Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
~Sebelum Kegilaan Raka~


__ADS_3

Rani pergi untuk selamanya. Matanya tetap tertutup saat Raka memberikan ciumannya. Raka benar-benar terpukul harus menerima kenyataan ini. Ia berharap Rani akan bangun tapi Rani tidak bangun untuk mengulang kalimatnya yang tersendat tadi. Ia tak bisa mendengarnya lagi dan tak bisa membalasnya. Ia hanya berfikir itu bukan dirinya. Bukan dirinya yang Rani cintai.


"Kenapa cinta begitu sulit? Apa ini benar? Apa aku satu-satunya? Aku bahkan tak pernah bisa melihat wajah cantikmu lagi. Aku tak bisa hanya melepaskanmu seperti ini. Kenapa cinta sangat menyakitkan? Apa ini benar? Apa aku satu-satunya? Aku bahkan takkan pernah bisa lagi memegang tanganmu yang putih. Aku tak bisa hanya melepaskanmu seperti ini. Jalan yang berbahaya ini sehingga kau tak bisa kembali. Bagaimana mungkin kau berjalan di atasnya meninggalkanku? Jalan berbahaya ini sehingga aku harus bertahan. Kenapa kau berjalan di atasnya? Kenapa kau tinggalkan aku? Hari-hari indah yang sudah aku tunggu akan datang. Tapi kau sudah meninggalkanku. Penantianku yang panjang telah lewat. Tapi kenapa kau meninggalkanku?" Air mata tak henti bergulir saat Raka harus merelakan kepergian Rani.


Hidup Raka berjalan seolah waktu berjalan lambat. Ia membenci waktu. Benar, waktu tak memihak padanya. Benar, waktu tak memberinya jawaban. Waktu hanya acuh padanya dan mengambil segalanya darinya.


Raka mengutuk hujan yang turun. Hujan yang merenggut hatinya pergi meninggalkannya. Hari yang berhujan memberi skenario kejam baginya. Saat ia bertemu, hujan turun menghujam jantungnya tak berhenti berdetak. Sehingga lidahnya kelu tak berani berucap sapa untuk pujaan hatinya. Saat hujan turun ia menyaksikan pujaan hatinya tergeletak tak berdaya menahan sakit yang mencekam. Ia benar-benar tak berdaya saat hujan turun.

__ADS_1


Rasanya seolah hati Raka telah hancur berkeping-keping. Ia merasa seolah mati rasa dan terasa begitu sakit. Kata-kata dingin dan singkat dari Rani masih terasa tapi itu tak berarti buruk. Ia lebih baik mendapatkan perlakuan buruk itu daripada harus merelakan kepergian Rani yang meninggalkannya. Ia bisa bertahan dengan setiap dorongan Rani untuk menjauh tapi ia tak bisa bertahan sedetikpun tanpa melihat Rani.


Untuk sementara waktu ia hampir tak bisa melewati ini. Ia merasa akan begitu terpuruk jika tanpa Rani. Lalu ia akan tersiksa saat merindukannya, ia tak tahan lagi menanggungnya. Di sudut hatinya, masih menginginkan Rani. Meski hanya sebentar ia selalu menginginkannya. Ia ingin Rani kembali. Kenapa kisah ini harus berakhir bahkan sebelum dimulai?


Raka tak bisa tidur karena memikirkan dan merindukan Rani. Tiada hari tanpa Rani. Tiada hari tanpa merindukan dan memikirkan kekasihnya itu. Membuatnya terlihat menyedihkan dan terpuruk.


*Aku terus-menerus merasa takut karena mencintaimu. Kau akan menjauh jika aku memintanya. Aku seperti orang bodoh yang tak bisa berkata apapun, aku telah membohongimu dan hatiku. Selalu saja. Hatiku memanas saat memikirkanmu, karenamu aku merasakan sakit, mengeluh, tertawa dan menangis yang tak berguna. Karenamu aku begini, karena kau yang kucintai. Berkali-kali pun aku tak bisa bertahan. Berkali-kali aku mendorongmu menjauh, bertubi-tubi kalimat kasar aku timpakan untuk mendera hatimu. Tapi kamu masih saja bertahan. Kamu semakin menyulitkanku. Kamu masih saja mengejarku dan menginginkanku. Bagaimana aku menghadapimu lagi? Semakin kamu mengejar dan menginginkanku, aku juga semakin kau tarik untuk menginginkanmu. Aku terus menerus menangis dan menjadi serakah karenamu. Kau tak bisa menghilang dari tatapanku. Meskipun aku menjauhimu, aku bohong aku tak menyukaimu. Meskipun aku menolak dan berkata kau harus membenciku, maka saat itu juga aku ingin kau semakin mencintaiku. You're my destiny. Seperti buku ini aku ingin kamu adalah takdirku*.

