
Ikhlas itu begini: Kau rawat kepompong hingga menjadi kupu-kupu, meski tau bahwa semua yang bersayap akan selalu terbang~
Sosok yang berada di hadapan Rani kembali menawarkan Rani untuk memilih pilihan pertama yang lebih mudah. Namun Rani masih berpikir panjang, apa yang harus ia lakukan?
"Kau tahu, tidak mudah membuat orang yang ditinggalkan untuk ikhlas. Kau tidak hanya harus membuatnya melepasmu dengan ikhlas tapi kau juga harus membayar kebahagiaannya. Jika dia tak mampu menggantikan posisimu maka kau harus buat dia melupakanmu. Kalian berdua harus sama-saka ikhlas untuk saling melepaskan. Itu sulit, kan? Benar. Manusia memang rumit." Sosok itu masih mengoceh di sebelah Rani.
"Raka harus bahagia dalam hidupnya. Dia tidak boleh terus-terusan meratapi kepergianku. Dia harus secepatnya mengikhlaskanku. Dia tidak boleh terus menderita dengan mencintaiku. Kesalahpahaman harus segera dituntaskan. Maka aku akan pilih pilhan kedua." Rani berkata mantap dengan pilihannya. Dia sudah mantap ingin menjelaskan kesalahpahaman yang mungkin Raka pikirkan, bahwa Rani tak pernah mencintainya.
Sekali lagi sosok itu bergumam bahwa manusia benar-benar rumit. Diberi jalan yang mudah malah memilih jalan yang susah.
Sosok itu mendekatkan wajahnya pada Rani. Jelas terasa hawa dingin dan menakutkan menyelimuti auranya. Rani sedikit terlonjak saat ia kembali menjelaskan aturannya.
Satu, Rani bisa kembali tapi ia tak bisa kembali pada tubuhnya. Ia harus meminjam tubuh orang lain atau masuk kedalam mimpinya.
"Aku bisa masuk ke mimpi Mitha dan memberitahunya tentang buku You're My destiny." Rani memutuskan, melalui Mitha ia akan sampaikan bahwa perasaannya yang sesungguhnya pada Raka telah tertulis dan tersembunyi di dalam buku itu. Setelah Raka membacanya Raka pasti akan mengetahui bahwa perasaannya tidak hanya perasaan sepihak. Rani juga mencintainya. Tulisan itu takkan bisa berbohong. Rani yakin itu bisa meluruskan kesalahapaham yang terjadi.
Sosok itu berkata, "Kau hanya bisa meminjam tubuhnya dan masuk ke dalam mimpinya pada waktu tengah malam sampai pukul 03.30 subuh."
Kedua, Rani tidak diizinkan untuk memberitahu dirinya telah meminjam tubuh seseorang dan meminta Raka untuk segera mengikhlaskan kepergiannya. Ia hanya diziinkan meminjam tubuh orang lain dan masuk ke dalam mimpi orang lain. Tapi ia tak diizinkan memberitahu orang yang ia tuju untuk melepaskan kepergiannya dengan ikhlas. "Kau tidak bisa mengatakan padanya, kalau kau adalah kekasihnya. Meskipun kau kekasihnya, kau tidak bisa mengungkapkannya. Kalau kau meminjam tubuh orang lain maka kau harus menjadi seperti orang itu. Jika kau masuk ke mimpi orang lain, kau hanya diizinkan menyampaikan tujuanmu pada orang itu. Tidak boleh mengatakan dia harus ikhlas dengan kepergianmu."
Rani protes, kalau ia tidak boleh berkata ia adalah Rani, bagaimana bisa ia berbicara dengan Raka, kalau Raka tidak tahu itu adalah dirinya. Pasti Raka takkan mempercayainya. Itu sama saja dengan percuma. Raka pasti mempercayai, jika ia yang menjelaskannya langsung. Sedangkan sudah diberitahu langsung di sisa waktunya berakhir, Raka tetap saja masih salahpaham dan mengira cinta yang Rani sebutkan padanya bukan untuknya.
Sosok itu berkata, "Aku sudah bilang kalau ini tidaklah mudah, jika semudah itu buat apa pinjam tubuh orang lain? Jika kau muncul di depan orang yang kau cintai dan meminta sesuatu darinya, apa mereka tidak akan mengabulkannya? Tentu mereka akan mengabulkannya. Kau harus ingat, Kau hanya dibolehkan untuk memberitahunya bukan untuk meminta sesuatu darinya." Rani mengangguk dan berkata ia akan mengingatnya.
__ADS_1
Aturan Ketiga, Rani harus memastikan Raka untuk mengikhlaskan kepergiannya dan membayar kebahagiaannya, setelah ia berhasil memberitahu apa yang ingin ia sampaikan.
