Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 26


__ADS_3

Sabrina menghembuskan napasnya perlahan lalu menatap ke arah Ardi.


“Apa itu ?” tanya Sabrina sambil melirik ke arah kantong kresek yang sedang di pegang oleh Ardi.


“Oh ini ?” ucap Ardi sambil mengangkat kantong tersebut.


“Ini sarapanmu ! karena kamu tidak kunjung datang aku minta ketupat sayurnya di bungkus saja, nanti bisa kamu makan di atas mobil.” Ucap Ardi kepada Sabrina.


“Yang itu ?” tanya Sabrina melihat kantong kresek yang lain.


“Ini untuk Joni.” Ucap Ardi menanggapi pertanyaan Sabrina.


“Oke.” Ucap Sabrina menganggukkan kepalanya paham.


“Ayo.” Ucap Ardi mengajak Sabrina meninggalkan tempat tersebut.


Sabrina pun menurut dengan sendirinya dia mengikuti langkah Ardi dari belakang.


Beberapa saat kemudian Sabrina pun tengah sarapan di dalam mobil sedangkan Joni tengah menurunkan hasil kebun yang akan di jual dari atas mobil dan membawanya ke dalam sebuah bangunan yang cukup besar yang di jadikan sebagai Gudang untuk menumpuk hasil kebun sebelum diolah.


Sementara Ardi tengah berbicara dengan bos pemilik perusahaan tersebut di dalam kantor pemilik perusahaan yang juga ada di dalam gedung perusahaan tersebut.


Karena merasa bosan setelah beberapa saat usai menyantap sarapan Sabrina pun turun dari mobil, lalu dia melihat sebuah toko yang cukup menarik perhatiannya.


“Mau ke mana mbak ?” tanya Joni saat melihat Sabrina melangkahkan kaki menjauh dari mobil.


“Ke sana !” ucap Sabrina kepada Joni sambil menunjuk toko yang akan dia datangi.


Joni pun menganggukkan kepalanya mengerti lalu kembali melanjutkan kembali aktivitasnya.


Sesampainya di toko tersebut Sabrina melihat-lihat barang yang akan dia beli.


“Cari apa mbak ?” ucap penjaga toko tersebut kepada Sabrina.


“Mesin cuci ada ?” tanya Sabrina kepada penjaga toko tersebut.


“Ada mbak ! ini mesin cuci ada di depan mbak.” Ucap penjaga toko tersebut sambil menunjuk mesin cuci yang berada tepat di depan Sabrina berdiri.


“Oh ini mesin cuci ?” tanya sabrina tidak yakin.


“Iya betul mbak ! ini mesin cuci.” Jawab penjaga toko tersebut.

__ADS_1


Sabrina pun melihat mesin cuci yang dimaksud oleh penjaga toko tersebut.


“Kenapa tidak seperti yang ada di rumah.” Ucap Sabrina pelan hampir tidak terdengar.


“Iya bagaimana mbak ?” tanya penjaga toko tersebut kepada Sabrina.


“Ada yang model lain mbak ?” tanya Sabrina lagi kepada penjaga toko tersebut.


“Kebetulan mbak untuk mesin cuci di toko kami cuma ada yang dua tabung untuk mesin cuci yang satu tabung kita harus pesan terlebih dahulu karena di sini untuk mesin cuci satu tabung peminatnya hanya sedikit.” Terang penjaga toko tersebut.


“Oh begitu ya mbak ! ya sudah deh saya mau yang ini saja mbak.” Ucap Sabrina lagi.


“Boleh mbak ! untuk harga mesin cucinya Rp 2.100.000,00 kalau begitu boleh saya buatkan notanya ?” tanya penjaga toko tersebut kepada Sabrina.


“Silahkan.” Jawab Sabrina.


“Baiklah mohon di sebelah sini mbak.” Ucap penjaga toko tersebut kepada Sabrina.


Sabrina pun mengikuti langkah kaki penjaga toko tersebut.


“Untuk pembayarannya bagaimana mbak ?” tanya penjaga toko tersebut kepada Sabrina.


“Debit boleh mbak ?” tanya Sabrina lagi.


Kemudian Sabrina pun menyerahkan kartu debit miliknya kepada penjaga toko tersebut agar tagihannya bisa di proses.


Usai membayar tagihan mesin cuci tersebut Sabrina pun meminta kepada penjaga toko tersebut untuk mengantarkan mesin cuci tersebut ke mobil pickup milik Ardi yang terparkir di seberang toko tersebut.


