Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Demi Kebahagiaannya


__ADS_3

Halooo guyss... Happy Reading!!!


Sebelum baca udah difavoritekan belum? Biar kalian gak ketinggalan info updatenyaa....


Terusss kalau kalian sayang, kasih like yaa kalau kalian pengen komentar, silahkan isi kolom komentar juga...


Maaf ya Author sedikit bawel hehehe...


Oke, Silahkan nikmati dan semoga suka~


******


Sosok itu menghela nafas dan berkata dia tidak bisa membantu. Dia tidak bisa mencampuri urusan manusia, jika melanggar pasti kena hukuman. Rani putus asa dan dia terlihat sangat sedih. Sehingga sosok itu tak tega melihat Rani sedih. Sosok itu berkata, "Tunggu sebentar, hanya ada satu cara ... Kau bisa berbicara langsung dengannya jika kau mau, tapi ada konsekuensinya, kau akan kehilangan tiga hari dari sisa harimu."


Rani berubah menjadi ceria dan kesal, "Aku bisa berbicara dengannya. Itu artinya dia juga bisa melihatku? Kenapa kau tak memberitahuku sejak awal? Kau hanya berkata, aku bisa meminjam mimpi dan tubuh orang lain. Kenapa baru beritahu sekarang? Apa kau sengaja mempermainkanku?!" Rani menyalahkannya karena sudah membuang waktu Rani dengan percuma.


Sosok itu mengingatkan, "Jangan terburu-buru, kau ini roh yang belum bisa kembali menuju keabadian. Kau boleh menghabiskan waktumu dengan sesuka hati tapi gunakan waktumu dengan sebaik-baiknya. Tapi yang aku lihat selama ini kau tak berusaha melakukannya. Kau ini beban terakhirku dalam masa 250 hari ini. Jangan buat ini menjadi sulit. Aku akan terkena masalah jika tidak bisa membawamu menuju keabadian."


Rani merasa ini lebih penting bahkan dia rela waktunya dipotong lebih dari itu asal Raka bisa mendengar dan melihatnya langsung. Dia sangat tersiksa selama ini hanya melihatnya dari kejauhan, "Satu hari menentukan nasibmu. Kau bisa berakhir menjadi roh jahat atau kau bisa berakhir tenang dalam kedamaian." Sosok itu masih saja mengomel. Rani tak mendengarkan, ia sedang senang dan tidak peduli dengan waktunya akan cepat sekali habis. Toh waktu yang diberikan padanya masih banyak tersisa. Itu berarti akan mudah baginya membuat Raka mendengarnya.


Tapi sosok itu minta Rani memikirkannya baik-baik sebelum menggunakannya. Dia tidak bisa melakukan segalanya untuk Rani. "Kau ingat jangan buat masalah dan selalu ingat aturannya. Kau tak boleh memberitahunya tapi kau harus membuatnya melupakanmu."


Rani mengerti. Pertama, dia akan menghibur Raka terlebih dahulu. Ia akan berikan kebahagiaan padanya meskipun hanya di dalam mimpi. Ia akan membayar suatu hal yang tak bisa ia lakukan semasa hidupnya. Rani terus menerus mengucapkan terima kasih pada sosok itu. Rani janji tidak akan membuat masalah. Ia pastikan akan pergi menuju keabadian sebelum waktunya habis. Tapi sosok itu kelihatan gelisah, saran yang ia berikan pada Rani memiliki konsekuensi yang harus ia tanggung. Tapi demi kebahagiaan gadis itu ia rela menanggungnya. "Kau masih saja sama seperti dahulu. Kau tak pernah berubah," ucap sosok itu di dalam hati sebelum ia beranjak pergi.


Rani memulai rencananya. Persis seperti di bab-bab sebelumnya. Dalam mimpi Raka, selalu ada Rani. Ia membuat Raka selalu tersenyum di dalam mimpinya. Hal yang selalu ia ingin lakukan bersama Raka akhirnya ia lakukan meskipun hanya di dalam mimpi. Raka bisa melihat dan merasakan kehadirannya di sampingnya. Itulah kebahagiaannya.

__ADS_1


Saat ini Raka sedang di studio musik. Ia memainkan melodi yang mereka sukai. Tanpa sepengetahuannya Kevin selalu mengikuti dan mengawasinya. Sikap Raka seperti orang gila membuat Kevin sangat mengkhawatirkannya.


"Piano itu, melodi itu, tingkah laku itu, gerak-gerik dan ekspresinya, semua seperti orang gila. Lo bersikap seolah Rani masih hidup dan sedang berada di samping Lo. Lo bahagia sekarang? Bodoh. Lo malah seperti orang gila yang sangat menyedihkan," umpat Kevin dalam hatinya.


"Raka, Gw mohon, jangan seperti ini." Kevin meninju jendela tempat ia mengintip Raka.


Kevin sangat putus asa melihat sahabatnya seperti itu. Hingga akhirnya Mitha memberitahunya segala hal tentang Raka dan Rani. Tentang buku yang ditinggalkan Rani juga. Mitha juga berpikir setelah ia memberikan buku itu Raka akan menyerah terhadap Rani dan memberi ruang di hatinya. Tapi ia salah, Rani takkan terganti bagi Raka.


Mitha menjelaskan pada Kevin bahwa Rani meninggalkan buku itu beserta perasaannya untuk Raka agar ia bisa mengetahuinya. Rani melakukan itu untuk membuat Raka bahagia. Tapi sikap Raka yang seperti ini tentu akan membuat Rani kecewa.


Kevin membenarkan dan dia menginginkan Mitha untuk membantunya mengembalikan kesadaran Raka seperti semula, "Jika kau merasa bersalah dan ingin menebusnya, kau harus membantuku. Kita harus buat Raka kembali dan melupakan Rani. Meskipun itu tidak mudah."


