
Dengan ekspresi wajah yang tampak khawatir dengan istri bosnya tersebut, Joni pun segera mengambil rantang makanan tersebut dari tangan Sabrina.
“Tolong berikan sama mas Ardi ya.” Ucap Sabrina kepada Joni.
“Mbak yakin baik-baik saja ?” tanya Joni lagi kepada Sabrina memastikan.
“Iya aku tidak apa-apa tidak usah khawatir !” Ucap Sabrina tersenyum .
“Baiklah kalau begitu permisi ya mbak.” Ucap Joni pamit.
“Iya.” Jawab Sabrina sambil tersenyum.
Saat itu juga Sabrina pun berlalu pergi dari sana dengan perasaan yang bercampur aduk, dia merasa kecewa marah dan juga di bohongi bahkan oleh sang mama karena hanya dia yang tidak tahu apa-apa seperti orang bodoh, juga merasa bahwa dia tidak lebih baik dari istri ke dua sang papa yang hadir di tengah-tengah Ardi dan juga Nadia bahkan Zahra.
Di sisi lain…
“Kalian kapan datang ?” tanya Ardi kepada Nadia.
“Baru saja.” Ucap Nadia menanggapi pertanyaan Ardi.
“Hmmmmm.” Ucap Ardi menganggukkan kepala.
“Oh iya hampir lupa tadi mama pesan kamu dan juga Sabrina makan siang di rumah ! mama sudah masak banyak hari ini.” Ucap Nadia.
“Baiklah nanti kami akan ke sana ! “ ucap Ardi sambil melihat ke arah jalan yang biasa di lewati oleh Sabrina jika dia ke sana.
“Kamu lagi menunggu siapa ?” tanya Nadia.
“Istriku ! harusnya dia sudah sampai di sini.” Ucap Ardi lagi sambil menurunkan Zahra dari gendongannya.
Dari arah yang sama Ardi melihat Joni berjalan ke arahnya tengah membawa rantang makanan di tangannya.
“Mas !” ucap Joni sambil menyerahkan rantang makanan tersebut kepada Ardi.
“Kok bisa kamu yang membawa ?” tanya Ardi masih mencari keberadaan sang istri.
“Oh barusan mbak Sabrina ada di sini ! tapi barusan buru-buru pulang.” Ucap Joni menjelaskan.
“Pulang ? kenapa ?” tanya Ardi mengerutkan keningnya.
Joni pun menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ardi karena dia juga tidak tahu alasan kepada istri dari bosnya tersebut buru-buru pergi dari sana.
“Apa karena aku dan Zahra ada di sini ?” ucap Nadia menyela.
__ADS_1
Ardi pun menatap ke arah Nadia dan Zahra sesaat kemudian dia pun terdiam.
“Mungkin saja Sabrina sedang tidak enak badan.” Ucap Ardi sambil mengelus puncak kepala Zahra.
Nadia pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi.
“Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu, jangan sampai tidak datang nanti mama pikir pesannya tidak aku sampaikan.” Ucap Nadia kepada Ardi.
Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Nadia.
“Yuk sayang kita pulang.” Ucap Nadia mengulurkan tangannya kepada Zahra.
Zahra pun memegang tangan sang mama.
“Papa Ara pulang ya .” Ucap Zahra kepada Ardi.
“Iya sayang.” Ucap Ardi menanggapi ucapan Zahra sambil tersenyum.
“Hati-hati dan tidak boleh nakal oke !” ucap Ardi kepada si kecil Zahra.
“Oke !” ucap Zahra tersenyum sambil mengangkat jempol mungilnya.
Nadia pun melangkahkan kaki meninggalkan Ardi sambil memegang tangan sang putri.
“Tadi istriku bilang apa ?” tanya Ardi kepada Joni yang saat itu masih berdiri di dekatnya.
“Ada apa sebenarnya ?” tanya Ardi sambil berpikir.
“Apa terjadi sesuatu ?” ucap Ardi bertanya-tanya sambil menatap Joni.
Joni hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ardi karena memang dia sendiri pun tidak tahu jawabannya.