__ADS_1


Mitha melihat Raka bersedih setelah membaca banyak kalimat yang Rani sembunyikan di buku tersebut. Ia tersadar bahwa ia memang menjadi penghalang diantara kisah mereka. Tapi harus bagaimana lagi? Semua sudah terjadi dan takdir tak bisa disalahkan. Cintanya pada Raka pun juga tak bisa disalahkan.


"Raka, aku minta maaf.. Aku tidak tahu jika Rani juga menyukaimu. Aku menyesal. Aku tak pernah tahu apa yang ditulis Rani disana adalah isi hatinya yang sesungguhnya. Ia selalu menolak tegas dengan perkataan bahwa ia tak pernah menyukaimu. Aku tak tahu, sebagai sahabat ia selalu menjaga perasaanku. Tapi sebagai sahabatnya aku tak pernah tahu hatinya. Aku harap kamu memaafkanku, Raka. Bawalah buku itu bersamamu dan semoga buku itu bisa menghiburmu. Tapi aku juga tak bisa membiarkan dan meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini. Bertahanlah demi Rani dan berbagilah kesedihanmu padaku," ucap Mitha di sela ia memberikan buku itu pada Raka. Tapi sejak saat itu pula Raka malah menjauhinya. Raka menghindari Mitha seolah Raka tak pernah mengenalnya. Sikapnya seringkali berubah-ubah, tapi yang paling sering adalah ia menghindar dan menjauhi Mitha.


Setelah itu Raka bertingkah seperti orang kehilangan akal. Ia menganggap Rani masih ada di sampingnya. Ia bersikap seolah Rani masih hidup dan cintanya berhasil dimiliki Rani seutuhnya. Ia melupakan segalanya yang pernah terjadi. Bahkan ia melupakan bahwa Rani tak lagi di dunia ini. Ia juga lupa bahwa ia pernah memainkan permainan hati pada Mitha. Ia hanya ingat satu hal, Rani juga mencintainya seperti ia mencintainya. Cintanya bukan cinta terpendam tak terbalas. Begitulah ia menjalankan pertunjukkan yang menyedihkan ini. Cintanya pada Rani benar-benar mengubahnya menjadi orang yang kehilangan akal. Sehingga siapapun yang melihatnya akan mengasihaninya.


"Ku pikir aku kehilangan pikiranku saat itu. Bagaimana bisa kau meninggalkanku? Aku hanya mencintaimu dan aku benar-benar menyesal karena itu aku hanya bisa menangis. Aku benar-benar merindukanmu. Mohon maafkan aku. Kupikir aku kehilangan pikiranku sesaat. Saat aku tahu kenyataannya bahwa kau mencintaiku. Kenapa kau tak mengatakannya saat itu? Kenapa yang kau katakan hanya kalimat benci padaku saat itu? Sesulit itukah rasanya? Aku tahu bahwa itu terlalu terlambat sekarang. Bahkan jika aku sedih itu semua tidak berguna. Bahkan jika angin berhembus dan jantungku kesepian. Aku tidak bisa melihat dirimu lagi. Kau pergi untuk selamanya dengan membawa seluruh cintamu. Rani, jangan tinggalkan aku. Rani, dirimu adalah satu-satunya untukku dan datanglah kembali. Peluklah aku erat-erat. Aku tidak bisa bertahan tanpa dirimu. Kembalilah lagi dan dengarkan aku. Saat kau mengatakannya, aku tak bisa fokus dan hanya berfikir itu bukan untukku. Saat itu aku tidak bisa mengucapkan kata aku juga mencintaimu karena itu aku minta maaf. Aku juga tidak bisa mengatakan terima kasih karena kau sudah susah payah mengucapkannya sebab dirimu mungkin akan meninggalkanku. Datanglah kembali padaku, gadisku. Aku tidak bisa tidur hari ini karena dirimu. Aku bersalah sudah mengira itu bukan aku. Bukan aku yang kau cintai. Ku pikir aku kehilangan pikiranku saat itu. Kini aku benar-benar merindukanmu. Aku mohon maafkan aku. Aku ingin memeluk dirimu perlahan-lahan, aku ingin mencium dirimu perlahan-lahan. Aku ingin menerima cintamu perlahan-lahan. Aku ingin jatuh tertidur dalam pelukanmu. Seperti saat kau mendekap dalam pelukanku. Jangan hanya bawa cintamu tapi bawa jugalah diriku yang mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2