
Sabrina tengah duduk di sebuah kursi kayu yang berada di pinggir danau sembari memandang danau dengan tatapan yang kosong, pemandangan di sekitar danau cukup cantik akan tetapi Sabrina tampak tidak bersemangat, tanpa bisa di cegah tiba-tiba saja bulir air mata menetes di pipinya.
“Sa !” panggil Ziva yang baru saja datang setelah dihubungi Sabrina sebelumnya.
Ya saat masih di perjalanan Sabrina menghubungi Ziva untuk datang menemuinya.
Mendengar suara Ziva Sabrina seketika berdiri dan memeluk sahabatnya tersebut.
“Ada apa ? apa yang terjadi ?” tanya Ziva heran tiba-tiba saja Sabrina memeluknya sambil menangis.
Sabrina tidak mampu berkata-kata yang dilakukannya hanyalah menangis di bahu sahabatnya tersebut.
Melihat hal tersebut Ziva tidak lagi bertanya dan membiarkan Sabrina meluapkan emosinya sambil menepuk pelan punggung sahabatnya tersebut untuk menenangkan Sabrina.
“Gue di bohongi Zi !” ucap Sabrina melepaskan pelukannya saat tangisnya sudah sedikit mereda.
“Di bohongi bagaimana ?” tanya Ziva kaget mendengar ucapan Sabrina.
“Mereka semua jahat ! mereka kompak menutupi kebenaran dari gue !” ucap Sabrina.
“Tunggu… tunggu ! gue benar-benar tidak mengerti dengan apa yang lo katakan.” Ucap Ziva kepada Sabrina.
Kemudian Ziva pun meminta Sabrina untuk duduk di kursi kayu tersebut.
“Oke !” ucap Ziva kepada Sabrina saat dia dan juga Sabrina sudah sama-sama duduk di kursi kayu tersebut.
“Sekarang lo bisa ceritakan apa yang terjadi ! kenapa lo bisa di sini dan di mana suami lo !” ucap Ziva bertanya kepada Sabrina.
“Gue ingin berpisah !” ucap Sabrina tiba-tiba dengan yakin kepada Ziva.
“Ha ?” ucap Ziva melongo tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Sabrina.
“Lo gila ! pernikahan lo baru seumur jagung dan tiba-tiba ingin bercerai.” Ucap Ziva lagi.
“Gue di bohongi ! semua orang berbohong dan menutupi kebenaran dari gue termasuk nyokap gue sendiri.” Ucap Sabrina.
“Dibohongi bagaimana ?” tanya Ziva lagi.
“Faktanya mas Ardi memiliki wanita lain dan mereka juga mempunyai anak Perempuan.” Ucap Sabrina.
“Ha !” ucap Ziva tak percaya.
__ADS_1
“Nggak gue yakin lo pasti salah paham ! orang suami lo bucin banget sama lo… pasti ini hanya salah paham gue yakin.” Ucap Ziva lagi.
“Gue dengar sendiri Zi Zahra manggil mas Ardi dengan sebutan papa.” Ucap Sabrina lagi.
“Lo kenal anak Perempuan itu ?” tanya Ziva.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ziva.
“Lo tahu wanita siapa ?” tanya Sabrina kepada sahabatnya tersebut.
“Siapa ?” tanya Ziva penasaran.
“Anak angkat nyokap gue !” ucap Sabrina lagi kemudian tiba-tiba tangisnya kembali pecah.
Ziva pun kembali memeluk sahabatnya tersebut.
“Dan mama juga menutupi fakta itu dari gue.” Ucap Sabrina lagi.
“Lo yang sabar ya.” Ucap Ziva mengelus punggung Sabrina.
“Gue nggak mau Zi merenggut kebahagiaan Zahra ! gue tahu persis bagaimana rasanya menjadi Zahra karena gue juga pernah mengalaminya.” Ucap Sabrina.
“Gue nggak mau jadi manusia yang mencuri kebahagiaan manusia lain ! gue nggak mau.” Ucap Sabrina kemudian melepaskan pelukannya.
“Lo yakin dengan keputusan lo ?” tanya Ziva memastikan.
“Bisa jadi semua hanya salah paham dan mungkin memang benar apa yang lo katakan itu dan bisa jadi saat ini mereka sudah berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.” Ucap Ziva lagi mengingatkan Sabrina.
