Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Dia Datang!


__ADS_3

Mahasiswa yang akan pergi perkemahan sudah berkumpul di depan Fakultas. Raka hendak mengurungkan niatnya untuk pergi karena ia ragu Rani juga akan pergi. Namun jika ia lakukan itu, akan aneh dan curiga bagi Mitha. Sebab ia yang mengajak Mitha pergi, setelah Mitha gagal mengajak Rani tidak mungkin ia tiba-tiba membatalkan kepergiannya.


Kevin sudah menunggu. Ia sangat antusias dan bersemangat untuk ikut karena ia tahu Lia ada di sini. Namun keberadaan Mitha masih belum terlihat. Padahal Ketua Pelaksana kegiatan sudah mengumumkan untuk segera memasuki bus masing-masing karena sebentar lagi akan berangkat.


Akhirnya Mitha datang bersama orang yang diinginkan Raka. Melihat hal itu malah membuat kepercayaan diri Raka semakin goyah. Itu berarti dia datang karena ingin membuktikan bahwasanya ia tak pernah sedikit pun menyukai Raka. Namun Raka tak boleh menyerah, ia harus meyakinkan dirinya dan kembali semangat hingga bisa mendapatkannya. Apa yang dilakukan Rani pasti hanyalah kebohongan. Matanya berkata kalau dia juga menyukai Raka. Meskipun yang ia lakukan malah yang sebaliknya. "Maaf kami terlambat." Mitha menjelaskan pada yang lainnya.


"Rani kamu datang?" Kevin terheran melihat Rani karena yang ia ketahui Rani tak pergi. Lalu Rani tersenyum dan mengangguk pada Kevin. Raka mendelik tajam ke arah Kevin, ia tak suka jika Rani merespon Kevin. Tapi dia malah menyalahkan Kevin, padahal yang tersenyum adalah Rani. Lalu Kevin pun tersenyum canggung. Ia bingung harus bereaksi bagaimana. Raka adalah sahabatnya dan dia juga tahu Raka menyukai Rani tapi bukan salah dia kalau Rani bersikap berbeda terhadapnya daripada Raka.


Daripada menjadi serba salah akhirnya Kevin memutuskan untuk meninggalkan situasi tidak nyaman itu, ia melarikan diri dari sasaran Raka. Lebih baik ia mendekati Lia. Sementara Rani sama sekali tak peduli dengan kehadiran Raka.


Bagaimana Rani bisa menghiraukan Raka yang ada di hadapannya?


Mereka kemudian menaiki bus. Mitha memilih duduk di samping Rani karena dia sudah mengatakan sebelumnya, takkan menjadikan Rani sebagai obat nyamuk meskipun Raka ada bersama mereka. Tapi Raka tak mempedulikannya. Ia masih memperhatikan Rani yang sibuk dengan aktivitasnya sendiri.


Rani bersikap seperti biasanya, memasang earphone di telinganya lalu hanyut dalam melodi yang ia dengarkan. Raka mengira pasti ia mendengarkan melodi yang mereka dengarkan bersama saat itu. Lalu sesekali Rani mengeluarkan novel yang ia bawa dan dibaca. Sepertinya Rani mulai bosan dengan perjalanan ini.

__ADS_1


Mitha menawarkan Raka cemilan yang ia bawa. Raka mengambilnya untuk menghargai Mitha. Tapi tatapannya tak lepas dari menatap Rani. Kini Rani tengah menutup matanya, ia pura-pura tertidur karena ingin membiarkan Mitha menikmati waktu bersama Raka. Tentu saja Mitha memanfaatkan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Raka. Banyak hal yang dibicarakan Mitha dengan sangat antusias tapi menurut Raka apa yang dibicarakan Mitha tidak menarik. Namun untuk menghargainya, ia tetap saja memasang wajah antusias dalam kondisi tidak nyaman tersebut.


Tega sekali dia memainkan perasaan Mitha. Membuatnya nyaman sementara dia juga tak menyukai itu. Raka benar-benar kejam!


Raka juga mulai merasa bosan. Keinginannya bisa dekat dan berbicara dengan Rani malah tak terwujud. Ia malah terjebak dengan permainannya menanggapi Mitha yang membuatnya semakin terasa membosankan. Sedangkan Kevin malah menghindarinya dan asyik menggoda Lia. Andai dia punya keberanian seperti Kevin, meskipun sudah ditolak tetap saja ia nekat untuk mendekat. Pasti ia takkan terjebak dengan permainan konyol ini. Semua ini memang hanyalah kesalahannya.