Kemudian Ardi pun mengeluarkan ponsel miliknya dan mencoba untuk menghubungi sang istri beberapa kali namun tidak ada jawaban, tidak puas Ardi pun mencoba kembali menghubungi sang istri tetapi kali ini panggilannya ditolak dan di alihkan ke operator seluler.
“Ada apa sebenarnya ?” ucap Ardi tidak mengerti.
Di sisi lain Sabrina tengah mengemas pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas koper miliknya, setelah semua di rasanya beres Sabrina pun menutup resleting koper tersebut dan membawanya ke luar dari kamar yang selama ini dia dan Ardi tempati.
“Mbak mau ke mana ?” tanya mbok Ya yang saat itu baru saja keluar dari kamar sang mertua sambil mendorong kursi roda sang majikan.
“Mbok Ya !” ucap Sabrina sedikit kaget.
“Mbak mau ke mana dengan tas pakaian begitu ?” tanya mbok Ya kepada Sabrina.
__ADS_1
“Eh ini.” Ucap Sabrina melihat ke arah koper miliknya.
“Aku harus pergi mbok !" ucap Sabrina tersenyum ketir.
Kemudian Sabrina pun berjalan ke arah mbok Ya dan berjongkok mensejajar kan tingginya dengan sang mertua yang duduk di kursi roda.
“Bu !” ucap Sabrina memegang tangan sang mertua.
Tampak sang mertua menatap Sabrina yang sedang berjongkok di depannya.
“Aku minta maaf kalau sudah menyakiti hati ibu ! maafkan aku bu.” Ucap Sabrina dengan wajah sendunya.
Kemudian Sabrina menarik napas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan dan tersenyum menatap sang mertua.
“Ibu harus sembuh.” Ucap Sabrina tersenyum kepada sang mertua.
Sabrina pun berdiri dan menatap ke arah mbok Ya.
“Mbok titip ibu ya !” ucap Sabrina kepada mbok Ya.
Kemudian tanpa berkata-kata lagi Sabrina pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan sang mertua dan mbok Ya yang berdiri dengan banyak pertanyaan.
Mbok Ya tampak semakin bingung dengan sikap Sabrina, dia hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Sabrina.
“Apa yang sebenarnya terjadi ?” tanya mbok Ya di dalam hati sambil menatap punggung Sabrina.
Sang mertua tampak ingin mengatakan sesuatu namun hal tersebut tidak bisa dia lakukan, matanya tampak berkaca-kaca hingga akhirnya air mata tersebut jatuh di pipinya.
Setelah memasukkan koper miliknya ke dalam bagasi mobil Sabrina pun menutup kembali pintu bagasi mobil tersebut, Sabrina melangkahkan kakinya menuju pintu mobil di sisi kemudi lalu membuka pintu mobil tersebut.
Sabrina masuk ke dalam mobil lalu menutup kembali pintu mobil tersebut dan mengemudikan mobil tersebut menjauhi kediaman sang mertua.
“Dasar bodoh.” Ucap Sabrina sambil memukul stir mobil tersebut meluapkan emosinya.
“Sabrina lo bodoh ! mau-maunya lo setuju menikah dengan pria yang baru lo kenal seperti laki-laki itu tanpa mencari tahu masa lalunya terlebih dahulu.” Ucap Sabrina mengumpat dirinya sendiri.
“Sekarang gue harus bagaimana ?” tanya Sabrina lagi.
“Gue sudah menjadi orang ketiga di antara mas Ardi dan mbak Nadia ! dan mengambil kebahagiaan Zahra.” Ucap Sabrina lagi merasa bersalah.
“Tidak…tidak… gue bukan wanita seperti itu ! tapi sekarang harus bagaimana ?” ucap Sabrina lagi semakin bingung dengan keadaan.
“Arghhhh.” Ucap Sabrina berteriak kesal dengan kebodohan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sabrina pun mempercepat laju mobilnya di tengah jalan raya yang cukup sepi tersebut semakin menjauh dari desa yang telah memberikan dia kenangan dan kesan yang tidak terlupakan, bahkan di desa tersebutlah pertama kalinya dia bertemu kembali dengan sang mama setelah lama terpisah.
Bersambung…