“Nggak mungkin ! dulu saat gue belum bertemu dengan nyokap gue sempat tertarik dengan sebuah rumah dan mas Ardi dengan tegas untuk melarang gue ke sana dan lo tahu rumah itu rumah siapa ?” tanya Sabrina.
“Siapa ?” tanya Ziva.
“Nyokap gue ! ya walaupun saat itu gue belum tahu kalau penghuni rumah tersebut adalah nyokap gue.” Ucap Sabrina.
“Apa coba alasannya melarang gue ke sana kalau bukan menyembunyikan fakta dia mempunyai wanita lain.” Ucap Sabrina lagi kepada Ziva.
“Dan semua orang menutupinya termasuk nyokap gue sendiri.” Ucap Sabrina lirik sambil menatap jauh hamparan danau yang luas.
“Yang sabar ya.” Ucap Ziva prihatin kemudian memegang tangan sahabatnya tersebut memberi kekuatan.
“Gue dukung apapun keputusan lo ! tapi gue hanya ingin mengingatkan satu hal sama lo jangan terlalu gegabah mengambil keputusan yang nantinya akan mendatangkan penyesalan buat lo, sebaiknya lo pastikan kembali kebenarannya setelahnya baru lo putuskan dan apapun keputusan lo nantinya gue akan selalu dukung lo.” Ucap Ziva panjang lebar mengingatkan Sabrina.
__ADS_1
Sabrina pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ziva.
“Thanks Zi.” Ucap Sabrina lirih sambil menatap sendu kearah Ziva.
Ziva pun tersenyum lirih menatap Sabrina sahabatnya tersebut, ada rasa iba dan kasihan saat dia menatap Sabrina.
“Lo sudah makan belum ?” tanya Ziva mengalihkan pembicaraan.
Sabrina pun menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ziva.
“Kita makan yuk ! gue laper banget ni !” ucap Ziva.
“Lo duluan aja gue masih mau di sini.” Tolak Sabrina.
“Lo tahu tidak kisah horror penunggu danau ini !” ucap Ziva menakuti Sabrina sambil berbisik dan menatap sekeliling berusaha menakuti Sabrina agar mau ikut dengannya.
“Dari tadi mereka sudah mondar mandir di sini !” ucap Sabrina santai menanggapi ucapan Ziva.
“Udah ah yuk pergi ! gue laper banget nih.” Ucap Ziva mengalihkan pembicaraan.
Ziva pun bangkit dari duduknya dan menarik tangan Sabrina agar ikut dengannya.
Setelah Ziva memaksa nya akhirnya Sabrina pun mau mengikuti Ziva dan meninggalkan tempat tersebut untuk mencari tempat makan, kedua sahabat tersebut pun pergi menggunakan mobil Sabrina dengan dikemudikan oleh Ziva.
Di sisi lain Ardi baru saja sampai di kediamannya dengan langkah gontai dia pun menaiki anak tangga rumah panggung tersebut, di depan pintu sudah berdiri mbok Ya dan juga sang ibu yang duduk di kursi roda.
“Bagaimana mas ? mbak Sabrinanya mana ?” tanya mbok Ya kepada Ardi sambil melihat ke halaman rumah.
Ardi pun menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan mbok Ya.
Sang ibu yang mendengar jawaban sang putri tiba-tiba saja meneteskan air mata, walaupun sang ibu tidak pernah mengatakan tapi dari raut wajahnya beliau juga merasa kehilangan sosok Sabrina.
Ardi pun berlalu masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar yang dia tempati bersama Sabrina, mbok Ya ikut sedih sambil menatap punggung Ardi yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri tersebut.
Saat sampai di dalam kamar tersebut Ardi duduk di pinggir ranjang sambil mengacak kasar rambutnya.
“Sayang ke mana mas harus mencarimu ?” ucap Ardi lirih.
Kemudian dia kembali mengeluarkan ponsel genggamnya dan untuk ke sekian kalinya dia mencoba kembali menghubungi Sabrina dengan harapan sang istri mengangkat panggilannya.
Namun keberuntungan tidak berpihak kepadanya karena panggilan tersebut tidak dapat tersambung setelah Ardi beberapa kali mencoba menghubungi nomor sang istri.
__ADS_1
Bersambung…