Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Raka ...


__ADS_3

Sabtu sore, Raka memutuskan kembali ke Rumah Baca tersebut. Ia butuh penjelasan kenapa sikap Rani berubah padanya? Ia takkan mendapatkan jawaban itu, jika berbicara dengan Rani di kampus. Rani hanya akan mengacuhkannya dan bersikap dingin padanya. Apalagi jika ada Mitha di dekatnya.


Raka sangat yakin, Rani pasti ada di Rumah Baca ini. Oleh karena itu, Raka sekalian membawa banyak buku cerita untuk diberikan kepada anak-anak di sana. Walaupun bukan buku baru, tapi masih layak digunakan oleh anak-anak tersebut. Buku-buku tersebut ia dapatkan dari kakaknya yang merupakan seorang guru SD.


Sesampainya di Rumah Baca, Raka terkejut melihat Rani. Ia sedang memberikan kelas keterampilan bagi anak-anak. Rani menjelaskan, bagaimana mengolah botol plastik biar bisa jadi barang ekonomis. Sebab kebanyakan anak-anak di sini, bekerja mengumpulkan botol plastik. Daripada langsung menjualnya dan mendapatkan keuntungan yang sedikit. Rani menjelaskan pada mereka, lebih baik menjadikannya sebagai barang yang bisa dijual kembali dan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Anak-anak tersebut memperhatikan Rani dengan seksama. Pelajaran ini sangat menarik bagi mereka.


Aura yang dipancarkan Rani saat memberikan pelajaran, mampu meluluhkan hati Raka. Ia tertegun beberapa waktu untuk memperhatikan Rani. Pilihan yang tepat baginya, menyukai perempuan seperti Rani. Tak hanya di luar kelihatan cantik, namun hatinya juga terlihat cantik. Jarang sekali ada perempuan seumurannya mau repot mengurus anak-anak jalanan seperti mereka. Rani sangat menyayangi anak-anak tersebut layaknya adik sendiri.


Namun ketika Rani sedang asyik memberikan penjelasan, tiba-tiba ada seorang anak yang nyeletuk dan memberitahu Rani, "Kak Rani, ada mas Raka."


Anak itu langsung membuyarkan lamunan Raka dan Rani juga berhenti dari penjelasannya saat anak itu menunjuk ke arah Raka berdiri. "Selamat sore adik-adik." Raka menyapa sambil melambaikan tangannya. Ia tertangkap basah sedang memperhatikan Rani.


"Mas Raka bawa apa tu?" Anak-anak tersebut penasaran dengan kotak dus yang dibawa Raka. Kemudian anak-anak itu menatap ke arah Rani memancarkan tatapan memelas ke arah Rani. Anak-anak itu ingin melihat apa yang dibawa Raka.

__ADS_1


"Lihatlah," ujar Rani membiarkan anak-anak itu mendekati Raka. Mas Raka bawa apa?" ucap seorang anak dengan polosnya menatap Raka, "Ini mas Raka bawa buku-buku buat adik-adik, biar makin semangat belajarnya," ujar Raka sambil berlutut menyamakan tinggi badan anak itu dan memberikan sebuah buku padanya.


Ia memberikan buku cerita berjudul Kisah Putri Duyung. Anak itu adalah anak yang sama dengan anak yang meminta dan bertanya pada Rani tempo lalu. Ia tampak bahagia saat Raka memberikannya buku itu dan langsung menghampiri Rani. Kemudian anak-anak yang lain mulai mengerubungi Raka. Mereka melihat-lihat buku-buku yang ada di dalam dus yang dibawa Raka. Wajah berseri-seri dan mata yang berbinar-binar menampakkan jelas kebahagiaan terpancar dari mereka. "Satu orang ambil satu ya, jangan berebut. Semua pasti dapat," ujar Raka.


"Makasih, Mas." Seorang anak perempuan tiba-tiba saja memeluk Raka sambil memegang buku berjudul Putri Khayangan. Raka sontak kaget, kemudian membalas hangat pelukannya.


"Kak Rani lihat, mas Raka bawain buku putri duyung." Seorang anak mendekati Rani dan memperlihatkan sebuah buku dengan cover putri duyung. Rani tersenyum dan mencubit pipi bakpaonya yang gemas. Anak itu mendapatkan apa yang diinginkannya dari Raka. Setelah masing-masing anak mendapatkan buku cerita. Mereka langsung asik masuk ke dunia cerita masing-masing. Ada yang masih membaca dengan mengeja, namun tak sedikit pula yang sudah pandai membaca dengan lancar.


Raka cepat akrab dengan anak-anak tersebut. Rani yang semula memperhatikan dari ujung pintu kini tak di sana lagi. Terlihat punggungnya menjauh meninggalkan Raka hendak ke depan. Raka melihatnya berjalan menuju sebuah bangku di bawah pohon pinus dekat Rumah Baca. Raka membiarkan karena tak mungkin ia menghentikan ceritanya sementara anak-anak sedang antusias. Setelah selesai membacakan cerita tersebut, Raka meminta anak-anak melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Ia memperhatikan Rani dari kejauhan. Ia tak berani mendekat karena Rani terlihat seperti sedang ingin sendirian. Ia tak ingin mengganggunya.


"Kamu temannya Rani?" tanya seorang perempuan paruh baya dari balik punggung Raka. Ia tiba-tiba menghampiri Raka yang sedang memperhatikan Rani. Raka terkejut, menoleh dan menyambut dengan hangat. "Ya, Bu. Saya Raka." Ia berkata dengan sopan dan menyalami ibu itu.


"Raka?!!" Sang Ibu terkejut mendengar nama Raka disebut. Raka bingung apa ada yang salah dengan namanya? Ia juga mengingat, ketika ia mengucapkan namanya tempo hari pada Rani dan Mitha. Ekspresi Rani hampir sama dengan ibu ini. Apa ada yang salah dengan namanya?

__ADS_1


"Dimana Rani?" Ibu tersebut melanjutkan,


"Dia disana." Raka menunjuk kearah Rani berada,


"Oooooh." Ibu tersebut menghela nafas panjang.


"Ibu boleh saya bertanya?" ujar Raka memberanikan diri, "Silahkan." Ibu tersebut mengizinkan Raka bertanya.


"Apa yang terjadi dengan Rani, kenapa kelihatan murung dan kenapa sikapnya sangat dingin kepada orang lain?" Raka menimpali berbagai pertanyaan yang sangat membuatnya penasaran. Sejenak ibu tersebut diam. Raka tak tahu apa yang dipikirkannya. Sekilas matanya tampak berkaca-kaca sebelum memberikan jawaban. Ada kisah tersimpan di balik ini semua.


****


Berikan cinta kalian dengan rate, like, komen, vote dan favorite. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2