Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Nyaman


__ADS_3

Tak tega melihat Raka hanya makan dengan tumis kangkung, Rani kembali memanggil Abang pelayan dan memasan nasi goreng. Tak butuh waktu lama menunggu, akhirnya nasi goreng pesanannya datang. Ia langsung saja menyerahkannya pada Raka, "Makan ini saja, jika terlalu banyak makan kangkung, kamu akan cepat mengantuk dan itu tidak baik. Aku tahu kamu pasti sangat kelaparan." Untuk pertama kalinya Rani memberikannya senyum. Raka senang karena Rani perhatian padanya dan tanpa ragu ia mengambil nasi goreng tersebut dan melahapnya hingga tak bersisa. Ia benar-benar kelaparan.


Mereka menikmati waktu makan malam dengan tenang dan sesekali bergantian melempar beberapa topik obrolan. Mereka mulai merasa nyaman satu sama lain. Bahkan kini Rani tak perlu lagi malu-malu menyembunyikan tawanya, saat Raka berhasil melemparkan sebuah lelucon. Raka berhasil menemukan dan melihat sosok Rani yang berbeda. Rani yang misterius bisa berubah menjadi Rani yang sangat menyenangkan.


Meskipun hari ini sangat menyebalkan bagi Raka, kesialan menimpanya bertubi-tubi. Mulai dari diserang semut Rangrang sampai harus menahan rasa pedas. Ia tak mengingat lagi kesialan itu. Hal itu langsung buyar, ketika dia dapat menghabiskan waktu malam ini dengan Rani. Ia berharap kejadian ini bisa menjadi awal baginya untuk semakin dekat hingga Rani mau menerima dan menyimpannya di dalam hati.


Usai makan malam yang tragis tapi menyenangkan, Rani menunggu Raka di luar warung tenda. Butuh perdebatan sengit tadinya mengenai siapa yang membayar. Rani beranggapan karena ia yang mengajak, maka dialah yang harus membayar. Toh, tadi Raka juga sudah membantunya menghibur anak-anak. Jadi ia harus membalasnya.


Namun tentu saja Raka menolak, ia merasa gengsi jika harus dibayarkan oleh perempuan. Lalu pada akhirnya untuk memutuskan siapa yang membayar, Raka menawarkan sebuah permainan dan yang kalah akan membayar makanan tersebut. Rani langsung menyetujuinya.


Untuk menjaga harga dirinya di depan orang banyak, Raka sengaja kalah dalam permainan yang ia usulkan tersebut. Padahal jika ditanya yang sebenarnya, dialah yang paling ahli memainkannya. Selesai membayar, Raka kembali mendekati Rani, "Ayo kita lanjut jalan." Raka sangat senang saat ini. Namun Rani mendelik dan menolak, "Kita berpisah di sini saja."

__ADS_1


Raka tentu tak menginginkan waktunya berpisah secepat ini, "Biar aku antar pulang," usul Raka. Ia masih ingin mengulur waktu berlama-lama bersama Rani. Ia baru saja merasakan kenyamanannya.


"Gak usah, aku bisa sendiri." Rani tetap menolak. Namun Raka tak menggubrisnya, dia tetap saja mengikuti dari belakang. Tidak ada reaksi dan penolakan dari Rani, dia hanya membiarkan. Hingga akhirnya mereka telah sampai pada sebuah kompleks perumahan. Di depannya terdapat gerbang yang bertuliskan GRIYA INDAH SEMBADA WARNA.


Rani tahu bahwa Raka masih mengikutinya. Ia pun menoleh ke belakang. "Sudah, kamu kembalilah," ujar Rani menyuruh Raka agar segera pergi. Rani sudah hampir tiba di rumahnya, jadi Raka tak perlu lagi mengikutinya.


Raka kembali menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal, "Hehehe ... biar aku antar sampai depan rumah," ujar Raka. Rani membasahi kerongkongannya yang kering, "Terserahlah." Mereka kembali berjalan. Ia tak bisa menghentikan niat baik Raka untuk mengantarnya. Bersama seperti sekarang, tidak hanya Raka yang merasakan kenyamanan, Rani juga merasakannya.


Kali ini Raka berjalan di sebelahnya. Mereka berjalan berdekatan, saking dekatnya Raka ingin sekali memegang erat tangan Rani yang menggantung. Entah apa yang terjadi? Keinginan tersebut tak dapat lagi dihentikannya. Langsung saja ia melakukannya, dia memegang tangan Rani tanpa ragu. Ia sepertinya sudah siap dengan apa pun resikonya.


Langsung saja Raka berharap, semoga ini akan bertahan lama dan akan berlanjut esok dan seterusnya. Ia merasa benar-benar akan menaklukkan Rani seutuhnya. Akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah berwarna ungu di pagari pagar besi berwarna putih. Jarak dari pagar hingga pintu utama lumayan. Sebelum sampai ke pintu utama, kita akan disuguhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang sangat terawat. Pasti Rani sangat terampil mengurus rumah dan tanamannya. Namun ada yang berbeda dari pemandangan rumah tersebut, rumah itu terlihat sangat sepi. Seperti tak berpenghuni. Apa Rani hanya tinggal sendirian di rumah yang besar ini? atau mungkin orangtua Rani masih bekerja di luar rumah dan belum pulang?

__ADS_1


Rani menarik tangannya dan melepas genggaman itu dengan pelan. Raka tersenyum memperlihatkan dua lesung pipi di dekat matanya. Meski sebentar, ia bersyukur Rani tidak menolaknya, "Terimakasih," ucap Rani. Namun dalam hatinya, Raka berseru, "Akulah yang harusnya berterimakasih karena kamu tidak mengacuhkanku lagi. Terimakasih untuk kesempatan hari ini. Aku akan selalu mengingatnya. Saat di mana kenyamanan ini berasal dan berakhir. Di hatiku dan di hatimu."


Raka kembali menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Tidak masalah." Kemudian Rani berpaling dari Raka dan berjalan masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti setelah Raka berkata, "Bolehkah aku menemui dan berjalan bersamamu lagi seperti hari ini? Aku tidak ingin ini hanya menjadi kali pertama dan terakhir. Kamu pasti tahu maksudku."


Raka tak mendapatkan jawaban, Rani melanjutkan langkahnya setelah terhenti sejenak. Namun di balik itu, ia tersenyum simpul. Ia juga menginginkan kedekatan ini terus berlanjut. Namun sepertinya, itu takkan mudah. Ia harus menyembunyikan perasaannya pada Raka.


Selagi Rani berjalan masuk ke dalam, Raka melambaikan tangannya pada punggung Rani yang semakin menjauh. Ia memastikan Rani masuk sampai ke dalam rumah.


Setelah lampu teras dinyalakan. Rani menyingkap sedikit tirai jendela. Ia melihat Raka masih berada di tempatnya berdiri. Rani pun melamun beberapa lama. Banyak pikiran melayang-layang di benaknya.


Setelah memastikan Rani masuk dengan aman. Raka kemudian beranjak dari posisinya. Ia berjalan dengan hati gembira sambil bersiul-siul sesekali mengekspresikan suasana hatinya. Raka mengelus-elus telapak tangannya, bekas tangan Rani tadi sambil tersenyum. Persis seperti orang sedang dimabuk cinta. Pikirannya melayang-layang kesana kemari. Memikirkan banyak hal yang akan dilakukannya lagi bersama Rani setelah ini.

__ADS_1


*****


Berikan cinta kalian dengan rate, like, komen, vote dan favorite. Terimakasih.


__ADS_2