
Ardi tersenyum karena berhasil membuat Sabrina terdiam, sebenarnya dia juga berpikiran yang sama dengan Sabrina mereka juga tidak seharusnya menikah karena memang tidak ada yang terjadi di antara mereka.
Namun dia juga tidak bisa membantah ucapan sang ayah karena dia juga merasa nama baik Sabrina juga menjadi tanggung jawabnya, bagaimana jadinya jika orang-orang mengetahui bahwa mereka telah tidur bersama namun tidak menikah.
“Dasar cabul !” ucap Sabrina.
Ardi pun terkekeh melihat tingkah Sabrina.
Mobil melaju membelah jalan desa yang cukup sepi dari kendaraan kiri kanan jalan di kelilingi oleh sawah-sawah dengan tanaman padi yang sudah menguning, di sana juga terdapat kebun-kebun yang di tumbuhi oleh aneka jenis buah dan juga sayur-mayur.
Sabrina membuka jendela mobil dan menengadah kan kepala kearah luar jendela sambil menghirup udara yang masih terasa segar dan asri.
Beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka pun sampai dirumah, Ardi pun menghentikan mobilnya tepat di sebelah mobil milik Sabrina.
“Mobilku ada di sini ?” ucap Sabrina heran saat melihat mobilnya yang tadi dia tinggal di tempat dia kecelakaan sebelumnya sudah parkir cantik di depan rumah.
Ardi pun mengangguk menanggapi ucapan Sabrina.
“Mbak baik-baik saja ? aku pikir mbak sudah pulang ke rumah, aku sangat kaget saat dapat kabar kalau mbak kecelakaan, bagaimana keadaan mbak sekarang ?” tanya Sari yang saat itu buru-buru berlari saat melihat mobil berhenti di depan rumah.
“Hehehehe… aku baik-baik saja hanya sedikit luka ringan.” Ucap Sabrina yang saat itu turun sembari di tuntun dari mobil dengan dibantu oleh Sari.
“Awas mbak hati-hati.” Ucap Sari khawatir.
“Sar tolong antar ke kamar !” ucap Ardi kepada Sari.
“Iya mas.” Ucap Sari menganggukkan kepalanya.
Kemudian dengan pelan-pelan dia pun memapah Sabrina menaiki anak tangga menuju ke dalam rumah.
“Bagaimana keadaanya ?” tanya Farida kepada Sari sang putri.
“Hanya luka ringan bi.” Ucap Sabrina tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu ! Sari bawa mbakmu ke kamar.” Ucap sang mama.
“Iya ma.” Ucap Sari memapah Sabrina.
“Kenapa balik lagi sih ?” ucap bu Siti yang saat itu tiba-tiba saja datang di belakang bibi Farida sang adik ipar.
“Mbak nggak boleh bicara seperti itu !” nasihat sang adik.
Namun Bu Siti terlihat tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh adik iparnya tersebut seketika dia langsung saja melengos pergi.
“Mbak… mbak.” Ucap Farida menggelengkan kepalanya tidak habis pikir melihat tingkah sang kakak ipar yang dengan terang-terangan memperlihatkan sikap tidak sukanya terhadap Sabrina.
__ADS_1
“Ardi ?” panggil panggil sang bibi saat melihat Ardi menaiki anak tangga hendak masuk ke dalam rumah.
“Bibi ?” ucap Ardi menghentikan langkah kakinya saat berada tepat di depan sang bibi.
“Bagaimana kejadiannya ?” tanya sang bibi kepada Ardi.
Ardi hanya menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia juga tidak mengetahui penyebab kecelakaan tersebut.
“Ya sudah kalau begitu coba nanti bawa Sabrina ke tukang urut untuk memastikan lagi dia baik-baik saja.” Ucap sang bibi lagi.
“Iya bi.” Ucap Ardi menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah kalau begitu sana !” ucap sang bibi mengelus lengan Ardi lalu melangkahkan kakinya kembali menuju ke rumahnya.
Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang bibi lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Sar !” panggil Ardi saat dia muncul di depan pintu kamar yang di tempati oleh Sabrina.
“Iya mas ?” jawab Sari menoleh.
