Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Khawatir


__ADS_3

Rani berjalan begitu cepat sehingga tak memperhatikan langkahnya, ia hampir saja terperangkap masuk ke dalam lubang. Untung ada Raka di dekatnya dengan cepat menghentikan. Raka menarik tangannya hingga membuatnya mendekap ke arahnya. Mereka kini hanya berjarak sekitar sepuluh centimeter lagi saja. Pandangan mereka saling bertemu tanpa berkedip sama sekali. Bahkan juga saling terdengar detak jantung masing-masing dan terasa hembusan hangat nafas mereka.


Rani benar-benar terkejut, ketika Raka menariknya sehingga ia tak jadi terpleset. Jarak mereka yang sangat dekat membuatnya seketika tiba-tiba membeku. Tatapan Raka padanya begitu dalam. Genggaman tangannya juga terasa hangat dan lembut. Ia sempat kehilangan akal dibuatnya. Perlahan tangan Raka mulai naik ke kedua bahunya. Dia ingin meyakinkan dan mengatakan sesuatu padanya, kedua tangannya kini sudah sampai memegang pipi Rani. Terasa hangat menyelimuti wajahnya. "Aku mencintaimu, sungguh!" Raka mengucapkan itu dengan tulus sambil menatap mata Rani memperlihatkan kesungguhannya.


Rani yang sempat kehilangan akal, kini mulai tersadar. Ini tidak benar. Ia menepis tangan Raka hingga lemah terkulai ke bawah dan mendorong Raka menjauh dari hadapannya. Lalu ia berbalik arah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mempercepat langkahnya secepat jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia harus segera menyingkir dari hadapan Raka. Jika tidak, Raka pasti bisa mendengar suara detak jantungnya yang bertalu-talu. Ia sudah berupaya untuk membuat Raka menjauh. Jika Raka mengetahui kegugupan yang ia rasakan sekarang akan sia-sia semua usahanya untuk membuat Raka menjauh.


Jantung Raka masih saja berdegup kencang. Hampir saja ia kehilangan akalnya hendak mencium Rani. Jika itu terjadi, takkan bisa ia memaafkan dirinya. Itu akan melukai harga dirinya. Ia tidak boleh dibutakan nafsu untuk mendapatkan Rani. Untung Rani segera mendorongnya menjauh, itu langsung membuatnya tersadar. Apa yang hampir saja ia lakukan akan membuat Rani semakin membencinya. Sebagai laki-laki sejati ia akan berjuang dengan cara yang benar bukan dengan cara yang kotor.


Raka mengejar dan mengikuti langkah Rani yang menjauh. Ia tak mungkin membiarkan dan meninggalkan Rani sendirian di hutan ini. Ia harus melindungi Rani di saat ia berada di sampingnya. Raka berlari menyusu dan meminta maaf atas apa yang hampir ia lakukan. Ia menjelaskan bahwa ia hampir saja kehilangan akalnya. Itu terjadi karena Rani sudah membuatnya tergila-gila.


****


Di perkemahan, semua orang telah usai dengan kesibukkan masing-masing. Mereka hanya tinggal menunggu Rani dan Raka datang membawa kayu bakar untuk dijadikan api. Namun di luar dugaan, tiba-tiba saja langit cerah berubah mendung. Ini bisa mengakibatkan kegiatan berjalan di luar rencana.


Hujan perlahan turun. Setiap orang bergegas menuju tempat berteduh. Tak lagi memikirkan kayu bakar. Untuk apa juga api jika ada air yang memadamkan?


Mitha dan Kevin baru menyadari bahwa sahabat mereka tak berada di dekatnya. "Kevin kamu lihat Rani?" tanya Mitha. "Tidak, aku juga tidak melihat Raka," jawab Kevin.


Hujan turun semakin lebat. Mereka tak mungkin memaksakan diri mencari keberadaan Rani dan Raka yang entah berada di mana. Mitha terlihat sangat khawatir dan Kevin langsung menenangkannya, "Jangan terlalu khawatir, aku yakin mereka sedang bersama dan mungkin baik-baik saja."

__ADS_1


Apakah Mitha benar-benar mengkhawatirkan Rani atau dia khawatir ada apa-apa dengan Rani dan Raka?


****


Langit tiba-tiba mendung. Tetes demi tetes hujan mulai terasa membasahi. Rani segera berlari menuju tempat berteduh. Namun tak ada yang bisa ditemukan karena di sini hanya ada pepohonan. Raka segera melepas jaketnya, mendekati dan melindungi kepala Rani dengan itu agar tak kehujanan.


"Singkirkan ... Aku tidak membutuhkannya," dalam kondisi seperti ini Rani masih tetap menolak dan menepis tangan Raka. "Kalau kamu menolak, berarti kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku." Raka mengancam dan bersikeras melindungi Rani agar tak kebasahan.


"Tidak sedikit pun." Rani pasti berbohong. "Kalau begitu mendekat ke arahku agar tidak kehujanan dan basah ... Jika tidak, kamu bisa sakit dan itu juga akan membuat hatiku sakit," ucap Raka.


Tidak ada lagi perdebatan. Mereka harus segera menemukan tempat berteduh untuk sementara waktu. Kembali ke perkemahan akan sia-sia, mereka akan basah kuyup. Angin bertiup begitu kencang. Jaket yang dipegangi Raka terlepas dan terjatuh. Mereka sama-sama memunguti jaket tersebut dan saling memandang untuk sepersekian detik. Lalu kembali memeganginya bersamaan melindungi kepala. Bahkan Raka merangkul pundak Rani agar lebih dekat ke arahnya.


