
Langkah Raka terhenti di depan perpustakaan. Takkan pernah lagi ia menginjakkan kaki kedalam. Ia benci tempat ini. Raka akan merasakan desiran aneh tiap melewati tempat ini. Hatinya sakit sangat sakit. Tiap melihat ke dalam perpustakaan akan terlintas tiap kesalahan yang ia perbuat. Kesalahan besar yang membuat semua berakhir menyakitkan. Setiap memori, setiap kenangan dan setiap kebenaran terselip di tempat ini.
Sudah berputar-putar seisi kampus, Raka tak menemukan Kevin. Lalu ia menyerah mencari keberadaan Kevin. Ia memutuskan pulang saja. Ia bisa menyuruh Kevin menghampirinya di rumah.
Malam harinya, Kevin sudah ada di rumah Raka setelah menerima pesan masuk dari Raka. Maksud Raka menghubunginya karena ingin meminta bantuannya. Raka ingin menyiapkan sebuah kejutan sekalian ingin menyatakan hubungan serius dengan Rani.
"Untuk Rani lagi? Kapan saatnya dia bisa menerima keadaan. Dia benar-benar tidak bisa kembali ke akal sehatnya, apa harus aku menolak permintaan nya? dan menjelaskan padanya bahwa ia bisa saja lari dari kenyataan tapi sungguh ia takkan bisa menolak kenyataan yang sudah terjadi. Ini sudah kelewatan batas." Kevin menggerutu didalam hatinya.
__ADS_1
Namun melihat sorot mata Raka, ia tak sanggup mengatakannya langsung pada sahabatnya itu. Ia akan membiarkan ini untuk terakhir kalinya.
Lalu Raka menjelaskan detail kejutan apa yang akan ia berikan pada Rani. Kevin hanya mengangguk-angguk mengerti. Raka akan menyiapkan kejutan itu di sebuah Cafe.
Cafe yang sangat ia sukai dan pasti Rani juga akan menyukainya. Kemudian ia akan menyewa seluruh cafe dari jam 8-10 malam. Ia akan memenuhi setiap sudut cafe dengan berbagai macam mawar. Terutama mawar merah muda.
Mawar merah muda terang yang menandakan bahwa kamulah yang tahu perasaanku.
__ADS_1
Sesekali Kevin memasang wajah kasihan namun paling sering Ia memasang wajah antusias. Terakhir Raka meminta Kevin tak usah ikut, tak usah melihat karena dengan adanya Kevin. Rani akan canggung dan tak nyaman. Kevin mengiyakan dengan hati terasa sesak.
Kini mata Kevin tertuju pada meja di sebelah tempat tidur Raka. Apa itu buku yang dibicarakan oleh Mitha? Ia melihat buku tebal yang dibicarakan oleh Mitha. Kevin tentu saja penasaran. Tapi jika Raka berada di sini takkan bisa ia melihat apa isi dari buku itu. Raka pasti melarangnya dan menjauhkannya dari buku itu.
Lalu ia dapat ide, Kevin meminta Raka keluar dengan dalih masa tamu datang tidak disuguhi minuman. Langsung Raka keluar mengambilkannya minum. Sembari Raka keluar dari kamar dengan cepat pula Kevin mendekat ke meja itu.
Ia membuka setiap halaman pada buku itu. Tentu saja ia juga melihat setiap post it card menempel di beberapa halaman. Hatinya sakit melihat tiap kalimat yang tertulis.
__ADS_1
Tiba-tiba saja jatuh secarik kertas dari dalam buku itu. Langsung Kevin memungutnya. Ketika Kevin hendak meletakkan surat itu kembali. Terdengar langkah kaki Raka yang mendekat. Bisa gawat kalau Raka tahu ia menyentuh barang ini. Cepat Kevin memutar otaknya. Daripada Raka tahu, ia membuka halaman buku ini. Lebih baik ia sembunyikan saja secarik kertas ini. Bisa mati jika Raka mendapatinya membukanya. Ia penasaran apa yang ada di dalam kertas ini. Untuk itu ia harus membayar rasa penasarannya dengan menyembunyikan kertas ini ke dalam tasnya. Raka takkan menyadari kalau kertas ini hilang dan berada di tangannya.
Lalu Raka masuk kedalam dengan segelas es teh sesuai permintaan saat Kevin sudah kembali ke posisi awalnya dengan sudah mengembalikan buku itu pada tempatnya.