"Aku yakin Raka pasti akan melepaskanku pergi setelah ia mengetahui semuanya. Hatinya akan lega jika mengetahui bahwa perasaannya bukan hanya perasaan sepihak. Maka ia akan mengikhlaskanku dan aku bisa pergi dengan tenang mengikutimu," ucap Rani penuh keyakinan.
Sosok itu kembali mengingatkan bahwa pilihan yang Rani pilih ini tidaklah mudah. Ia hanya diberikan waktu selama 330 hari untuk memastikan Raka mengikhlaskannya dan juga ia harus memastikan kebahagiaannya. "Jika kau melewati batas waktu yang diberikan maka kau akan tetap menjadi roh dan tidak akan bisa menuju keabadian."
"Bagaimana caraku memastikan kebahagiaannya?" Rani bertanya.
"Dia harus menggantikan posisimu yang tak tergantikan. Dia tidak bisa selamanya mencintai orang yang sudah tiada. Dia harus temukan cinta sejatinya yang lain setelah kepergianmu. Kau harus pastikan kebahagiaannya dengan begitu."
Ini memang sulit. Bagaimana caranya menemukan cinta sejati yang lainnya, jika cinta sejati itu hanya dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia lakukan?
Sosok itu berkata, "Bukankah kau sudah melakukan itu? Kau bahkan memilih membiarkannya bersama dengan sahabatmu. Padahal kau tahu dia mencintaimu."
Penyesalan memang selalu datang diakhir. Begitulah akhir dari cintanya yang bahkan belum dimulai. Satu kesalahan yang menghancurkan segalanya.
"Apa kau tidak bisa membantuku? Apa kau yakin tidak bisa mengembalikan rohku ke tubuhku?" Rani masih memikirkan segala kemungkinannya.
"Aku tidak mencampuri urusan manusia, Aku sudah bilang aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan padaku."
Bagaimana pun Rani harus menjelaskan perasaannya pada Raka. Ia tidak punya pilihan lain selain pilihan kedua. Meskipun resiko itu berat ia harus melakukannya.
"Apa rencanamu?" Tanya sosok itu melihat Rani sedang berpikir keras.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan melakukannya. Pertama aku harus meminjam mimpi Mitha. Aku harus beritahu dia tentang You're My Destiny, kemudian dia akan membawa buku itu pada Raka. Setelahnya, Raka akan membaca dan mengetahui isi tulisan yang aku sematkan dalam buku itu. Lalu dia percaya bahwa Aku juga mencintainya dan dia akan berpikir supaya aku bisa pergi dengan tenang, maka dia harus mengikhlaskan kepergianku."
"Bagaimana jika itu gagal?"
Rani mendelik tajam, sosok itu sama sekali tak membantunya. Bukannya menyemangatinya malah menjatuhkannya dengan rencana yang mungkin akan gagal.
"Mitha akan membantuku membuat Raka mengikhlaskanku. Cinta tumbuh karena terbiasa. Cinta Mitha pada Raka akan membuat Raka melepaskanku dan menerima kembali keberadaan Mitha."
"Kau tidak boleh memberitahunya untuk mengikhlaskanmu. Apa kau bisa jamin Mitha takkan mengatakan itu untuk membuat Raka melepaskanmu? Lalu apa kau juga bisa jamin Raka akan bahagia bersama Mitha?" Sosok itu mengingatkan Rani poin terpentingnya.
Ikhlas itu disaat kau tak mengatakannya. Tapi membiarkannya terjadi begitu saja. Ikhlas itu disaat kau tulus melepaskan tanpa diketahui oleh siapapun termasuk diri sendiri.
"Kenapa kau selalu berkata kegagalan?" Rani mulai kesal dengan sosok yang berada disampingnya.
"Karena mengikhlaskan itu tidak mudah sama halnya dengan mencintai." jawabnya dengan santai.
"Aku harus mencobanya. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi jika kita tak mencobanya. Setidaknya aku harus lakukan rencanaku terlebih dahulu." Rani sudah bertekad.
Waktunya sudah mulai berjalan. Dalam waktu 330 hari ia harus membuat Raka bahagia dengan mengikhlaskan kepergiannya. Begitu juga dengannya harus ikhlas melihat Raka menemukan cinta sejati yang nyata. Ini semua demi cinta mereka yang berakhir bahkan sebelum dimulai.
Banyak harga yang harus dibayarkan untuk sebuah pengorbanan. Banyak hal yang mesti ditebus demi sebuah ketulusan.
"Aku tidak bisa membantu karena aku tidak mencampuri urusan manusia. Semoga kau berhasil dengan percobaanmu yang pertama. Aku harap juga berakhir dengan cepat. Sehingga urusanku denganmu cepat selesai. Kita akan kembali bertemu saat kau berhasil ataupun gagal. Waktumu tersisa 329 hari 23 jam 30 menit untuk menuju keabadian dengan tenang." Rani sudah mantap mencoba rencananya.
__ADS_1
******
Berikan Cinta kalian dengan vote, like dan komentar di bawah yaaa*...