
Sabrina dan juga Ziva tengah asyik mengobrol sampai menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
“Gue perhatikan semenjak tinggal di sini lo sedikit berbeda Sa !” ucap Ziva sembari mengeraskan suaranya agar Sabrina mendengarkan ucapannya.
“Beda apanya ? gue tetap Sabrina yang selama ini lo kenal kok ! tidak ada yang beda.” Ucap Sabrina menyangkal ucapan Ziva.
“Tapi gue lihat lo benar-benar berbeda dari Sabrina yang gue kenal selama ini !” ucap Ziva lagi.
“Apanya yang beda ?” tanya Sabrina penasaran dengan ucapan Ziva.
“Ya contohnya yang ini ! kalau dulu lo mana mau naik mobil beginian.” Ucap Ziva menjelaskan kepada Sabrina.
“Hahahaha…. Gue baru tahu rasanya ternyata seseru ini !” ucap Sabrina lagi menanggapi ucapan Ziva.
“Aku rasa bukan karena seru sih ! lebih kepada terpaksa karena… ya tahu sendiri lah kemampuan dia bagaimana.” Ucap Reyhan ikut menyela ucapan kedua wanita tersebut berniat menyindir Ardi laki-laki yang sekarang telah menjadi suami Sabrina.
“Mas !” ucap Sabrina menatap Reyhan tajam.
Melihat tatapan mematikan Sabrina seketika Reyhan memalingkan wajahnya ke arah lain guna menghindari tatapan Sabrina.
“Mas Rey jangan begitu lah ! nanti orangnya dengar !” ucap Ziva lagi.
Reyhan pun diam tidak menanggapi ucapan Ziva kepadanya.
“Tapi emang benar sih Sa ! gue sepertinya akan betah jika harus tinggal di sini !” ucap Ziva semangat.
“Iya kan ? gue bilang juga apa !” ucap Sabrina semangat menanggapi ucapan Ziva.
“Suami lo ada temannya nggak ?” tanya Ziva lagi kepada Sabrina.
“Kenapa emangnya ?” tanya Sabrina mengerutkan keningnya.
“Ya siapa tahu bisa buat gue !” ucap Ziva tersenyum nyengir.
“Dasar ya lo Zi ! tu mendingan sama mas Rey aja tuh.” Ucap Sabrina sambil menunjuk ke arah Reyhan.
Mendengar nama nya di sebut-sebut Reyhan pun seketika menatap ke arah Sabrina.
“Aku ke sini demi kamu ! bukan untuk Ziva.” Ucap Reyhan berkata jujur.
“Ye siapa juga yang mau sama mas ! mendingan aku perawan tua dari pada harus sama mas Rey !” ucap Ziva dengan tegas mendengar penolakan Reyhan tersebut.
“Silahkan !” ucap Reyhan enteng.
Ziva pun mendengus kesal mendengar ucapan Reyhan tersebut.
“Jangan-jangan kalian berdua nantinya berjodoh.” Ucap Sabrina menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan Ziva dan juga Reyhan.
__ADS_1
“Iiiii ogah !” ucap Ziva dengan ekspresi geli mendengar Sabrina mengatakan jika nanti dia dan Reyhan berjodoh.
“Siapa juga yang mau ! lebih baik aku menunggu Sabrina menjanda dari pada harus berjodoh sama kamu.” ucap Reyhan dengan santai tidak mau kalah.
“Mas !” ucap Sabrina menghentikan Reyhan berbicara sambil melototkan matanya menatap Reyhan.
Karena ucapan Reyhan tersebut terdengar seperti mendoakannya yang tidak baik.
“Iya maaf !” ucap Reyhan akhirnya kepada Sabrina.
Tiba-tiba mobil pun berhenti di tempat yang telah di sediakan untuk pengunjung pasar tersebut, dari sana sudah terdengar suara para pedagang saling bersahutan menjajakan dagangannya agar di beli oleh para pengunjung.
“Ini pasar ?” tanya Ziva kepada Sabrina penasaran.
Karena ini pertama kalinya dia melihat pasar tanpa deretan toko yang berjejer dengan aneka barang dagangannya, di sini para pedagang hanya menggunakan payung-payung yang berukuran besar dan barang dagangannya di taruh begitu saja di lantai dengan di alasi dengan kain atau terpal.
Suasana pasar cukup ramai karena di desa tersebut orang-orang hanya bisa membeli kebutuhan rumah tangga hanya di pasar tersebut, tidak ada warung atau toko-toko sembako di sekitar tempat tinggal mereka.
Kerena jarak dari rumah ke pasar cukup jauh biasanya orang-orang berbelanja untuk kebutuhan mereka beberapa hari sekaligus.