"Aku tahu sebabnya mengapa Rani lakukan itu pada Raka. Ia sengaja membiarkannya salah paham karena baginya cinta itu adalah membiarkan orang salah paham. Dia tidak menjelaskannya karena dia lebih memilih agar aku tidak terluka. Aku tahu betapa sakitnya melakukan itu, aku tahu sekarang. Menyembunyikan perasaan jauh lebih sulit daripada mengerti hatimu." Tiba-tiba Mitha terisak.


Kevin mengasihaninya dan mengatakan bahwa ini semua sudah terjadi dan bukan salah siapapun. "Kita masih belum terlambat untuk memperbaikinya. Raka berhak bahagia dan kau juga berhak bahagia. Aku rasa itu yang ingin Rani sampaikan padamu lewat mimpimu."


Lalu Kevin memberitahunya bahwa kegilaan Raka tak bisa lagi dibiarkan. "Tadi dia minta bantuan Gw untuk mempersiapkan segalanya. Dia pikir dia akan melamar Rani. Gw gak habis pikir, siapa yang mau dia lamar? Rohnya Rani? Apa itu mungkin? Pokoknya Lo harus bantu Gw, Tha. Buat Raka kembali normal. Biar Gw yang urus semua, Lo hanya perlu datang dan katakan padanya, dia harus mengikhlaskannya supaya Rani bisa tenang. Ini tidak hanya demi dirinya tapi ini semua demi kebaikan kita semua."


*****


Rani senang sekali karena Raka akhirnya bisa sadar setelah Kevin dan Mitha bekerjasama membuatnya sadar. Di malam yang berhujan itu menjadi akhir bagi Rani memperlihatkan rohnya di hadapan Raka.


Meskipun berat tapi ia bisa kembali tenang menuju keabadian. Apa yang ingin diberitahu sudah ia dapatkan. Raka mengetahuinya dengan benar dan juga sudah mendapatkan kebahagiaannya. Malam ini Raka juga sadar bahwa ia harus mengikhlaskan kepergian Rani karena Rani mencintainya.


"Aku akan benar-benar pergi untuk selamanya. Selamat tinggal. Kuharap kau bahagia." Rani meninggalkan mereka pergi untuk bersiap menuju keabadian.

__ADS_1


Rani segera menuju taman. Ia harus segera menemui sosok itu dan memberitahunya. Kini ia sudah siap mengikutinya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana Raka sadar dan berkata harus mengikhlaskan kepergiannya. Lega rasanya ini berakhir dengan cepat.


Berkali-kali ia berkata terima kasih, "Terimakasih Tuhan, Kau memberikanku kesempatan yang tak sia-sia. Kini semua sudah selesai. Aku akan kembali ke pangkuan-Mu. Jangan buat Raka menderita lagi."


"Dimana dia?" Rani mencari keberadaan sosok itu. Lalu terdengar suaranya, "Apa yang kau lakukan? Kau mencariku? Kau gagal lagi! Aku sudah menyerah, jangan tanyakan lagi. Aku sudah tak punya cara lain." Sosok itu mencecarnya sebelum Rani memberitahunya.


"Hei! Tutup mulutmu dan biarkan aku bicara sekarang!" Rani menyuruhnya diam. Tiba-tiba dia langsung memeluk sosok itu, "Aku berhasil, Raka sudah mau mengikhlaskanku dan dia bahagia."


Sosok itu menjadi gugup dan langsung mendorong Rani menjauh. Ia membersihkan bajunya. Rani pun tercengang padanya. "Hei, kenapa kau melakukan ini? Kau harusnya senang karena aku memelukmu duluan. Kau pikir aku kotoran?!"


"Kau bukan tipeku. Kita tidak bisa seperti ini. Jika aku terlibat hubungan asmara, aku akan dihukum dengan berat. Jangan lakukan lagi!" Sosok itu membohonginya. Jantungnya tak bisa tenang saat Rani memeluknya.


Rani meminta maaf, ia hanya sangat gembira dan ingin membaginya. "Aku juga tidak menyukaimu. Sudahlah, lupakan itu. Aku sudah berhasil!"


"Kau percaya kau sudah berhasil? Kau tidak melupakan satupun?" ucap sosok itu meragukannya.


"Tentu saja. Dia sudah mengikhlaskanku dan dia akan bahagia. Aku dengar sendiri, kau tidak mengetahuinya?" jawab Rani.


"Aku tahu. Tapi aku masih belum bisa membawamu bersamaku." Sosok itu baru saja memberitahu Rani bahwa dia belum berhasil menuju keabadian.


Rani bingung dan sosok itu kembali menjelaskan, "Kau harus lakukan dua hal. Kau hanya fokus pada yang pertama saja. Urusanmu selesai jika dia menerima kepergianmu setelah kau katakan urusanmu dan kau harus memberikan kebahagiaannya."


"Aku sudah lakukan itu, aku memberinya kebahagiaan yang seharusnya aku berikan sejak lama." Rani percaya diri sekali kebahagiaan yang dimaksud adalah memberikan Raka cinta dan kasih sayang yang tertunda ia berikan.


"Bukan kebahagiaan itu yang dimaksudkan. Kau harus menemukan cinta baru untuknya maka dari situlah baru bisa diketahui bahwa kau bisa pergi denganku atau tidak." Rani telah salah paham selama ini. Hal itu terjadi karena dia sering menghiraukan peringatan dari sosok itu.

__ADS_1


"Aku sudah katakan, ini sangat sulit. Kalian berdua harus saling mengikhlaskan demi kebahagiaan bersama."


__ADS_2