Kamu yakin ?” tanya pak Yuda lagi.


“Iya pak.” Ucap bik Ina menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan pak Yuda.


“Sendiri ?” tanya pak Yuda memastikan lagi.


“Iya pak sendiri.” Jawab bik Ina sambil bertanya-tanya dalam hatinya.

__ADS_1


Mendengar jawaban bik Ina pak Yuda pun segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu kamar Sabrina tersebut, dari wajahnya terlihat jelas jika dia sangat mengkhawatirkan sang putri.


Bersambung….


__ADS_2