Perjalanan yang membosankan akhirnya usai. Mereka sampai di tempat tujuan. Semua orang berebut segera menuruni bus. Rani hampir saja terpeleset karena seseorang tak sengaja mendorongnya turun. Refleks Raka yang berada di dekatnya langsung menariknya sehingga ia tidak apa-apa. Bukannya berterima kasih atas itu, ia malah menghempaskan tangan Raka yang tengah memegangnya dan mendelik dengan tatapan tajam.


"Semuanya silahkan nikmati waktu kalian untuk beristirahat sejenak sebelum kita mulai kegiatan," perintah Ketupel dari pengeras suara dan semua anggota sudah turun dari bus.


"Kalau begitu kamu tinggal di sini saja." Rani sedikit bercanda pada Mitha. "Aku akan bersedia tinggal disini kalau selalu bersamamu." Tiba-tiba Raka menimpali ucapan Rani dan menatap ke arahnya. Situasi langsung berubah canggung setelah Raka berkata demikian. Rani mengernyitkan keningnya.


Apa Raka tak lihat ada Mitha? Apa dia sudah gila?


"Untuk apa dia mengatakan itu, mengacaukan suasana saja dan kenapa juga dia malah menatapku ... Mitha bisa saja salahpaham. Dia benar-benar sudah tidak waras," ucap Rani ngebatin.

__ADS_1


Raka tahu ia sudah bersikap aneh. Ia langsung melingkarkan tangannya pada bahu Mitha sehingga seolah-olah ia mengatakan itu pada Mitha untuk memecahkan kecanggungan.


"Tentu saja dunia serasa milik kalian berdua." Kevin ikut mencairkan suasana canggung yang terjadi karena ucapan Raka membuat semua orang terdiam.


Setelah itu, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Raka sedang melihat Rani dari kejauhan. Ia sedang sendirian, inilah kesempatan Raka untuk mendekatinya. Raka hendak menghampiri tapi sebelum itu ada seseorang yang datang berbicara dengan Rani. "Bagaimana ini? kita belum ada kayu bakar dan sebentar lagi akan gelap. Sementara itu kita harus memasak dan menghidupkan api," ucap orang itu cemas.


"Kalau begitu, ayo kita kumpulkan." Rani menawarkan diri. "Aku tidak bisa ikut karena aku punya hal lain yang harus dikerjakan," ucap seseorang itu.


"Bisakah aku ikut membantu?" ujar Raka yang tiba-tiba menhampiri. "Tentu saja. Sebelumnya aku berterimakasih karena kamu bisa ikut membantu kami ... Rani kamu bisa pergi dengannya," ucap seseorang itu meminta Rani pergi saja bersama Raka.


Rani tidak bisa menolak. Ia langsung saja berjalan tanpa menghiraukan Raka. Lalu Raka mengikuti dan menyeimbangkan langkahnya. Ia berjalan dengan sangat cepat karena ia tidak mau dekat-dekat dengan Raka. "Bisa tidak kamu jalan dengan sedikit pelan dan nikmati pemandangan yang diberikan alam ini dengan gratis?" ujar Raka yang malah ingin berlama-lama bersama dengan Rani.


Ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Namun Rani tak peduli. "Kenapa kamu selalu ikut campur? Apa tidak ada orang lain lagi yang bisa kamu ganggu?" ketus Rani.


"Apa kamu benar-benar tidak menyukaiku?" Raka kembali bertanya topik itu. "Harus berapa kali aku jelaskan dan buktikan, kalau AKU TIDAK MENYUKAIMU sedikitpun," tolak Rani dengan keras.

__ADS_1


"Sulit kupercaya," jawab Raka singkat. "Tak pernah aku memintamu untuk percaya, kenapa kamu tidak menjauhiku saja? Apa kamu tidak lelah mengejar orang yang tidak menyukaimu? Lebih baik kamu menghargai perasaan Mitha yang tulus padamu. Jika kamu tidak tulus dengannya, setidaknya jangan permainkan dia sebagai alat balas dendammu padaku. Kamu malah akan menyakitinya saja." Rani terdengar terus-terang. Ternyata memang benar, Rani menjaga perasaan Mitha. Secara tidak langsung ia sudah mengatakannya.


__ADS_2