
Haloo guyss... Happy Reading!!!
Sebelum baca udah difavoritekan belum? Biar kalian gak ketinggalan info updatenyaa....
Terusss kalau kalian sayang, kasih VOTE dan LIKE yaa kalau kalian pengen komentar, silahkan isi kolom KOMENTAR juga...
Maaf ya Author sedikit bawel hehehe...
Oke, Silahkan nikmati dan semoga suka~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Roh Rani yang sudah keluar dari tubuhnya membuat Risa kaget saat mendapati dirinya di punggung Raka. Refleks Risa meminta maaf dan meminta Raka untuk menurunkannya. Tapi Raka menolak, "Tidak apa-apa Risa, aku tidak keberatan melakukan ini. Kondisimu sedang tidak baik, pasti menderita terkurung di sana selama dua jam."
Risa pun pasrah digendong sampai mobil oleh Raka. Ia pun semakin mengeratkan pegangannya di pundak Raka. Roh Rani masih memandangi mereka yang pergi dan melihat dari kejauhan dengan wajah sedih.
Bingung dengan perasaannya yang terasa berat, Rani harus meyakinkan dirinya sendiri kalau ia adalah roh, bukan lagi Rani yang bisa dimiliki Raka. Ia memutuskan pergi membiarkan Risa dan Raka berduaan. Ia duduk di taman tempatnya biasa merenung. Kini ia berputar-putar di ayunan untuk meluruskan pikiran, ia tidak memikirkan orang-orang yang kebetulan lewat langsung lari ketakutan karena tak ada siapapun sementara ayunannya berputar sendiri.
__ADS_1
Sosok itu datang lagi, ia duduk di ayunan satunya lagi. Ia penasaran dengan perkembangan rencana Rani. Meskipun merasa aneh, Rani menjelaskan padanya dengan wajah yang berseri bahwa rencananya berjalan lancar. Sosok itu ikut senang karena berarti semua hampir berakhir. Rani mengiyakan, ia yakin semua akan berhasil sebelum waktunya berakhir dan Rani juga meyakinkannya agar tak perlu lagi khawatir. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini dan kembali menuju keabadian tanpa ada lagi keraguan.
Sementara itu di Rumah Baca, Risa sedang mencubit pipinya saking tak percayanya dengan apa yang Raka lakukan padanya tadi. Ia bahkan kini sedang senyum-senyum sendiri membayangkan yang terjadi tadi seperti mimpi. Lalu tiba-tiba Roh Rani datang mengagetkannya.
“Bagaimana rasanya? Mendapat perhatian lebih dari orang yang kau sukai? Menyenangkan, kan?” goda Rani. Risa mengangguk malu, tapi tetap saja ia tak percaya. Rasanya seperti mimpi, tapi juga khawatir kalau ini bukan mimpi. Setidaknya kalau ini mimpi, ia bisa bangun dan tak merasa sakit. Rani mengeluhkan Risa yang berlebihan, mereka harus menghadapinya, jadi ia bisa menuntaskan tujuannya dan Risa juga mendapatkan Raka untuknya. Rani meyakinkan kalau Risa hanya perlu percaya dan mengikutinya. Risa tersenyum dan menautkan tangan mereka tanda setuju.
"Tapi apakah Raka akan tertarik padaku?" Risa masih tidak percaya dengan rencana Rani. "Apa yang membuatmu tertarik padanya?" tanya Rani penasaran.
Risa menjelaskan bahwa kebaikan dan tanggung jawab yang dimiliki Raka-lah yang menjadi daya tariknya. "Kenapa kau bertanya? Bukankah kau sudah tahu apa yang membuatnya menarik?" ucap Risa. Roh Rani mengangguk. Risa benar. Ia tahu apa yang membuat banyak perempuan menggilai Raka, termasuk dirinya. Terutama dirinya sangat menyukai kehangatan yang diberikan Raka dengan tulus. "Benar. Dia selalu tulus pada siapapun."
Setelah melihat wajah Raka, Rani kembali frustasi dan meminta sosok itu mendatanginya. “Kau pasti kaget tiba-tiba aku memintamu bertemu. Biasanya kau yang selalu menggangguku,” sapa Rani. Sosok itu benar-benar kaget dan ia memilih duduk di samping Rani. Ia bertanya di dalam hati sambil melirik Rani, "Apa yang terjadi dengannya?"
"Aku butuh seorang teman yang bisa diajak bicara," Rani tersenyum tapi sorot matanya terlihat sendu. "Ada apa denganmu?" tanya sosok itu.
