Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 17


__ADS_3

Ardi mempercepat langkahnya menyusuri jalan yang kira-kira di lewati oleh Sabrina saat pergi, sepanjang jalan mata Ardi liar melihat ke sekeliling untuk mencari sosok Sabrina yang saat ini belum pulang ke rumah.


 


Tidak lupa Ardi juga bertanya kepada orang-orang apakah pernah melihat Sabrina berjalan ke arah rumah namun jawaban mereka sama yaitu hanya melihat Sabrina saat pergi tidak melihatnya saat akan kembali ke rumah.


 


Ardi semakin cemas jika prasangkanya benar kalau Sabrina tersesat dan tidak tahu tahu jalan kembali menuju ke rumah karena Ardi tahu jika Sabrina baru pertama kalinya ke sana.


 


Di saat hampir putus asa tidak juga menemukan keberadaan Sabrina Ardi pun mengusap kasar wajahnya dia bingung harus ke mana lagi mencari Sabrina wanita yang saat ini sudah menjadi tanggung jawabnya tersebut.


 


Tanpa di sadari Ardi melihat ke sebuah rumah yang tadi sempat membuat Sabrina penasaran.


 


“Apa dia ke sana ?” ucap Ardi berbicara kepada dirinya sendiri.


 


“Arghhhh…” teriak Ardi putus asa.


 


Dengan Langkah yang agak sedikit berat Ardi pun memutuskan untuk mencari Sabrina ke sana, walau bagaimana pun dia tidak boleh mengabaikan rumah tersebut bisa saja Sabrina memang benar ada di sana.


 


Langkah demi Langkah dia menelusuri jalan menuju ke rumah tersebut hingga pada akhirnya di saat dia hampir sampai di sana sosok yang membuatnya cemas tampak berjalan keluar dari rumah tersebut hal tersebut membuat Ardi mengurungkan niatnya ke sana dan memutuskan untuk menunggu Sabrina dari tempat yang tidak terlalu jauh.


 


Sementara itu Sabrina berjalan menjauh dari rumah tersebut tanpa ada rasa bersalah telah membuat orang di rumah cemas.


 


“Aku sudah katakan jangan coba-coba untuk ke sana ! Apa memang begini sifatmu aslimu ?  tidak bisakah sekali saja tidak membuat orang lain khawatir denganmu !” ucap Ardi memegang lengan Sabrina sedikit kuat.


 


Perasaan Ardi saat ini bercampur aduk antara marah karena Sabrina tidak mendengarkan ucapannya dan juga lega karena bisa menemukan wanita tersebut.


 


Sabrina spontan kaget karena tiba-tiba saja seseorang memegang tangannya dengan kuat.


 


“Sakit !” ucap Sabrina sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Ardi.


 


“Apa yang aku katakan sama sekali tidak berarti bagimu ha !” ucap Ardi masih berusaha menahan emosinya.


 


“Lepas ! kamu sangat menyakitiku Ardi.” Ucap Sabrina menahan sakit di lengannya.


 


Ardi pun melepaskan cengkraman tangannya saat melihat Sabrina benar-benar merasa kesakitan akibat ulahnya.


 


“Kamu tidak berhak melarang ku !” ucap Sabrina ikut emosi karena Ardi menyakitinya.


 


“Kamu bilang aku tidak punya hak atasmu ? kamu salah besar justru aku sangat berhak atasmu !” ucap Ardi lagi.


 

__ADS_1


“Hak apa yang kamu maksud ! aku berhak menentukan hidupku ke mana aku pergi dan di mana aku tinggal akulah yang paling berhak atas diriku sendiri bukan kamu !” jawab Sabrina lantang.


 


“Aku sangat berterima kasih karena kamu telah menyelamatkanku ! tapi jangan karena hal itu kamu merampas kebebasanku.” Ucap Sabrina lagi.


 


“Karena kamu itu istriku ! jadi jangan coba-coba mengabaikan ucapanku paham !” Ucap Ardi menegaskan.


 


Sabrina pun seketika terdiam ada secuil rasa bahagia jauh di dalam lubuk hatinya saat mendengar pria yang berada di depannya dengan jelas mengakui kalau dia istrinya, ini pertama kalinya Sabrina merasa sangat dihargai.


 


“Ayo pulang !” ucap Ardi kepada Sabrina.


 


Sabrina pun menurut tetapi dia hanya diam sambil mengelus lengannya yang masih terasa sakit, dia berjalan di belakang sedang akan Ardi sudah lebih dulu berjalan di depan.


 


“Apa sangat sangat sakit ?” tanya Ardi tiba-tiba saja menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arah Sabrina.


