
Raka menemui Bu Ayy untuk meminta tempat duduknya bisa dipindahkan. Ia tidak ingin duduk di dekat Dila lagi. Ia ingin fokus pada pelajarannya. Sudah jauh menurun nilainya saat ia selalu saja di dekat Dila. Dia ingin dipindahkan di dekat Risa. Agar Risa dapat membantunya dalam belajar. Tujuannya ke sekolah untuk belajar bukan untuk main-main dengan cinta monyet.
Sebelum Bu Ayy memulai pembelajaran, ia meminta siswa untuk memperhatikannya sejenak. Sebab ia akan mengganti posisi tempat duduk seperti yang diminta Raka dan juga dia ingin suasana yang baru bagi siswa-siswanya sehingga suasana belajar menjadi tidak membosankan.
Sesuai permintaan, Raka dipindahkan duduk dekat Risa. Ia sangat bersyukur Bu Ayy mendengarkan keluhannya. Meskipun tidak duduk sebangku, Raka tetap bersyukur saat ini bisa duduk di belakang Risa, sehingga apabila ia membutuhkan bantuan Risa, ia hanya perlu memanggil Risa untuk menoleh ke belakang.
Tapi masalahnya apakah Risa mau membantunya? Risa kan sangat jutek dan tertutup pada orang yang tidak dekat dengannya.
Saat ini Risa duduk sebangku bersama Yelvi. Mereka juga merupakan teman dekat sejak kelas X. Meskipun Raka sudah dipindahkan jauh dari Dila. Tapi Dila tetap saja mendekatinya dan masih mencari-cari perhatiannya. Risa yang duduk di depan Raka terkadang ikutan risih dengan situasi tersebut, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Memberontak ke Dila sama saja ia cari gara-gara. Lebih baik dihiraukan saja.
Jam pelajaran Bu Ayy sudah habis. Kelas berlanjut dengan mata pelajaran Matematika. Pelajaran yang paling tidak disukai oleh anak-anak dari jurusan Sosial. Namun tidak bagi Risa, ia juga ahli dalam hal ini.
Bu Silvi sebagai guru matematika tidak menjelaskan materi dalam waktu yang lama. Ia hanya menjelaskan sebentar kemudian menyuruh siswanya mengerjakan latihan.
Risa tampak asyik mengerjakan soal limit yang ditinggalkan Bu Silvi. Ia juga terlihat membantu Yelvi mengerjakannya. Namun Raka yang duduk di belakangnya mulai merasa gelisah karena tak satupun soal di latihan ini yang bisa ia kerjakan. Ia menggoyang-goyangkan kursi Risa tanpa sadar dengan kaki panjangnya.
Tentu saja Risa merasa terganggu dan tidak nyaman. Risa mendelik ke belakang. Langsung membuat Raka membeku ketakutan menangkap tatapan tajam Risa. Ia langsung menghentikan kebiasaannya itu. Namun bukan hal mudah jika mengubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan. Ia kembali mengulangnya tanpa sadar.
Risa kembali menoleh. Kemudian ia menarik kasar kursinya maju kedepan.
"Maaf," lirih Raka. Risa hanya menghiraukan tanpa merespon.
"Sa, ajari aku juga dong seperti kamu bantu Yelvi. Aku tidak mengerti satu pun dari soal-soal ini." Raka memberanikan diri untuk memelas dengan memperlihatkan lembar kerjanya yang masih kosong pada Risa.
Mendengar Raka memelas, Risa sedikit terpengaruh dan menatap Raka. Kemudian ia melempar pandangan ke arah Dila. Risa tak ingin mencari masalah dengan Dila, jika ia membantu Raka. Risa tahu, Dila sangat menyukai Raka. Dekat dengan Raka sama saja mencari masalah dengan Dila.
__ADS_1
"Kenapa kamu melirik kesana? aku tidak ada hubungan apa-apa sama dia, jika dia keberatan aku yang sepenuhnya bertanggung jawab." Raka sadar kemana pandangan Risa berada.
Risa akhirnya memutuskan membantu Raka, setelah ia dapat jaminan itu. Ia menjelaskan pada Raka bagaimana cara mudah menyelesaikan soal matematika itu. Raka mengangguk-angguk paham dengan penjelasan Risa. Sehingga ia bisa mengerjakannya sendiri.
Waktu ke waktu berjalan seperti biasa. Dugaan Raka bahwasanya Risa jutek dan tertutup ternyata salah. Risa sangat ramah dan bisa diandalkan. Risa bersikap apa adanya. Tak sama seperti Dila. Sehingga Raka bisa sangat nyaman berteman dekat dengan Risa.
