Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 83


__ADS_3

Mama Adelia tampak mengerutkan keningnya melihat ekspresi kaget Nadia tersebut.


“Kamu baik-baik saja ?” tanya sang mama kepada Nadia.


“Eh iya ma.” Jawab Nadia.


“Nad !” ucap sang mama serius.


“Iya ma ?” jawab Nadia menanggapi ucapan sang mama.


“Apa boleh mama minta sesuatu sama kamu ?” tanya sang mama dengan mimik wajah yang serius.


“Iya ma ! tentu saja apa pun itu.” Jawab Nadia menanggapi ucapan sang mama.


“Dari kecil Sabrina sudah menjadi korban dari perpisahan mama dan papanya, di paksa tumbuh besar tanpa kasih sayang mama dan menjadi korban dari keegoisan kami orang tua.” Ucap sang mama mengungkapkan isi hatinya.


Tampak Nadia mendengar dan menyimak dengan wajah yang serius.


“Apa pun itu ! demi kebahagiaan Sabrina mama mohon sama kamu !” ucap sang mama sambil menyatukan kedua tangannya memohon kepada Nadia.


“Mama jangan seperti ini !” ucap Nadia berusaha mencegah sang mama tidak memohon seperti itu kepadanya.


“Mama mohon sama kamu sayang ! kali ini biarkan Sabrina bahagia.” Ucap sang mama lagi.


“Aku sama sekali tidak ada perasaan terhadap Ardi ! saat ini hubungan kita sudah tidak sama seperti dulu lagi… mama tenang saja Sabrina pasti akan bahagia bersama laki-laki seperti Ardi aku yakin itu !” ucap Nadia kepada sang mama.


“Aku tahu apa yang mama khawatirkan dan aku pastikan Ardi hanya mencintai istrinya sekarang yaitu Sabrina adikku.” Ucap Nadia sambil tersenyum ke arah sang mama.


“Terima kasih sayang !” ucap sang mama sambil memeluk Nadia.


“Seharusnya aku yang harus berterima kasih kepada mama karna kalau bukan karena mama aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang, jadi mama tidak perlu berterima kasih karena itu tidak pantas aku lah yang seharusnya berterima kasih sama mama ! terima kasih ma.” Ucap Nadia mengeratkan pelukannya.


“Iya sayang !” jawab sang mama sambil mengelus punggung Nadia lembut.


Kemudian sang mama pun melepaskan pelukannya.


“Kalian masuk dulu ! mama ke sana sebentar !” ucap mama Adelia kepada Nadia.


“Iya ma.” Ucap Nadia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Baru saja berjalan selangkah tiba-tiba mama Adelia menghentikan langkah kakinya.


“Ya ampun mama sampai lupa !” ucap sang mama sambil menepuk jidatnya.


“Ada apa ma ?” tanya Nadia khawatir.


“Mama sampai lupa kalau sedang memasak.” Ucap sang mama.


Kemudian sang mama pun hendak berjalan cepat masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Nad mama minta tolong ya ! kamu ke sana dan katakan kepada Ardi untuk datang ke sini bersama Sabrina.” Ucap sang mama.


“Iya ma.” Ucap Nadia menanggapi sang mama.


Nadia pun membawa tas koper miliknya dan juga milik Zahra lalu meletakkannya di ruang tamu.


“Sayang !” ucap Nadia memanggil Zahra.


“Iya mama ?” ucap Zahra menanggapi.


“Sayang … Ara di rumah sama nenek ya ! mama pergi sebentar !” ucap Nadia kepada Zahra.


“Mama mau ke mana ? Ara ikut !” ucap Zahra kepada sang mama.


“Di rumah saja ya ! mama Cuma sebentar kok !” ucap Nadia lagi.


“Ikut mama.” Ucap Zahra merengek ingin ikut bersama sang mama.


“Ya sudah kalau begitu kalau Ara ingin ikut… tapi tidak boleh nakal ya ! harus jadi nak yang baik oke !” ucap Nadia kepada sang putri.


“Oke mama.” Jawab si kecil Zahra.


Nadia pun tersenyum melihat tingkah pola sang putri.


“Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat !” ucap Nadia semangat.


Ibu dan anak tersebut pun melangkahkan kaki menyusuri jalanan aspal yang tidak terlalu besar tersebut, saat sampai di area persawahan Nadia dan juga Zahra kecil melewati jalanan kecil yang di cor dengan beton tersebut untuk sampai ke tempat di mana Ardi berada.