 


“Ha ?” ucap Sabrina menanggapi pertanyaan Ardi.


 


“Lenganmu ! apa aku terlalu menyakitinya ?” tanya Ardi kepada Sabrina.


 


“Menurutmu ? memar begini tidak mungkin tidak sakit !” ucap Sabrina jutek lalu memilih berjalan mendahului Ardi.


 


Ardi hanya diam dan membiarkan Sabrina berjalan lebih dulu di depannya.


 


 


“Loh mbak dari mana saja kenapa baru sampai di rumah ?” tanya Sari yang saat itu juga masuk ke dapur.


 


“Tidak ke mana-mana hanya berkunjung ke rumah yang di dekat sungai sana.” Jawab Sabrina singkat.


 


“Ha jangan bilang ke rumah mbak Nadia !” ucap Sari kaget.


 


“Iya ! kamu tahu ternyata ibu-ibu yang kemarin hampir aku tabrak ternyata tinggal di sana.” Ujar Sabrina bercerita.


 


“Apa terjadi sesuatu saat mbak ke sana ? aku yakin mereka sudah tahu jika mbak anggota keluarga ini.” Ucap Sari lagi.


 


“Memangnya ada apa ? apa ada masalah ? tapi tantenya baik kok ramah lagi, aku juga di bolehin untuk berkunjung kembali ke sana.” Ucap Sabrina lagi.


 


“Apa mas Ardi tahu mbak ke sana.” Tanya Sari was was.


 


“Tahu kok.” Ucap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


 


“Eh tunggu dulu sebenarnya ada apa sih ? kenapa aku tidak boleh ke sana ? mereka baik kok tidak ada yang aneh.” Tanya Sabrina lagi kepada Sari.


 


“Maaf mbak aku harus segera kembali, aku sangat senang mbak baik-baik saja nanti kita sambung lagi ngobrolnya.” Ucap Sari kepada Sabrina lalu dia pun buru-buru pergi dari sana untuk menghindari menjawab pertanyaan Sabrina.


 


“Ada apa sih kenapa semua orang jadi aneh begini ? kenapa aku tidak boleh ke sana ?” ucap Sabrina bertanya-tanya sambil menatap punggung Sari yang mulai menghilang dari balik pintu.


 


Sari pun hendak melangkahkan kakinya meninggalkan dapur namun hal itu dia urungkan saat mendengar suara seseorang.


 


“Dari mana kamu ?” ucap bu Siti sang mertua yang baru saja datang bersama dengan mbok Ya.


 


“Dari itu …di sana.” Ucap Sabrina ragu sambil menunjuk ke arah dia tadi pergi karena dia bingung harus menjawab apa.


 


“Buat repot orang saja.” Ucap bu Siti sang mertua kepada Sabrina lalu berlalu dari sana.


 


“Mbak bisa ikut mbok sebentar ?” ucap mbok Ya kepada Sabrina.


 


“Iya mbok.” Ucap Sabrina menanggapi ucapan mbok Ya.


 


“Mari mbak.” Ucap mbok Ya kepada Sabrina ramah.


 


Kemudian Sabrina pun mengikuti Langkah kaki mbok ya dari belakang menuju ke arah sumur tua yang ada di halaman belakang rumah tersebut.


 


“Ha ?” ucap Sabrina kaget tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh mbok Ya.


 


“Semua ini ?” tanya Sabrina lagi kepada mbok Ya.


 


“Iya mbak… mbak ya mbak mbok Ya tidak bisa bantu karena nanti ibu akan marah.” Ucap mbok Ya sendu.


 


Dia merasa kasihan dengan Sabrina sedari awal bu Siti sang majikan terang-terangan tidak menyukai gadis tersebut.


 


“Apa tidak ada mesin cuci mbok di sini ?” tanya Sabrina kepada mbok Ya.


 


“Tidak ada mbak, di sini biasanya kalau mencuci ya manual seperti ini tidak menggunakan mesin cuci.” Terang mbok Ya kepada Sabrina.


 


Ya di depan Sabrina ada tumpukan baju kotor yang lumayan banyak, tugas Sabrina dari sang mertua saat ini adalah mencuci pakaian kotor Ardi, biasanya semua pakaian kotor Ardi dan juga kedua orang tuanya di cuci oleh mbok Ya.


 


Saat ini tugas mbok Ya di ringankan dengan tidak lagi mencucikan pakaian kotor Ardi dan hal itu dibebankan kepada Sabrina sang istri.

__ADS_1


 


Bersambung….


__ADS_2