“Iya !” ucap Sabrina menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ziva tersebut.
“Sayang ayo turun kita sudah sampai !” ucap Ardi yang saat itu sudah keluar dari mobil.
Mendengar ucapan sang suami Sabrina pun menganggukkan kepalanya lalu turun dengan di bantu oleh Ardi sang suami.
“Zi lo bisa turun nggak ?” tanya Sabrina kepada Ziva.
Sedangkan Reyhan sudah turun dari tadi.
Ziva masih berusaha untuk mencari cara untuk turun namun jika harus melompat seperti yang Reyhan lakukan dia sendiri tidak berani.
Melihat Ziva yang tidak kunjung turun Sabrina memutuskan untuk meminta tolong kepada Reyhan untuk membantu Ziva turun dari mobil tersebut.
“Mas Rey bantuin dong Ziva nya !” ucap Sabrina kepada Reyhan.
Reyhan yang mendengar Sabrina memintanya untuk membantu Ziva turun hanya diam tidak membantah setelahnya dia tampak bergerak mendekat ke arah Ziva berniat hendak membantunya turun.
“Ayo !” ucap Reyhan mengulurkan tangannya kepada Ziva.
Dengan sedikit ragu-ragu tampak Ziva berusaha meraih tangan Reyhan tersebut agar dia bisa turun dengan mudah.
Beberapa saat kemudian Ziva pun berhasil turun dengan mudah melalui bantuan dari Reyhan.
Mereka berempat pun berjalan masuk ke dalam pasar sembari melihat-lihat para pedagang yang menjajakan barang dagangan yang hendak mereka butuh kan untuk acara nanti malam.
Sabrina berjalan berdampingan dengan Ardi sang suami, sepanjang jalan Sabrina tampak tersenyum ramah kepada para pedagang yang menyapa mereka untuk menawarkan barang dagangannya.
__ADS_1
“Sa lo lihat deh ! lucu banget tahu !” ucap Ziva menarik tangan Sabrina.
Seketika Sabrina pun menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah yang di maksud oleh Ziva.
“Hmmm lucu banget Zi !” ucap Ziva berjongkok di depan lapak sebuah pedagang yang menjajakan sebuah mainan.
Tampak ke dua wanita tersebut sangat antusias melihat sebuah mainan kapal yang bisa berjalan sendiri dengan bantuan panas api.
“Bisa jalan gitu ya ?” tanya Ziva penasaran.
Kemudian pedagang mainan tersebut menjelaskan prinsip kerjanya hingga kapal mainan tersebut bisa berjalan.
“Sayang kamu mau beli ?” tanya Ardi kemudian.
“Memangnya boleh !” tanya Sabrina dengan ekspresi wajah memohon.
“Boleh !” ucap Ardi tersenyum menanggapi ucapan Sabrina.
“Hanya kapal mainan lagaknya sombong amat !” ucap Reyhan menatap sinis kearah Ardi.
“Mas mau dua ya !” ucap Ardi kepada pedagang tersebut.
“Siap mas !" ucap pedagang tersebut semangat karena mereka membeli dagangannya.
“Kamu juga mau ?” tanya Ardi mengejek Reyhan.
Mendengar ucapan Ardi tersebut seketika Reyhan menjadi kesal dan berjalan lebih dulu meninggalkan Sabrina Ardi dan juga Ziva di belakang.
“Cuma mainan ! yang asli juga gue mampu membelikan untuknya !” ucap Reyhan kesal sambil berbicara pelan.
“Terima kasih mas !” ucap Sabrina dan juga Ziva kepada pedagang tersebut.
Kemudian mereka bertiga pun menyusul Reyhan yang sudah lebih dulu berjalan dari belakakang.
“Mau beli ayam ?” tanya Ardi kepada Sabrina dan juga Ziva saat mereka melewati pedagang ayam.
“Iya boleh !” ucap Sabrina menanggapi ucapan Ardi.
Kemudian mereka pun memutuskan untuk membeli ayam untuk mereka bakar-bakar nanti malam.
“Ikan sepertinya juga enak !” ucap Reyhan tampa sadar.
“Ikan nggak usah deh mas ! toh di kolam banyak jika mau nanti tinggal di pancing saja !” ucap Sabrina menanggapi ucapan Reyhan.
“Jika kamu mau nanti kita bisa langsung memancing !” ucap Ardi kepada Reyhan.
Tanpa sadar mendengar ucapan Ardi Reyhan langsung menganggukkan kepala seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Kemudian mereka pun memutuskan untuk melanjutkan kembali mencari dan membeli barang yang mereka butuh kan lainnya.
Bersambung….