Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Menuju Keabadian (Tamat)


__ADS_3

Haloo guyss... Happy Reading!!!


Sebelum baca udah difavoritekan belum? Biar kalian gak ketinggalan info updatenyaa....


Terusss kalau kalian sayang, kasih VOTE dan LIKE yaa kalau kalian pengen komentar, silahkan isi kolom KOMENTAR juga...


Maaf ya Author sedikit bawel hehehe...


Oke, Silahkan nikmati dan semoga suka~


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Inikah waktunya bagi Rani pergi menuju keabadian?


Rani satu per satu menyelesaikan janji dan pilihannya. Ia sudah memberitahu Mitha apa yang ingin disampaikan Ari lewat mimpinya. Ia yakinkan Mitha untuk menerima kehadiran Risa. Mendengar permintaan sahabatnya dan ucapan kakaknya, Mitha pun luluh. Dendam dan kebencian yang semula mengakar kini sirna seperti debu tersapu angin. Kebencian takkan membuat hidup bahagia.


Roh Ari sudah berpamitan pada Rani. Ia juga mengucapkan terimakasih karena Rani sudah membantunya. Urusannya di dunia sudah usai. Ia sudah pergi terlebih dahulu menuju keabadian.


Kini Rani yang bimbang dan masih ketakutan. Waktunya tak banyak dan ia masih belum tahu apa yang akan terjadi. Bisakah ia pergi menuju keabadian?


Sosok itu saat ini sedang bersama seniornya. Seniornya datang untuk mengingatkan masalah Rani harus dibereskan. Sosok itu memastikannya, "Tenang saja. Semua akan beres sebelum batas waktunya."

__ADS_1


Seniornya lalu bertanya, "Hatimu belum berubah, kan? Meluruskan salah paham dan mengakui cintamu padanya? Jika kau sangat mencintai seseorang ... meskipun dia salah paham padamu, ada hal yang tidak bisa kau katakan padanya karena jika kau mengatakannya, itu akan sangat melukainya. Mungkin karena itu cinta ... meskipun salah paham, kau tidak merasa perlu untuk menjelaskan tindakanmu. Daripada melukainya, kau lebih memilih dia salah paham saat itu."


Sosok itu membenarkan. Lalu ia menambahkan, "Aku baru menyadari bahwa menyembunyikan perasaan lebih melelahkan daripada tidak mengetahuinya. Itulah kesalahanku yang ingin ku tebus padanya."


Tapi seniornya kembali berkata kalau itu tidak akan membantunya dan dia juga menertawainya, "Ada apa denganmu? Aku heran. Orang muda hanya tahu soal cinta. Mereka pikir cinta adalah segalanya. Padahal hiduplah yang lebih berharga. Lihatlah kalian ingin kembali hidup padahal kalian sudah mati."


Sosok itu akhirnya sadar, "Tuan! kau sengaja membiarkan ingatanku kembali, iya kan? Kau membiarkanku melihat bagaimana ia hidup dan kau tidak mengizinkannya melihat wajahku. Kau hanya membuat kami menderita."


Seniornya lagi-lagi tertawa, "Jika dia melihatmu, apa kau yakin dia akan menyelesaikan masalah tiga ratus tiga puluh harinya? Dia bisa kena serangan jantung saat dia melihatmu dan dia pasti akan langsung pergi bersamamu. Takdirnya tidak seperti itu."


Sosok itu masih merasa ada sesuatu yang lain. Seniornya hanya berkata, "Takdir akan terus berlanjut sampai kehidupan mendatang."


Ia bingung, "Apa maksudnya itu?" Seniornya tidak menjelaskan lagi dan sebelum menghilang. Ia mengatakan bahwa waktu tiga tahunnya sebagai Penjemput dan Pengantar roh berakhir besok. Jadi ia bisa bertemu dengan Rani dan memperlihatkan wajah aslinya.


Keesokannya Rani tengah jalan ke taman, ia melihat sosok itu duduk di bangku. Sosok itu berbalik melihatnya dan langsung berdiri. Rani masih ragu dengan yang ia lihat tapi sosok itu langsung jalan mendekati Rani.


"Rani, sudah lama sekali." Sosok itu menyambut Rani dengan senyum di wajahnya.