“Mas harus kembali bekerja ! tolong di jaga ya kalau ada apa-apa panggil mas.” Ucap Ardi kepada sang adik.
“Iya mas.” Ucap Sari mengangguk paham.
“Mbak tahu aku sangat khawatir sekali saat selesai berbelanja namun aku tidak melihat mobil mbak di tempat tadi.” Ucap Sari bercerita.
“Maaf ya Sar !” ucap Sabrina sambil menghembuskan napas.
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Sabrina, Sari pun mengangguk menanggapi ucapan permintaan maaf Sabrina.
“Mbak tahu saat aku dapat kabar jika mbak kecelakaan aku buru-buru mengabari mas Ardi, lalu mbak tahu apa yang terjadi ?” ucap Sari antusias.
“Apa ?” tanya Sabrina penasaran.
“Mbak sangat beruntung tahu ! mas Ardi sangat khawatir mendengar kabar mbak kecelakaan itu tandanya mas Ardi benar-benar menyayangi mbak.” Ucap Sari tersenyum.
“Aku kapan ya bisa menemukan laki-laki sebaik mas Ardi !” ucap Sari kepada Sabrina.
“Ha ? apa iya yang dikatakan Sari ? bagaimana bisa ? kami saja baru pertama kali bertemu bagaimana mungkin dia menyukaiku ? tidak tidak ini tidak mungkin.” Ucap Sabrina dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
“Mbak kenapa ?” tanya Sari yang merasa aneh melihat tingkah Sabrina.
“Eh ? " ucap Sabrina kaget.
“Ada apa ?” tanya Sari lagi.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa.” Ucap Sabrina menanggapi pertanyaan Sari.
“Oh…eh iya mbak !” ucap Sari lagi.
“Kenapa ?” tanya Sabrina.
“Mbak istirahat saja dulu ! aku pulang sebentar mungkin saja mama butuh aku di rumah kalau ada apa-apa mbak panggil aku saja.” Ucap Sari menjelaskan kepada Sabrina.
“Iya !” ucap Sabrina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Sari bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
“Sari !” panggil Sabrina saat Sari hendak menutup pintu kamar tersebut.
“Iya kenapa mbak ?” tanya Sari.
“Terima kasih.” Ucap Sabrina tersenyum.
“Iya.” Ucap Sari sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Sabrina lalu dia pun menutup pintu kamar tersebut dan meninggalkan Sabrina seorang diri.
Sabrina pun berjalan dengan sedikit pincang menuju ke arah jendela.
“Wah bagus sekali !” ucap Sabrina tampak kagum melihat pemandangan dari jendela tersebut.
Dari sana tampak halaman belakang yang cukup luas dengan aneka jenis tanaman sayuran yang tampak sangat terawat, pohon-pohon besar yang membuat pasokan oksigen di sana berlimpah, di sana juga tampak kolam ikan yang sangat luas dengan gazebo yang di bangun di atasnya, tampak sangat indah membuat siapa pun akan betah
berlama-lama di sana.
“Hmmmm.” Ucap Sabrina menghirup udara segar dari jendela lalu dia tersenyum senang menatap pemandangan yang ada di depannya tersebut.
Tiba-tiba mimik wajah Sabrina berubah sendu.
“Apa papa mengkhawatirkan aku ?” ucap Sabrina berbicara sendiri sambil menatap jauh ke depan.
“Aku rasa papa sama sekali tidak akan khawatir jika aku tidak di rumah ? mungkin saja jika aku mati papa tetap tidak akan peduli.” Ucap Sari lagi.
“Mama ! mama apa kabar ? apa mama merindukanku ? iya aku harus mencari keberadaan mama.” ucap Sabrina lagi
“Tapi ke mana aku harus mencari ? sedangkan aku hanya punya foto mama yang sudah sangat usang dan buram.” Ucap Sabrina lagi.
“Pasti ada jalan aku harus semangat aku harus menemukan mama.” Ucap Sabrina memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Sabrina pun menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan setelah itu dia kembali ke ranjang dengan langkah yang tertatih untuk beristirahat karena kakinya mulai terasa sakit.
Bersambung….
__ADS_1