Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
PAKANSI


__ADS_3

Seperti biasanya, tiap tahun diadakan pertunjukkan seni di fakultas ini. Setiap elemen civitas akademik akan mempertunjukkan keahliannya dalam seni.


Pada tahun-tahun sebelumnya Raka tak pernah ikut serta dalam pertunjukan ini. Ia selalu saja melibatkan diri sebagai panitia pelaksana. Namun kali ini berbeda, ia sudah bertekad akan menampilkan sesuatu yang membuat Rani terpana. Semua yang ia lakukan hanya teruntuk Rani. Kini saatnya menyatakan perasaannya.


"Ran ... Katanya minggu ini anak jurusan seni bakal adain PAKANSI (Pekan Anak Seni) ... Kosongin waktu kamu biar kita bisa tengok bareng," ajak Mitha


Rani terdengar acuh. Ia hanya membolak-balik halaman buku yang dibaca. "Ran, kamu dengar gak sih?" Mitha mulai kesal tiap kali ia bicara tentang Raka, Rani terlihat tidak berminat sama sekali. Ia lalu merebut buku yang ada di tangan Rani.


"Aku dengar, Tha. Tapi aku gak tertarik," ujar Rani. "Lah kok kamu gitu, tiap aku ajakin kamu selalu saja nolak,, tahun-tahun sebelumnya aku biasa aja kamu tolak, tapi tahun ini kan beda Ran, kita harus mendukung Raka dan Kevin," keluh Mitha.


"Buat apa? Siapa mereka harus aku dukung? Apa peduliku pada mereka?" Rani mencari alasan untuk menolak.


"Raka itu kekasih sahabat kamu, artinya dia juga sahabatmu. Lalu Kevin itu—" Mitha seperti malas menyebut nama Kevin.


"Kenapa berhenti?" tanya Rani tiba-tiba. "Kevin kan sahabat Raka, dia juga bakal jadi sahabat akulah ...." Mitha cepat-cepat menutupi ketidaksukaannya pada Kevin.


"Hmmmm." Rani menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Kamu harus datang, biar aku ada temannya." Mitha memohon. "Akan aku pikirkan." jawab Rani enteng.


"Jangan dipikirkan lagi, malam minggu kan biasanya kamu gak ngapa-ngapain juga," ujar Mitha. "Ya sudahlah, terserah." Rani menyerah dengan bujukan Mitha.


Mitha tak sabar menunggu malam minggu ini. Ia merasakan pasti Raka akan mempersembahkan sesuatu untuknya. Tidak biasanya Raka mau tampil di atas panggung. Tiap tahun Mitha selalu menyaksikan PAKANSI ini, ia tak melewatkannya sekali pun. Tiap tahun ia berharap bisa menonton aksi panggung Raka. Namun selalu saja nihil yang didapatkan. Tapi sekarang berbeda. Pada tahun ini tiba-tiba Raka memutuskan untuk tampil. Tahun di mana mereka memutuskan untuk merajut hubungan. Meskipun ucapan Kevin masih membekas di benaknya tak mudah ditepis. Ia tetap saja mensugesti diri jika Raka tak mungkin salah memilihnya untuk menjadi kekasih.


Mitha pertama kali jatuh cinta pada Raka saat ia tak sengaja lewat di ruang musik. Kala itu Raka tengah hanyut memainkan gitar akustiknya. Alunan yang terdengar membuat Mitha jatuh hati padanya. Suara Raka yang manis langsung merebak ke hatinya. Cahaya remang yang masuk dari ventilasi udara memberi suasana menakjubkan bagi siapa pun yang melihat. Saat itu Mitha serasa memenangkan konser dunia yang tak terelakkan. Namun sayang, penampilan itu tak bisa lagi ia nikmati karena Raka tak pernah sekalipun berminat tampil di atas panggung.


🎶🎶🎵🎵


Saat ku jumpa dirinya

__ADS_1


Di suatu suasana


Terasa getaran dalam dada


Kucoba mendekatinya


Kutatap dirinya


Oh dia sungguh mempesona


Ingin daku menyapanya


Menyapa dirinya


Bercanda tawa dengan dirinya


Namun apa yang kurasa


Aku tak tau harus berkata apa


Inikah namanya cinta


Inikah cinta


Cinta pada jumpa pertama


Inikah rasanya cinta


Inikah cinta

__ADS_1


Terasa bahagia saat jumpa


Dengan dirinya


Alunan musik dan manisnya suara Raka berpadu dalam sebuah melodi yang indah bergema di ruang musik itu. Hingga bagaimana bisa tak membuat orang jatuh hati mendengarnya, termasuk Mitha yang lewat saat itu satu tahun yang lalu.


Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Malam ini waktunya pertunjukkan. Raka dan Kevin sudah bersiap di ruang persiapan. Mitha mengajak Rani sebentar untuk menghampiri mereka. Berat hati Rani melangkah, namun keinginan Mitha yang kuat tak bisa ia lunakkan.


Malam ini adalah malam yang sangat luar biasa bagi Raka. Ia sudah mempersiapkan sebuah lagu yang di cover menurut versinya. Sebuah lagu yang menggambarkan suasana hatinya.


Malam ini, Rani mengenakan setelan dress berwarna putih. Menggantung lepas syal polkadot di lehernya, mengenakan flatshoes berwarna peach. Rambutnya ia kucir satu. Sungguh menawan. Sementara Mitha mengenakan dress berwarna hijau tua motif bunga-bunga kecil. Rambutnya ia gerai dibiarkan bergelombang. Ia mengenakan sepatu wedges melengkapi penampilannya. Raka mengenakan pakaian santai. Baju kaos ditutupi kemeja tak di kancing kan. Mengenakan sepatu kets bermerek favoritnya. Tak lupa ditemani gitar akustik kesayangannya. Rani tak pernah mendengar Raka bernyanyi sebelumnya. Jadi ini adalah pertama kalinya.


"Hei Rani— Hei Mitha—" sapa Kevin di saat mereka menampakkan wajah dari balik pintu. Rani tersenyum membalas sapaan Kevin. Mendengar nama Rani disebut, sontak Raka kaget. Ia benar-benar bersyukur Rani datang malam ini. Sehingga yang sudah ia persiapkan takkan sia-sia.


"Kalian lagi siap-siap?" tanya Mitha. "Iyaa, bisa dilihat" Kevin menanggapi dengan cuek.


"Kamu nampilin apa?" tanya Rani pada Kevin. "Aku akan bernyanyi sebuah lagu untukmu sambil bermain gitar." Raka yang menjawab secara langsung tanpa ditanya.


Rani mengernyitkan keningnya. Pertanyaannya bukan untuk Raka tapi kenapa dia langsung saja menjawab. Kevin langsung menyikut Raka memberikan isyarat. Kalau-ngomong-liat-kondisi-ada-Mitha-juga.


Langsung Raka melempar senyum ke arah Mitha agar suasana tidak menjadi canggung. Tentu Mitha langsung salah paham mengira yang dipersiapkan itu untuknya.


"Aku ngeband seperti biasa bareng DANGER Band (Band yang terkenal di fakultas mereka.)" Kevin memang personil dari band tersebut. Perannya sebagai drummer. "Ooohh iya, kamu gak pernah tahu ya, soalnya kamu gak pernah liat PAKANSI pada tahun-tahun sebelumnya," ujar Kevin. Rani lalu mengangguk mengiyakan. Tapi mengenai kepopuleran DANGER Band Rani tahu.


"Semangat, semoga sukses." Mitha menyemangati mereka sambil mengangkat tangannya dan memperlihatkan kepalan semangat. "Kami pergi dulu," ujar Rani seraya meninggalkan ruangan.


Sebentar lagi pertunjukkan dimulai. Rani dan Mitha sudah duduk di kursi penonton. Penampilan pertama dibuka oleh penampilan band Kevin. Mereka mempersembahkan sebuah lagu baru dengan tempo cepat dan menyenangkan. Performa Kevin tak memperlihatkan dirinya telah patah hati dicampakkan oleh Lia.


Saat itu Lia juga ikut menyaksikan. Ia menatap dengan baik penampilan Kevin. Bukannya ia tak ingin menerima perasaan Kevin. Hanya saja ia tak ingin menjadi pusat perhatian semua orang di Fakultas Bahasa dan Seni. Sebab Kevin sangat populer dan menjadi idola setiap perempuan di fakultas ini. Bagaimana tidak populer, Kevin terlihat sangat keren saat bermain drum sehingga membuat setiap perempuan yang melihat terbius kagum. Kemudian ia juga tidak menyukai sikap Kevin yang selalu menanggapi perempuan yang mendekat, sehingga Kevin seringkali dianggap berandalan yang menerima hati setiap perempuan. Artinya Kevin seorang yang tidak konsisten dengan perasaannya.

__ADS_1


Tapi sebenarnya Lia sudah salah menilai Kevin. Padahal Kevin sesungguhnya adalah laki-laki yang paling setia. Jika dia sudah serius pada satu perempuan maka dia akan menjaga dan mempertahankannya. Bahkan apapun akan ia lakukan untuk memenangkan hati pujaannya. Namun kini Kevin harus merelakan perasannya. Permata yang sudah dimiliki orang lain pantang baginya untuk mengambil kembali. Bahkan mengharapkannya lagi tidak boleh. Begitulah prinsip Kevin. Tidak mudah untuk melepaskan tapi itu harus dilakukan. Ia harus secepatnya mengobati hati yang luka.


*****


__ADS_2