
Mitha menatap sendu kepergian Raka yang mengejar Risa. Ia kecewa kenapa Raka malah memilih perempuan itu daripada dia. Kenapa Raka tak pernah mengerti dengan perasaannya?
Mitha lemas terduduk meratapi pusara Ari. Ia kesal kenapa ia yang selalu ditinggalkan. Ia tak pernah menjadi bagian dalam pilihan. Baik Ari maupun Raka lebih memilih pergi bersama perempuan itu daripada dirinya. Mitha bisa menerima jika Raka lebih memilih Rani daripadanya. Tapi ia tak bisa menerima jika Raka memilih perempuan itu daripada dia.
Mitha meletakkan bunga yang ia bawa di atas nisan Ari. Air mata membanjiri pipinya. Seperti yang ia katakan pada Raka, ia tak bisa menerima kenyataan ini. Terlebih lagi dengan kenyataan yang baru ia lihat. Ia makin sakit hati dan tak bisa menerimanya begitu saja.
Ia bertekad takkan membiarkan perempuan itu bisa bersama dengan Raka. Jika memang ada yang harus menggantikan Rani di hati Raka. Bukan perempuan itu orangnya. Jika ia tak bisa mendapatkan Raka maka perempuan seperti Risa juga takkan bisa.
"Kakak yang tenang di sana. Aku takkan biarkan perempuan itu mengusik ketenangan kakak. Kenapa dia selalu datang dan merusak kehidupan kita?" lirih Mitha menatapi pusara Ari.
******
Raka mengejar Risa. Ia mencari-cari di sekitar, kenapa Risa menghilang begitu cepat. Ia yakin Risa pasti masih berada di sekitar sini. Takkan mungkin Risa pergi begitu saja. Risa tak punya tujuan. Jadi ia takkan mungkin pergi jauh.
Akhirnya Raka menemukan Risa. Tengah duduk menenggelamkan wajahnya di dalam telapak tangannya. Ia masih menangis tersedu-sedu. Hatinya sakit mendengar setiap perkataan Mitha. Lalu Raka mendekatinya. Ia membiarkan Risa menangis menumpahkan segala sesak yang merenggut di dalam hatinya. Ia hanya mendengarkan tangisan Risa dan memandang sesekali.
"Kenapa yang tinggal yang menanggung beban kepedihan?" Ia mengasihani Risa sekaligus mengasihan dirinya.
"Menangis lah,, tumpahkan semua air matamu Risa, jangan menahannya. Ini saatnya kamu menangis dan mengeluarkan semuanya. Masalah memang tidak akan pergi jika kita menangis. Tapi menangislah jika beban itu terasa sangat berat." Raka mencoba menenangkan Risa. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Risa.
Risa terdengar mulai tenang. Tangisannya sudah tak terdengar lagi.
"Kamu sudah menumpahkan semua nya?" tanya Raka.
Sejenak Risa terdiam. Kemudian ia menjawab, "Semua memang salahku. Apa yang diucapkan Mitha benar, akulah penyebab semua ini terjadi." Raka menepuk pelan pundak Risa. Tak seharusnya ia menyalahkan dirinya seperti itu. Takdir yang membuat semuanya terjadi.
__ADS_1
"Seandainya malam itu kami bisa menahannya, maka akan lebih mudah untukku meninggalkan Ari." Risa mengingat kejadian pada saat godaan menghampiri mereka. Tapi itu bukanlah kesalahan. Ia tak ingin menyebut itu sebagai kesalahan. Apa yang sudah ada dalam perutnya saat ini adalah hasil buah cinta dan kasih sayang Ari padanya. Ia tak ingin membenci itu. Maka itu bukanlah kesalahan.
Risa kembali mengelus perutnya, Raka menatap dan mengasihaninya. Namun tiba-tiba perut Risa terasa keram. Ia merintih kesakitan. Apa yang terjadi dengannya? Raka langsung panik dan bergegas membawanya ke rumah sakit.
"Risa, kamu bisa menahannya, sebentar lagi kita sampai." Raka dengan cepat melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.
Risa masih merintih menahan kesakitan. Tiba-tiba saja ada darah mengalir. Raka makin panik. Ia mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tak mungkin Risa melahirkan sementara usia kandungannya baru 11 minggu. Ia takut Risa keguguran. Sesampainya Risa di Rumah Sakit. Ia langsung ditangani di ruang IGD. Raka diminta menunggu dan menyelesaikan administrasi.
"Anda suaminya? Mohon diurus dan diisi dulu administrasinya. Kami akan menangani istri anda" ucap perawat yang menangani Risa.
"Tapi saya..." Raka bingung dikatakan sebagai suami Risa. Tapi yasudahlah ia tak punya waktu untuk menyanggah. Ia mengiyakan saja dan mengurus semuanya.
