Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Ari..


__ADS_3

Mitha bergegas menuju suatu tempat. Dia sangat rindu pada orang yang akan ia temui nanti. Sebelum menuju tempat tersebut ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk membeli bunga.


Perasaannya bercampur aduk saat ini. Ia tak bisa mengucapkan selamat tinggal dan tak bisa mengantar Rani ke peristirahatan terakhir. Kala itu ia tak hanya kehilangan Rani untuk selamanya, tapi seseorang yang sangat berarti baginya juga pergi untuk selamanya. Mitha benar-benar terpukul dengan kenyataan bahwa ia ditinggalkan orang-orang terdekatnya sekaligus dalam waktu yang bersamaan.


Mitha sangat membenci orang yang dia anggap sebagai penyebab kejadian buruk itu. Ia mengutuk dan membenci orang tersebut. Ia bahkan meminta orang itu untuk tak pernah lagi menampakkan wajahnya di depannya. Serta ia juga tak mengizinkan orang itu berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir kakaknya. Satu-satunya kakak tempatnya bergantung. Satu-satunya kakak yang ia paling sayangi.


Setelah membeli bunga yang indah, Mitha memasuki blok tempat pemakaman umum. Sambil menatapi bunga itu dia berkata, "Kak Ari, aku pastikan kakak menyukai ini dan takkan kesepian lagi di sana."


Namun langkah Mitha terhenti saat melihat dari kejauhan ada orang yang mengunjungi pusara kakaknya. Ia seperti mengenal orang itu. Ia melihat pakaian yang dikenakan orang itu mirip seperti yang dikenakan Raka saat ia bertemu Raka di kampus tadi.


Jika benar itu Raka. Kenapa dia berada di pusara kakaknya? Apakah Raka mengenal kakaknya? Lalu siapakah yang datang bersama Raka? Mitha mengingat apa yang ia lihat di parkiran fakultas tadi. Apakah perempuan itu yang berada di dalam mobil Raka tadi? Siapakah perempuan itu? Kenapa ia juga berada di pusara kakaknya? Ia tak dapat melihat dengan jelas siapa perempuan tersebut karena wajah perempuan itu tak terlihat jelas dari tempat ia berada.


Lalu ia mencoba mendekat. Ketika ia sudah tiba di dekat pusara Ari. Tatapannya langsung tertuju pada Risa, Orang yang saat ini sangat dibencinya. Tatapannya penuh kebencian sehingga ia tak menghiraukan keberadaan Raka.

__ADS_1


"Kenapa kau datang kemari, dasar wanita jal*ng!" ucap Mitha dengan kasar


Raka terkejut mendengar perkataan kasar dari Mitha. Ia tak tahu kenapa Mitha tiba-tiba saja berkata seperti itu. Tapi ucapan Mitha terdengar tak pantas untuk diucapkan pada Risa yang merupakan perempuan baik-baik. Lalu Raka juga bingung kenapa Mitha berada di sini? Apakah Mitha mengikutinya atau Mitha juga mengenal Ari?


Risa yang mendapatkan perkataan kasar dari Mitha saat ini sudah menitikkan air mata. Raka yang melihat langsung menenangkan Risa.


"Aku sudah bilang kau tak boleh mengunjungi kakakku, apakah kau tak puas dengan apa yang sudah kau lakukan pada kak Ari, kau perempuan pembawa sial.. Kau sudah membunuh satu-satunya kakakku, satu-satunya orang yang aku sayangi... Apakah kau tidak punya malu?" Ucap Mitha mengerang.


Risa mencoba memegang tangan Mitha. Sudah cukup Mitha mengatakan itu. Dia ingin meminta maaf. Namun Mitha tak dapat menerimanya. Ia menghempaskan tangan Risa dengan kasar. Hingga membuat Risa terhuyung. Untung ada Raka di sampingnya, Raka memegangi Risa tepat sebelum Risa terhuyung jatuh. "Mitha, kamu tak perlu kasar begitu. Ini semua adalah kecelakaan bukan kesalahan Risa" ucap Raka


"Raka kamu lebih baik diam saja, tidak usah ikut campur masalah ini.. Kamu tak tahu apa yang sudah diperbuat perempuan ini pada kakakku. Jadi kamu tidak perlu memberiku nasehat. Dia adalah wanita penggoda, sebaiknya kamu jauhi saja dia," Mitha menyuruh Raka untuk diam saja.


"Aku tahu... Apa yang sudah terjadi dengan kak Ari, sama seperti halnya dengan yang menimpa Rani... Ini semua musibah, inilah takdir yang tak bisa dihindari. Kamu tidak bisa menyalahkan Risa atas apa yang sudah terjadi. Kamu harus bisa menerimanya serta kamu tak seharusnya berkata seperti itu pada Risa" Raka mencoba menasehati.

__ADS_1


"Bicara memang mudah Raka, tapi apakah kamu sanggup melakukannya juga? Bahkan kamu masih belum bisa menerima kepergian Rani. Sekarang kamu menasehatiku atas apa yang sudah terjadi. Kamu saja hampir gila karena hal itu. Sama sepertimu Raka, aku tidak bisa membiarkan kakakku pergi begitu saja" Mitha menolak dengan keras nasehat Raka.


Raka terdiam. Apa yang diucapkan Mitha memang benar. Ia belum sepenuhnya bisa melupakan Rani dan menerima kepergian Rani. Memang benar. Hal itu juga sudah membuatnya seperti orang gila.


"Asal kamu tahu Raka, jika kakakku tak bertemu perempuan ini maka ini semua takkan terjadi." Mitha melanjutkan kalimatnya.


Risa kembali menitikkan air matanya. Memang benar jika ia tak bertemu dengan Ari maka hal ini takkan terjadi. Jika saja tidak ada perdebatan hari itu. Maka takkan berakhir seperti ini.


"Sudah hentikan tangisanmu. Kau tak berhak mengeluarkan air mata itu di sini. Kau juga tak berhak datang kemari. Aku peringatkan sekali lagi. Jangan pernah datang lagi ke tempat ini. Hidup kakakku tak tenang bersamamu dan kini kau akan mengusik ketenangannya lagi. Aku takkan membiarkannya. Pergi dari sini, jangan pernah lagi menampakkan wajahmu di hadapanku." Mitha mengusir Risa.


Mitha telah salah. Ia menghindari kenyataan bahwa seumur hidup Ari. Ia merasa paling bahagia saat bersama Risa. Oleh karena itulah, Ari tak ingin berpisah dari Risa. Namun karena kejadian di hari itu malah membuatnya berpisah dari Risa untuk selamanya. Ia meninggalkan Risa dan membuat Risa menanggung sendiri semua beban yang berat ini.


Risa sudah tak tahan dengan semua perkataan Mitha. Ia memutuskan untuk pergi. Dalam tangisan ia berlari meninggalkan tempat itu. Raka yang merasa bertanggungjawab dengan Risa dan baru saja mengucapkan janji di depan pusara Ari untuk menjaga Risa. Ikut serta meninggalkan Mitha di tempat itu dan mengejar kemana Risa pergi. Raka tahu Risa tak punya tempat untuk pergi.

__ADS_1


__ADS_2