Raka menoleh heran kenapa Rani tak bersuara. Saat itulah ia mendapati kondisi Rani yang tidak baik. Raka menjadi kalut. Tidak boleh terjadi apa-apa dengan Rani. Raka takkan membiarkannya. Ia menggenggam tangan Rani. Sontak dia terkejut merasakan tangan Rani yang begitu dingin. Lalu Raka mempererat genggamannnya memberikan kehangatan dari telapak tangannya. Ia khawatir dengan kondisi Rani.


Raka akhirnya menemukan sebuah pondok. Langsung saja dia mengajak Rani ke sana. "Kamu baik-baik saja?" Raka masih menggenggam tangan Rani dan memastikan keadaannya. Mereka berlari hingga sampai ke pondok tersebut. Rani terduduk kaku. Tangannya masih berada dalam genggaman Raka. Wajahnya semakin pucat. Ia kedinginan. Raka menggosok-gosokan telapak tangannya, kemudian menempelkannya ke pipi Rani berharap bisa memberikan kehangatan padanya.


"Bertahan sebentar lagi, hujannya pasti akan berhenti," Raka terdengar sangat cemas. Ia berharap hujan berhenti atau setidaknya sedikit mereda. Raka meletakkan punggung tangannya di kening Rani. Sontak ia makin khawatir, keningnya benar-benar panas. Ia demam. Suhu badannya sangat tinggi. Mata dan bibirnya juga ikut memerah.


Raka masih belum melepaskan genggaman tangannya. Tiba-tiba saja Rani pingsan. Raka menyadari ketika kepala Rani sudah terkulai di bahunya. Ia cemas, langsung saja ia menggendong Rani di punggungnya dan berlari membawa Rani kembali ke perkemahan. Hujan juga mengikuti dengan mengurangi volumenya. "Kamu akan baik-baik saja, bertahanlah. Kita akan segera sampai." Raka mempercepat langkahnya dengan tergesa-gesa. Ia takut terjadi apa-apa dengan Rani.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai di tempat tenda didirikan. Langsung saja Raka bergegas ke tenda medis. Ia takut terjadi apa-apa dengan Rani kqrena ia belum juga sadarkan diri. Raka masih menggenggam tangannya erat. Tampak raut cemas dari wajahnya. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang menatapnya. Ia memasukkan telapak tangan Rani dalam genggamannya sambil memohon agar Rani segera sadar.


Selagi orang-orang menyadarkan Rani. Seketika itu Raka lupa dengan hubungannya bersama Mitha. Saat ini dia hanya fokus pada Rani. Banyak hal berkecamuk di dalam pikiran Raka. Ia menyalahkan dirinya atas kondisi Rani yang seperti ini. Seandainya ia tak memaksa dan menuntut Rani untuk datang, maka hal ini takkan terjadi.


"Dia memutuskan ikut karena ingin membuktikan bahwa ia tidak memiliki perasaan terhadapku. Tapi aku merasa dia telah membohongiku, ia sengaja sembunyikan perasaannya. Menutup rapat, memanipulasinya sampai aku dipaksa mempercayai kebohongan itu. Aku mohon bangunlah, Rani. Aku bersalah padamu. Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa menerima kebohonganmu. Aku merasa kau juga menyukaiku." lirihnya dalam hati. Meskipun Rani kasar, setiap berbicara selalu ketus. Raka yakin itu dilakukan untuk membuatnya menjauh. Ia mengorbankan perasaannya hanya untuk sahabatnya.


****


Terdengar riuh kabar bahwa Rani pingsan dan sedang dirawat di tenda medis. Langsung saja Mitha bergegas menghampirinya. Ia mengkhawatirkan kondisi sahabatnya. Kevin yang saat ini bersama Mitha juga mengikuti. Ia ingin memastikan apakah Raka juga berada di sana.


Saat mereka tiba di tenda medis, Raka masih tidak bergeming dari tempatnya. Ia belum melepaskan tangan Rani dari genggamannya.


"Dasar bodoh," gerutu Kevin yang menyaksikannya. Kevin melirik Mitha yang tentu saja juga sedang menyaksikan adegan ini. Mitha menatap tanpa ekspresi. Kevin bingung apakah Mitha normal? Tak ada ekspresi cemburu atau pun marah terlihat dari wajahnya. Apa Mitha dengan baik menyembunyikannya? Apa Mitha terlalu bodoh dengan perasaannya pada Raka sehingga tak bisa membaca keadaan kalau Raka tak pernah sedikit pun memiliki perasaan untuknya? Dia seharusnya menyadari bahwa Raka hanya menyukai Rani.


"Rani," suara Mitha terdengar lemah.


"Mitha." sontak Raka terkejut mendengar suara Mitha yang tiba-tiba datang. Berat hati ia segera melepas genggamannya.


"Sebentar lagi Rani akan sadar" ucap yang menangani Rani. Lalu Mitha duduk di sebelah Rani dan menatap dengan rasa bersalah. Sementara Kevin menatap dengan kasihan ke arah Mitha dan mencolek Raka agar menghiburnya. Raka pun tersadar bahwa statusnya di sini masih sebagai pacar Mitha. Jangan buat Mitha curiga dan salah paham.

__ADS_1


"Mitha," suara Raka terdengar lemah dan menyentuh punggung tangan Mitha yang berada diatas tangan Rani. Mitha lalu menoleh ke arahnya. Tampak matanya berkaca-kaca. Mitha butuh pelukan menenangkan. Namun Raka tak ingin memberikan. Ia hanya berkata, "Sebentar lagi Rani pasti sadar."


__ADS_2