
Terdengar bunyi monitor di dalam ambulance. Raka makin gusar dibuat olehnya. Ia tak ingin terjadi apa-apa. Ia belum siap menerima kejadian buruk yang lebih buruk daripada harus membenci Rani.
"Percepat lah jalannya." paksa Raka menyuruh ambulance berjalan cepat. Jarak dari kampus hingga rumah sakit memang cukup jauh dan memakan waktu. Di tambah lagi jalanan di depan mereka juga terhambat karena ada beberapa kerumunan. Sepertinya juga tengah terjadi kecelakan di depan sehingga menghambat jalam ambulance untuk lewat.
Gadis itu sudah kehabisan darah selama tergeletak tadi. Gadis itu membalas erat genggaman tangan Raka. Ada yang ingin ia sampaikan, pertahanan yang ingin ia robohkan.
"Aku menyukai kehangatan ini." ucapnya sambil memperlihatkan kedua lesung pipinya. Dalam kondisi begini ia masih bisa tersenyum.
"Aku takkan lepaskan tanganku,, kuatkan dirimu. Aku akan selalu di sisi mu dan aku takkan melepaskanmu." ujar Raka.
"Maafkan aku atas sikapku yang kasar padamu." Gadis itu mulai terbatuk-batuk.
"Jangan bicara lagi, aku tidak apa-apa dengan sikapmu, jangan khawatirkan aku." Raka makin mempererat genggaman nya.
Tatapannya terlihat tak tenang. Waktu terasa begitu lambat berjalan. Membuatnya sesak dan gelisah. Gadis itu mulai memejamkan matanya, rasa sakit mulai terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Buka matamu, jangan pejamkan." Raka memaksa, ia tak ingin gadis yang di hadapannya menutup mata. Itu membuatnya terlihat takut.
"Aku mengantuk," suara gadis itu melambat. Pandangannya makin kabur.
"Aku akan nyanyikan sebuah lagu agar kamu tidak mengantuk. Tapi aku mohon jangan tutup matamu." Raka sangat tidak tenang jika gadis itu menutup matanya.
__ADS_1
Lalu gadis itu kembali tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Ia mengikuti permintaan Raka untuk tidak menutup mata. Lalu Raka mulai bernyanyi dengan seteguh hati. Ia berusaha tegar menahan kegelisahan dan ketakutan yang menyelimuti. Suara serak mengalun tanpa melodi musik mengiringi perjalanan menuju rumah sakit.
Cintamu senyaman mentari pagi
Seperti pelangi, slalu ku nanti
Cintamu tak akan pernah terganti
Selamanya di hati
Aku bahagia, milikimu seutuhnya
Lagu yang menggambarkan arti gadis ini bagi Raka. Monitor kembali berbunyi dengan nada yang kencang.
Lalu Ia menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya,
"Rani mencintai Raka." ucapnya dengan jelas.
"Aku tahu, kamu sangat mencintainya. Cepat pasang kembali selang oksigen mu." Raka tak sadar kalau kalimat itu adalah untuknya. Bukan untuk Raka yang lain. Kemudian Ia memasangkan kembali selang oksigen itu. Ia makin kalut dengan kondisi gadis yang sangat ia cintai ini.
Namun Rani tak bisa menahan lagi kantuknya karena sekelebat cahaya datang menyilaukan. Pandangannya menjadi sangat kabur. Sungguh ia tak sanggup menahan kantuk yang berat ini.
__ADS_1
Genggaman tangannya pada Raka mulai melemah. Nafasnya terasa terengah-engah. Sakit yang menjalar perlahan mulai tak terasa lagi. Seluruh tubuhnya terasa kelu hingga tak bisa sepatah kata pun terucap lagi. Ia ingin memperjelas maksudnya mengatakan kalimat barusan.
Tunggu sebentar lagi, setibanya di rumah sakit Rani akan mengulanginya agar Raka mengerti dan tak salahpaham mengira bahwa sungguh perasaannya untuk Raka yang berada di hadapannya bukan untuk Raka yang berada di masa lalu.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Raka masih tak melepaskan genggamannya. Tapi tangan Rani sudah terasa sangat dingin. Lalu Rani segera di bawa masuk ruangan IGD.
"Maaf anda tak bisa masuk." perawat melarang Raka untuk masuk kedalam.
Raka terpaksa menunggu diluar. Ia tak bisa duduk dengan tenang. Terus saja kegelisahan menyelimutinya.
Lalu Ia melihat suasana di dalam ruangan dari balik kaca yang ada pada pintu. Tampak Rani sedang dikelilingi oleh dokter dan perawat. Apakah keadaan Rani benar-benar serius?
Lalu Ia kembali duduk, mendekap tangannya memohon dan memanjatkan doa kepada Tuhan. Ia berdoa setulus hati. Memohon agar nyawa Rani dapat diselamatkan. Ia berharap Rani akan baik-baik saja. Namun sudah dua jam berlalu, belum juga ada tanda-tanda dokter akan keluar memberinya kabar baik. Raka terus saja memohon dan berdoa.
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan itu. Refleks Raka langsung berdiri.
Tatapan penuh harap terpancar dari matanya. Apakah gadis yang ia cintai baik-baik saja?
Dokter tersebut menepuk pundak Raka, membiarkan Raka masuk kedalam ruangan. Segera Raka masuk kedalam dan mendekati Rani. Ia langsung memegang erat tangan Rani.
Namun Rani masih tertidur dalam kantuknya. Ia menunggu hingga Rani bangun kembali. Tak masalah baginya untuk menunggu karena selama ini pun ia sudah terbiasa menunggu dan sudah terbiasa dengan sikap dingin Rani.
__ADS_1
Ia mengambil tangan Rani dan mendekapnya. Namun tangan yang ia sentuh sangat terasa dingin. Ia menatap wajah cantik gadisnya, namun wajah itu terlihat lebih pucat. Ia menyibak poni Rani ke samping dan mendaratkan kecupan di keningnya seraya air mata ikut bergulir. Ia harap dengan kecupannya Rani dapat segera bangun dan menamparnya. Bibir manisnya yang tersenyum di sentuhnya lembut dan ia akhiri dengan memberikan kecupan lembut. Ia sangat mencintai Rani.