Saat istirahat makan siang, Risa sedang bersama dengan Ari. Meskipun berbeda kelas, Risa dan Ari adalah sahabat. Mereka sudah dekat sejak awal. Bahkan Ari sudah menyimpan perasaan pada Risa terlebih dahulu. Namun Ari masih belum menyatakannya pada Risa. Sehingga Risa masih belum tahu dan tak menyadarinya.
Raka melihat Ari dan Risa kemudian ia memutuskan untuk ikut bergabung. Raka juga dekat dengan Ari sebab mereka berada pada satu ekskul. Ari juga dikenal sebagai senior yang baik.
"Aku boleh duduk bersama kalian?" ujar Raka meminta izin
Ari mengangguk memperbolehkan, "Dimana Dila? Tumben gak ngikut?" tanya Ari saat Raka sudah duduk di hadapan mereka.
"Sudah," jawah Risa singkat.
"Ajari aku sa?" pinta Raka.
"Nanti aja di kelas," jawab Risa. Ari hanya saling menatap keduanya bergantian. Ari melihat Raka tampak seperti ingin mendekati Risa.
"Aku duluan." Risa selesai dari makannya dan pamit pada Ari.
"Buru-buru kali, aku belum selesai Sa. Ntar lagi lah, waktu istirahat kan masih ada," bujuk Ari masih ingin berlama-lama dengan Risa.
Risa menengok arlojinya. Hanya lima menit waktu istirahat yang tersisa, "Aku mau ngajarin Raka, kamu bisa habiskan sendiri. Gak usah kayak anak kecil." ucap Risa cuek.
__ADS_1
Mendengar Risa akan membantu, Raka berhenti dari makannya dan segera mengikuti Risa, "Aku juga duluan kak Ari," ujar Raka menyeringai.
Lalu Ari hanya bisa menatap kecewa kepergian Risa. Ia tak bisa menghentikan Risa dan mengutuk Raka karena sudah mengganggu waktunya bersama Risa.
Sesampainya di kelas Raka sudah siap untuk dapat pelajaran tambahan dari Risa. Raka kini duduk dekat di sebelah Risa, tempat biasa Yelvi duduk karena Yelvi belum kembali dari kantin.
"Jangan dekat-dekat kali, nanti ada yang salah paham." Risa mulai risih, ia takut jika Dila atau salah satu teman Dila melihat. Risa sebenarnya tidak takut pada Dila. Hanya saja, ia malas mencari masalah dengan Dila. Itu sangat merepotkan.
"Aku dah bilang, kan. Aku sama Dila gak ada apa-apa."
"Setidaknya kamu hargai perasaan dia, Dila tu suka sama kamu,"
"Lalu bagaimana dengan perasaanku?"
"Apa kamu tidak menyukainya? Dia kan sempurna untuk tipikal seorang perempuan. Buktinya hampir semua anak cowok mengejarnya. Nah ini, Dia yang malah ngejar kamu. Kamu gak suka sama Dila?"
"Tidak, aku gak suka cewek agresif seperti dia. Kalau dia punya perasaan sama aku yaudah itu urusannya, bukan urusanku. Kan, aku gak punya perasaan sama dia. Aku gak suka aja dia cari perhatian sampai melibatkan seluruh orang-orang, buat aku gak nyaman aja di dekatnya, kalo suka yaudah suka aja, jangan berlebihan. Aku malah jadi gak tertarik sama dia. Aku gak suka cewek agresif." Raka memberi penjelasan tentang Dila, padahal Risa tak bertanya alasannya.
Risa hanya mengangguk.
"Jadi kamu sudah tahu kan? Jadi gak usah mikirin Dila. Aku malah lebih suka berteman dekat sama kamu daripada sama dia, apa aku bisa menjadi teman dekat kamu, seperti kamu dekat dengan Kak Ari?" tanya Raka
Risa menatap Raka bicara. Tampak keinginannya itu tulus. Tapi ada hal aneh terasa bagi Risa. Muncul desiran aneh yang tak bisa ia jelaskan tiap kali Raka mencoba mendekatinya. Ia tak tahu apa artinya. Waktu serasa berhenti saat bersama. Seperti yang orang-orang sering katakan kalau itu tandanya kamu sudah terkena sengatan cinta. Tapi Risa tak ingin mempercayai hal konyol itu. Ia selalu saja menepis kemungkinan jika ia memiliki perasaan pada Raka.
Memang benar, mustahil namanya hubungan antara laki-laki dan perempuan bisa sangat dekat jika tak ada perasaan di dalam salah satunya.
__ADS_1