Beberapa waktu kemudian, Dokter yang menangani Risa memanggil Raka. Ia ingin berbicara dengan Raka. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Semua orang yang berada disini mengira Raka-lah suami Risa.
Bahkan ada pengunjung yang membicarakan Raka. Ia mengatakan banyak sekarang pasangan yang memutuskan untuk menikah muda. Namun ada juga yang bergumam kalau bisa jadi itu disebabkan oleh hamil diluar nikah. Makanya diusia semuda itu mereka sudah menjadi seorang ibu dan ayah. Namun mereka tetap saja iri melihat Raka yang begitu perhatian dengan Risa yang dianggap sebagai istrinya.
Namun Raka tak menghiraukannya. Saat ini Raka sudah berada di ruangan dokter, "Anda harus selalu menjaga istri anda, kandungannya lemah dan dia tidak boleh stress," ucap dokter pada Raka.
Raka berpikir apakah Dokter ini mengira dia juga suami Risa. Tapi Raka tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya diam dan mendengarkan setiap perkataan dokter.
"Untungnya sekarang istri anda sudah baik-baik saja. Untungnya anda cepat tanggap langsung membawa istri anda ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit saja anda pasti sudah kehilangan bayi anda." Apa yang dikhawatirkan Raka benar. Hampir saja Risa keguguran.
"Apa anda masih terkejut?" Dokter menanyakan keadaan Raka. Kenapa Raka diam saja saat ia mengatakan semua itu.
"Oh,, maafkan saya Dok, saya sedikit tidak fokus," ujar Raka tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Saya memaklumi, Anda pasti terkejut atas apa yang terjadi dan anda takut terjadi apa-apa pada Istri dan calon bayi anda. Sekarang sudah tidak apa-apa. Mereka berdua baik-baik saja." Dokter kembali menjelaskan keadaan Risa dan bayinya.
"Oh.. iya, terimakasih Dokter," ucap Raka datar.
"Mohon untuk lebih menjaga dan memperhatikan istri anda. Jangan biarkan dia stress dan merasa tertekan. Anda harus sering berada di sisinya dan menghiburnya." Dokter memberikan nasehat pada Raka.
"Baik, Dok.. Akan saya lakukan" jawab Raka mengikuti saran Dokter. Kemudian Dokter berkata bahwa Raka sudah bisa menemui Risa. Tapi jangan ganggu Risa biarkan dia tertidur sampai ia bangun sendiri.
Setelah berbicara dengan dokter, Raka segera menemui Risa. Ia menatapi Risa yang tengah tertidur. Apa yang akan dia lakukan terhadap Risa? Raka bukan suami Risa. Tapi ia sudah terlanjur berjanji menjaga Risa. Kasihan sekali jika ia membiarkan Risa sendirian. Risa tak punya tujuan ataupun tempat untuk bergantung.
Tiba-tiba Risa terjaga. Suaranya lemas terdengar. Ia langsung menyadari dirinya tengah berada dimana. Ia mengetahui sedang berada di rumah sakit. Hal itu tercium dari bau desinfektan dan obat-obat yang menyengat.
"Apa bayiku baik-baik saja?" Ia langsung menanyakan hal itu pada Raka yang berada di sampingnya saat ini.
"Iya, kalian berdua baik-baik saja." jawab Raka.
"Syukurlah.... Terimakasih Raka," Risa terdengar tenang dan kembali mengelus perutnya.
Raka mengangguk. Bagaimana ia akan mengatakannya? Risa tidak boleh tertekan dan merasa stress. Tapi Risa sudah begitu karena semua kejadian yang menimpanya.
"Maafkan aku Raka, aku selalu merepotkanmu," Risa terdengar menyesal telah menyusahkan Raka.
"Kamu pasti merasa terbebani di sini saat bersamaku. Aku tidak akan lagi membebanimu, aku bisa mengurus diriku dan calon bayiku. Jadi aku pastikan kamu tidak akan berada disini lagi," ucap Risa.
Risa juga merasa kurang nyaman jika harus membuat Raka dianggap sebagai suaminya. Risa mengetahui bahwa Raka tak suka menjadi pusat perhatian. Tapi sekarang karena dirinya Raka dikira sebagai suaminya.
__ADS_1
"Anda mempunyai suami yang tampan dan juga perhatian," ucap perawat yang menanganinya tadi. Oleh sebab itu Risa bisa mengetahui Raka dianggap sebagai suaminya. Ia menjadi tidak enak terhadap Raka.
Namun Raka mengatakan pada Risa tak perlu mengkhawatirkannya. Ia tak masalah dengan perkataan orang-orang. Raka mengatakan yang harus Risa khawatirkan itu adalah kondisinya dan calon bayinya. Ia harus lebih berhati-hati dan tak usah memikirkan setiap perkataan Mitha.