
Setelah kejadian kemarin malam. Mitha benar-benar terpuruk. Tak sanggup baginya menemui Rani. Sementara waktu, Ia sengaja menjauh dari Rani.
Raka sudah memutuskan ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi semalam. Ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Mitha. Tapi Raka tak mengetahui jika Mitha sudah tahu yang sebenarnya. Ia mengirim pesan teks kepada Mitha
kamu dimana? ada yang ingin ku bicarakan bisakah kita bertemu?
Mitha hanya membaca pesan tersebut tanpa membalas nya.
Raka terlihat gusar. Kenapa Mitha hanya membaca tanpa membalas pesannya? Tak biasanya Mitha seperti itu. Setiap berbalas pesan biasanya Mitha cepat meresponnya.
Lalu ia terus berjalan menelusuri setiap jalan di sekitaran Fakultas. Ia yakin Mitha pasti ada di sekitar sini. Benar, Mitha sedang duduk di taman sendirian, waktu yang tepat bagi Raka menghampirinya.
"Aku sudah berkeliling mencarimu." Raka terdengar ngos-ngosan, ia habis berlari mengejar Mitha
"Yaa," singkat Mitha
"Aku kirim pesan kenapa gak dibalas?" tuntut Raka
Mitha menatap ponselnya. Kemudian menatap Raka kembali, "Kenapa?"
__ADS_1
Raka segera duduk di samping Mitha, "Mengenai kejadian semalam." Raka memulai
"Apa artinya cinta?" tanya Mitha menggantung
Raka menatap lurus kedepan. Ia sedang menyusun kalimat yang bagus agar Mitha tak terlalu terluka.
"Aku tahu, itu bukan untukku." Mitha melanjutkan kalimatnya yang menggantung
Raka terkejut. Apa Mitha menyadari yang terjadi sesungguhnya?
"Mitha, aku minta maaf" Raka memohon.
"Tidak apa-apa." ucap Mitha datar. Melihat reaksi Mitha, Raka tak percaya. Tapi ia harus melanjutkan.
Raka tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Mitha "Apa?"
"Aku tahu perasaanmu tak pernah ada untukku, terimakasih kau pernah memberikanku sedikit kebahagiaan dengan menyatakan perasaan terhadapku, meskipun aku tak tahu apa sebabnya, tapi itu tiba-tiba saja terjadi." Mitha berusaha tegar.
"Maafkan aku, Mitha. Aku sudah berbuat kejam padamu dengan mempermainkan perasaanmu yang tulus padaku." Raka menyadari kekalutannya dan mengakuinya pada Mitha.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sekarang kamu sudah jujur padaku. Aku tidak akan lagi memaksamu tetap tinggal di sisiku. Raka kita putus." ujar Mitha
"Terimakasih Mitha. Andai diriku ada dua, makanya yang satunya lagi akan aku minta mencintaimu." ujar Raka menghibur
"Aku yakin kau bisa menemukan seseorang yang lebih baik dariku dan bisa lebih bahagia dari ini, kau memaafkan ku kan?" Raka melanjutkan kalimatnya
Mitha memaksakan tersenyum "Apa aku boleh bertanya satu hal?"
"Tanya saja. Kamu bebas menanyakan apapun, kita akan tetap menjadi teman." Raka mempersilahkan
"Apa kamu menyukai Rani?" Pertanyaan yang muncul tiba-tiba seperti gemuruh di siang hari.
Raka bingung harus menjawab apa. Ingin sekali mengatakan iya dengan jelas tapi ia takut itu bisa menyebabkan persahabatan mereka retak. Akhirnya Raka memutuskan hanya diam.
"Kamu tidak akan menjawabnya?" Mitha melihat Raka dengan dalam.
"Baiklah. Aku akan pergi, aku tahu jawabannya, sudah terlihat jelas dari matamu." ucap Mitha dan segera meninggalkan Raka.
Mitha terlihat sangat murung. Ia sama sekali tak menyalahkan Raka, bahkan untuk membenci pun takkan ia lakukan. Ia hanya mengasihani dirinya yang telah dibutakan oleh cinta sehingga tak tahu diri. Harusnya ia sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi. Semua yang ia alami itu hanya sebuah kesalahpahaman.
__ADS_1
Bagaimana bisa orang yang sesungguhnya diinginkan Raka adalah Rani? Tak pernah sedikitpun terbayangkan olehnya. Rani, orang terdekatnya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Ia tak pernah tahu perasaan Rani yang sesungguhnya. Apa benar Rani juga menyukai Raka?
Sekarang ia hanya penasaran dengan perasaan Rani. Apakah yang dialami Raka sama dengan yang dialami Rani? Ia harus menemukan jawaban atas itu.