Setelah berjarak beberapa meter dari tempat Ardi berdiri si kecil Zahra pun menyadari sesuatu.


“Mama itu papa ?” tanya Zahra kepada Nadia sang mama.


“Iya… sayang kamu senang bertemu papa ?” tanya Nadia kepada sang putri.


“Iya ! Ara sangat senang.” Ucap Zahra menangguk semangat.


Kemudian Zahra kecil pun berlari ke arah pria yang di panggilnya papa tersebut.


“Papa !” teriak Zahra sambil kaki mungilnya berlari mendekat ke arah Ardi.


Ardi yang merasa kenal dengan suara tersebut seketika menoleh ke arah sumber suara.


“Zahra !” ucap Ardi tersenyum saat melihat dugaannya benar jika Zahra yang memanggilnya.


Ardi pun berjongkok sambil merentangkan tangannya menyambut kedatangan Zahra.


“Papa nakal ! papa sudah tidak sayang Ara lagi !” ucap Zahra seketika melengos dan tidak ingin memeluk Ardi saat sudah sampai di depan pria tersebut.


“Loh loh kenapa ? Ara tidak merindukan papa ?” tanya Ardi mengerutkan keningnya melihat tingkah si kecil Zahra.

__ADS_1


“Tidak ingin papa peluk ?” tanya Ardi lagi menggoda Zahra.


Mendengar ucapan Ardi seketika Zahra pun berubah pikiran dan melompat ke pelukan Ardi.


“Ara sangat merindukan papa ! mama bilang papa akan mengunjungi Ara tapi papa tidak pernah datang.” Ucap Zahra mengungkapkan isi hatinya.


“Maaf ya sayang ! belakangan ini papa sangat sibuk dan tidak sempat mengunjungi gadis kecil papa ini !” ucap Ardi mengelus punggung Zahra dengan lembut.


“Papa masih sayang Ara kan ? Ara tidak nakal kok.. tidak merepotkan mama dan juga Ara tidak pilih-pilih makan lagi.” Ucap Zahra bercerita kepada sang papa.


“Benarkah ?” tanya Ardi sembari melepaskan pelukannya dan menatap gadis kecil tersebut.


“Benar ! Ara tidak bohong ! papa tanya saja sama mama.” Ucap Zahra melihat ke arah sang mama.


“Benar kan ma ?” tanya Zahra kepada Nadia sang mama.


Ardi pun melihat ke arah Nadia seolah menunggu jawaban Nadia.


“Iya benar !” ucap Nadia menanggapi ucapan Zahra sambil tersenyum.


“Anak pintar ! papa sangat merindukanmu !” ucap Ardi lalu menggendong si kecil Zahra.


Di sisi lain…


Sabrina yang saat itu hampir sampai seketika menghentikan langkahnya saat melihat seorang anak kecil tengah berlari ke arah  Ardi sang suami sambil memanggilnya papa.


“Papa ? mas Ardi ?” ucap Sabrina kaget.


“Tunggu dulu ! itu kan Zahra ?” ucap Sabrina saat menyadari jika anak kecil tersebut adalah Zahra.


“Apa sebenarnya yang tidak aku ketahui ! kenapa Zahra memanggil mas Ardi dengan sebutan papa ? jangan-jangan mas Ardi dan wanita itu sebelumnya menikah dan Zahra adalah anak mereka ?” ucap Sabrina berbicara sendiri.


“Jika memang benar seperti itu berarti aku sama saja dengan wanita ular yang merebut papa dari aku dan mama ! tidak…tidak … aku bukan wanita seperti itu.” Ucap Sabrina melangkah mundur dan hendak pergi dari sana.


Namun saat melangkah mundur Sabrina menabrak seseorang dan nyaris jatuh beruntung orang tersebut sigap menangkap Sabrina.


“Loh mbak ?” ucap orang yang menangkap Sabrina tersebut.


“Mbak baik-baik saja ?” tanya orang yang bernama Joni tersebut.


“Tidak apa-apa ! aku baik-baik saja.” Ucap Sabrina tersenyum namun dibalik senyumannya tersimpan segurat kesedihan.


“Oh iya Jon ! aku minta tolong ya !” ucap Sabrina kepada Joni.


“Iya mbak boleh.” Ucap Joni.


Sabrina pun menyerahkan rantang makanan yang di bawanya tersebut kepada Joni.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2