
Setiap perkataan yang diucapkan Rani semalam masih menghujam hati dan pikiran Raka. Kini ia seperti orang yang kehilangan tujuan hidup. Tidur tak nyenyak, makan tak enak. Ia masih memikirkan cara mendapatkan Rani atau cara membenci Rani. Tentu saja cara yang kedua masih berat untuk ia lakukan. Ia takkan bisa membenci Rani, hatinya menolak melakukan itu.
Saat ini ia sedang merenung di taman Fakultas. Cuaca sangat baik hari ini. Tak hujan tak juga panas menyengat. Mitha yang kebetulan lewat memperhatikan Raka. Ia merasa khawatir melihat Raka tak bersemangat.
"Ran, kamu yakin gak menyukai Raka?" Mitha kembali bertanya kepada Rani yang berada di sebelahnya.
Rani memaksa untuk menggeleng dan tidak mengeluarkan sepatah kata.
"Bahkan untuk sekalipun atau sedikitpun?" Mitha kembali bertanya memastikan,
"Bisa tidak, kita tidak membahasnya, Tha?" Rani menyangkal.
Mitha menghela nafas, sulit sekali mendapatkan jawaban dari Rani.
"Aku akan ke perpustakaan, Kamu duluan saja ke kantin." ujar Rani tak ingin berlama-lama dengan Mitha. Jika Mitha terus mendesak, ia bisa keceplosan mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu saja." Mitha menolak untuk ikut ke perpustakaan.
Setelah Mitha memastikan Rani tak terlihat hingga sampai ke perpustakaan. Ia memutuskan untuk menghampiri Raka.
"Raka, aku boleh duduk?" Mitha memberanikan diri
__ADS_1
Raka menoleh dan menatap Mitha. Kemudian memperbolehkan Mitha untuk duduk.
"Apa yang sedang mengganggumu?" Tanya Mitha dan ingin membantu masalah yang di hadapi Raka
"Tidak ada." Raka berat hati membagi masalahnya.
"Apa semua tidak berjalan sesuai keinginan?" Tanya Mitha lagi
"Yaa begitulah. Aku masih mengusahakannya, membuatnya tertarik, tapi kenapa sudah sekali untuknya menerimaku?" Raka mengiyakan dan tampak sangat putus asa.
"Aku berfikir dan masih membayangkan betapa beruntungnya dia yang kamu sukai." tukas Mitha
Raka hanya mendengar tanpa merespon.
"Karena aku menyukainya, tidak ada alasan lain." ujar Raka enteng karena memang tak ada alasan lain. Cintanya hanya terasa begitu saja. Tak ada alasan untuk menjelaskan kenapa cinta itu terjadi.
"Rani??" Mitha menyebutkan satu nama yang membuat jantung Raka berdebar.
"Kamu tahu? Apa kamu tidak masalah?" Raka kembali bertanya-tanya tanpa mengiyakan jawaban Mitha.
Mitha mengangkat wajahnya ke atas. Melihat langit jauh dari pandangannya. Menghembuskan nafas berat. Ia sedang menahan air matanya agar tak tumpah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa jika kamu menyukainya dan dia juga menyukaimu." jawab Mitha.
"Kenapa kamu baik sekali?" tanya Raka sekali lagi tak menyangka itulah jawaban yang di berikan Mitha.
"Karena aku tidak bisa menjadi pemeran utama di hatimu. Maka aku hanya harus bersikap baik di dekatmu." jawab Mitha
"Mitha?" Raka memandang Mitha kasihan. Orang inilah yang telah ia sia-siakan. Padahal orang ini sangat menyukainya tapi kenapa ia tak bisa menerimanya?
"Iyaa?" Mitha menjawab dengan lembut.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku sudah menyakiti perempuan baik sepertimu. Tapi aku harap kamu bahagia." jelas Raka.
"Jangan khawatirkan aku, itu bisa membuatku mengharapkanmu kembali." terang Mitha
Raka mengangguk ia takkan mengucapkan itu lagi. Ia berterimakasih Mitha sedikit menghiburnya. Meskipun tak dapat mengobati luka yang diciptakan Rani semalam. Tak habis pikir Rani tega mengatakannya. Namun tak bisa juga ia katakan kepada yang lain betapa tersiksa batinnya karena Rani.
Jika ia ceritakan pada Kevin yang ada Kevin malah akan semakin memakinya. Raka benar-benar tersiksa. Tidak ada kata-kata yang dapat menjelaskan seberapa buruknya ia hari ini. Cinta benar-benar sudah merubahnya. Namun cintanya pada Rani takkan mudah berubah. Masih tersimpan pengharapan baginya agar Rani berbalik menatapnya dan mengatakan hal yang sama.
*****
Disaat Rani sampai di perpustakaan. Ia langsung mengambil buku yang biasa ia pakai. Buku tebal yang selalu menjadi temannya. Seluruh rahasia, semua yang ia rasakan tersimpan baik dalam buku ini. Buku yang menjadi kotak pandoranya. Setiap cerita yang ingin disampaikan tertuang dalam buku ini. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mau tahu.
__ADS_1
Setelah menuliskan beberapa kalimat di atas post it card. Ia menempelkannya dalam buku. Kembali menatap langit-langit dan tanpa sadar air mata bergulir. Tak mampu ia menghentikan air mata itu. Tak sanggup lagi menahannya hingga ia menangis tersedu. Mengatupkan bibirnya agar tangisannya tak terdengar pengunjung lain. Menenggelamkan wajahnya di dalam buku tersebut tanpa orang lain melihat derita apa yang sedang ia alami. Ia ingin melepaskan tiap rasa yang ia pendam. Tak sanggup lagi menahannya. Ia juga ingin bebas mengatakannya. Seperti yang Raka lakukan dengan begitu mudahnya.
Sungguh menyedihkan sekali. Melihat begitu menderitanya Rani saat ini. Apakah harus ia lakukan ini? Sampai kapan ia menyiksa Raka dengan menyembunyikan perasaannya?