Rani terpana, "Raka! ini benar-benar kau? Bagaimana ini bisa terjadi?" Rani menangis dan menyentuh pipi sosok itu. Sosok itu memeluknya dan keduanya sama-sama menangis.


Sosok itu berkata maaf dan ia hanya bisa datang sekarang, lalu ia mengajak Rani pergi ke suatu tempat. "Kemana?" tanya Rani. Sosok itu menjawab, "Hari ini lakukan saja apa yang ku katakan padamu. Ada sesuatu yang harus kau dengarkan."

__ADS_1


Sosok itu mengajak Rani ke bawah pohon pinus, tempat di mana goresan nama mereka berdua berada. Rani terpana dan menatapnya bergantian dengan goresan nama mereka. "Saat itu aku tidak percaya dengan perasaanku. Aku tidak bisa mencintaimu karena aku takut akan membuatmu sedih. Kehidupanku saat itu terasa sangat menyesakkan dan menyedihkan. Aku takut tiba-tiba aku akan meninggalkanmu makanya aku tidak bisa menggenggam erat tanganmu saat itu."


"Tapi aku tidak tahu. Selama ini kau tidak meninggalkanku. Kau tetap menjadi penjagaku, kau selalu di sisiku, kau pasti sangat lelah menghadapiku." Mereka duduk di bangku itu. Rani terus memandangi Raka yang pernah ia cintai sebelumnya. "Kenapa? Kenapa kau memandangiku?"


"Aku minta maaf. Setelah kau pergi, aku malah mencintai orang lain yang bernama sama denganmu. Apa kau tidak marah atau membenciku setelah melihatnya?" tanya Rani.


"Sejak tanggal kelahiranku sampai hari akhir. Itu sudah menjadi takdirku. Apa aku marah? aku mau marah pada siapa? Kenapa aku harus marah? Tidak peduli semarah apa aku, tidak peduli betapa tidak adilnya ini dan betapa kesalnya aku. Aku tahu tidak ada yang bisa dilakukan ... seperti apapun aku memohon. Aku hanya mendapatkan ini. Aku tidak bisa menolaknya. Setidaknya aku bisa mengajukan permintaan agar bisa membawamu menuju keabadian. Aku akan menggenggam tanganmu dan takkan aku lepaskan lagi."


Sosok itu memandang Rani dan melanjutkan kalimatnya, "Ada sesuatu yang di luar kendali manusia, yaitu kehidupan dan kematian. Kau juga tidak bisa mengendalikan perasaanmu. Aku tidak apa-apa. Itu adalah takdir kita semua. Lagipula tidakkah kau ingat, aku yang memintamu melakukan itu."


Rani teringat dan bertanya, "apakah kini saatnya kita pergi menuju keabadian?" Sosok itu membenarkan, mereka akan segera pergi. Lalu ia bertanya, "Apa kau menyesal telah memilih pilihan ini?".


Rani menggeleng, "Tidak. Aku tidak pernah menyesalinya karena selama tiga ratus tiga puluh hari itu, aku bisa menerima dan bisa merasakan cinta. Aku juga bisa melihatmu kembali dan kehidupan yang ku jalani saat itu, aku merasa itu lebih baik juga, jika aku mati tanpa mengatakan apapun, aku yakin pasti itu yang akan aku sesali. Kini aku yakin semua akan bahagia. Pilihanku tidak akan pernah salah."


Sudah waktunya bagi mereka untuk pulang menuju keabadian. Sosok itu ada di depan Rani, ia tersenyum dan mengulurkan tangan membantu Rani berdiri.


"Apa kau benar-benar menungguku selama ini? Apa kau khawatir membiarkanku pergi sendirian?" ucap Rani.


Sosok itu menahan emosinya, "Selama ini ... Kau benar-benar melakukannya dengan baik." Ia membungkuk pada Rani.


Rani menghela nafas dan memejamkan matanya. Ia seperti sedang mengucapkan sebuah permohonan, "Ku mohon biarkan Raka melupakanku. Supaya aku bisa pergi tanpa merasa cemas dan membawa kebahagiaanku."

__ADS_1


Setelah itu Rani berkata, "Ayo kita pergi." Ia menerima uluran tangan sosok itu dan sosok itu mengangguk mengerti. Ia lalu membawa Rani bersamanya. Mereka menuju keabadian bersama saling bergandengan tangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2