Rani memberitahunya, ia baru saja melihat Raka. "Kenapa wajahmu tampak tak senang? Bukankah rencanamu berjalan dengan baik?" Sosok itu menimpali Rani dengan berbagai pertanyaan. Rani berkata ia juga tak tau kenapa ia seperti ini, rencananya berjalan dengan baik tapi ia tak merasa bahagia. “Aku pikir aku ... sangat menyukainya, sampai teras berat untuk melepaskannya. Kau benar. Ikhlas itu tak bisa dipaksakan," jawab Rani.
Rani sadar ia hanya sementara meminjam tubuh Risa. Tapi, ia hanya sangat bingung, ini pilihannya lalu kenapa ia menjadi serakah? Ia yang menginginkan ini tapi sekarang, kenapa malah sulit merelakannya?
__ADS_1
"Aku ini benar-benar aneh, kan?" ujar Rani. Sosok itu lalu meminta Rani melupakannya, “Kau tahu, hal apa yang paling berbahaya untuk roh sepertimu? Itu adalah perasaan. Kau akan salah berpikir kalau kau manusia dan merasakan sakit, sedih, dan bahagia. Saat itulah kau akan mulai tamak. Meski sebagai roh, kau akan tamak dan ingin tetap berada di sini. Tapi roh jahat berbeda, mereka ada di dimensi yang berbeda dari roh sepertimu saat merasuki manusia. Mereka tak akan bisa mati, dan berkeliaran melakukan hal jahat. Aku tidak ingin kau berubah menjadi roh jahat. Oleh karena itu, kau harus bisa melupakan perasaanmu dan kembali fokus pada pilihanmu. Itu sebabnya aku selalu memperingatkanmu bahwa ini tidaklah mudah.” Sosok itu ingin Rani segera melupakan perasaanya dan segera menuntaskan tujuannya, lalu pergi ke tempat yang lebih baik, yakni menuju keabadian. Itulah pilihannya. Jika terlalu lama, Rani-lah yang akan tersakiti.
Rani yang sudah menangis hanya mengangguk dan sosok itu memeluknya prihatin. Rani tersedu-sedu dalam pelukan sosok itu sambil meyakinkan diri kalau ia harus pergi menuju keabadian. Ia tak mau hidup seribu atau sepuluh ribu tahun sebagai roh jahat. Seharusnya ia bahkan tak perlu berpikir dua kali, jadi ia hanya akan pergi dan menuntaskan tujuannya selama tiga ratus tiga puluh hari ini. Ia berusaha semangat, tapi yang ada ia malah makin frustasi. Tapi tak ada pilihan lain, jadi ia harus pergi.
*****
Keesokkannya, Raka membawakan Risa sebuah kipas angin. Ia pikir ini sangat dibutuhkan oleh Risa karena akhir-akir ini cuaca sangatlah panas. Raka sangat memperhatikan kondisi Risa dan calon bayinya.
Mereka duduk saling berhadapan saat Raka memasangkan kipas anginnya. Sambil memasangnya, Risa mengajaknya berbicara. Meskipun sebenarnya Risa yang ia kenal sebelumnya tak seperti ini. Risa yang ia kenal tak banyak bicara, tapi setelah mereka bertemu kembali ia jadi lebih banyak bicara. Risa mengatakan, akhir-akhir ini ia bisa melakukan banyak hal yang tak bisa ia lakukan sebelumnya. Ia bahkan tak pernah memimpikan ini sebelumnya karena sangat sibuk dan keadaan juga tak membantu.
“Apa ada hal lain yang belum pernah kau alami?” tanya Raka ingin menghiburnya.
"Terlalu banyak dan aku tidak ingin merepotkanmu, perjalanan ke pantai kemarin saja sudah cukup menghiburku," jawab Risa. Raka nyaris tak percaya, "Apa yang kau lakukan selama ini?"
Risa menjawab sejak kepergian Ari, ia hanya sibuk melakukan ini dan itu. Ia sibuk melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup. Ia tak punya waktu untuk bersenang-senang. Ia lalu berterimakasih pada Raka, berkatnya ia bisa mengalami hal-hal yang menyenangkan lagi dengan tinggal di Rumah Baca ini. Ia juga bersyukur dipertemukan lagi dengan Raka.
Kali ini gantian Raka yang terdiam. Ia melihat sorot mata Risa yang penuh dengan ketulusan. (Jangan-jangan ia mulai tertarik pada Risa?)
__ADS_1