Dua orang pria pun mengangkat mesin cuci yang tadi di beli oleh Sabrina tersebut ke atas mobil.


“Maaf pak ini punya siapa kami merasa tidak ada memesannya.” Ucap Ardi yang baru saja keluar dari gedung.


“Benar pak ! saya di suruh mengantar ke mobil ini.” Jelas salah satu pria yang mengangkat mesin cuci tersebut.


“Saya pikir bapak salah alamat karena kami tidak pernah memesan mesin cuci ini.” Terang Ardi lagi kepada dua orang pria tersebut.


“Jon ?” ucap Ardi menanyai Joni.


“Saya tidak tahu mas.” Jawab Joni.


“Apa mungkin mbak Sabrina?” ucap Joni lagi.

__ADS_1


“Dia di mana ?” tanya Ardi kepada Joni sambil mencari-cari keberadaan Sabrina.


“Tadi katanya ke sana mas.” Ucap Joni sambil menunjuk ke arah ke mana Sabrina tadi hendak pergi.


Ardi pun melihat ke arah yang di maksud oleh Joni, di sana terlihat Sabrina dengan santainya berjalan mendekat ke arahnya.


Ardi pun melangkahkan kakinya menyusul ke arah Sabrina, sesampainya di dekat Sabrina Ardi pun memegang lengan Sabrina.


“Itu kamu yang pesan ?” tanya Ardi sambil menunjuk ke arah mesin cuci yang sudah berada di atas mobil.


“Iya.” Jawab Sabrina dengan santai.


“Kenapa tidak bilang aku terlebih dahulu jika ingin membeli sesuatu yang mahal ha ?” Ucap Ardi dengan agak kesal.


“Memangnya kenapa tidak ada masalah kan ?” ucap Sabrina masih dengan santai.


“Tidak ada masalah bagaimana seharusnya kamu bilang sama aku dulu jika ingin beli sesuatu yang mahal seperti itu.” Ucap Ardi kepada Sabrina.


“Kamu tenang saja ! sudah aku bayar kok pakai uangku sendiri.” Ucap Sabrina dengan entengnya tanpa ada beban.


“Bukan itu masalahnya jika kamu ingin aku bisa saja membelikannya untukmu, hanya saja nanti akan jadi masalah di rumah jika ibu tahu kamu membelinya.” Ucap Ardi menjelaskan kepada Sabrina.


“Tinggal bilang pakai uang pribadi aku kok ! gitu saja kok repot.” Ucap Sabrina dengan enteng.


“Iya tinggal bilang gampang ! lantas apa gunanya aku sebagai suami jika aku tidak bisa menjamin kehidupanmu ?” ucap Ardi lagi kepada Sabrina.


“Aku akan ganti uangmu !” ucap Ardi memutuskan akan mengganti uang Sabrina.


“Ya silah kan aku juga tidak keberatan jika kamu ingin menggantinya atau tidak toh ini juga berguna dan sangat membantu aku , bisa-bisa aku tinggal tulang jika harus mencuci sebanyak kemarin tiap hari.” Ucap Sabrina kepada Ardi membela diri.


“Apa benar ibumu akan marah jika aku membeli itu ?” tanya Sabrina tampak mulai khawatir.


“Marah sudah pasti ! tapi kamu tenang saja tidak perlu khawatir biar aku yang menjelaskan kamu cukup diam jangan sesekali menjawab ucapan ibu nanti.” Ucap Ardi menenangkan Sabrina yang mulai tampak khawatir.


“Dan untuk tagihannya nanti aku akan ganti.” Ucap Ardi lagi menegaskan ucapannya.


“Lain kali jika ingin apa-apa tolong libatkan aku sebagai suamimu !” ucap Ardi lagi mengingatkan Sabrina.


“Suami ?” ucap Ardi di dalam hati mengulangi ucapannya.


“Iya suamiku.” Ucap Sabrina sambil memberikan senyuman termanisnya kepada Ardi.

__ADS_1


Melihat aksi Sabrina tersebut Ardi pun menjadi salah tingkah, kemudian dia pergi terlebih dahulu menuju ke mobil sementara Sabrina tertawa kecil melihat ekspresi Ardi yang salah tingkah sambil mengikutinya dari arah belakang.


Bersambung….


__ADS_2