Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Hidup Seperti Air Mengalir


__ADS_3

Meskipun Rani sudah berubah dari saat itu, tapi kenapa tetap saja ia bersikap dingin pada siapa pun? Raka masih ingat waktu di tahun-tahun pertama kuliah, Rani sangat ceria dan cerah. Hingga ia bisa menjadi duta kampus.


Kini Rani bahkan lebih dingin dari es. Ia memang tetap hidup. Tapi hidupnya seperti air mengalir. Membiarkan semua lewat begitu saja, tidak menikmati hidupnya. Hidup hanya sekedar hidup baginya. Keberadaan Raka di dekatnya pun tak begitu menariknya. Dia hanya menjalankan hidup tanpa merasakan dan menikmatinya. Makna Hidup tak penting lagi bagi Rani.


"Lalu dimana Raka?" tanya Raka penasaran karena sejak pertama dia datang ke tempat ini. Ia tak pernah menemui sosok pria yang disebutkan itu. "Apa Raka mencampakkan Rani? Sehingga ia bersikap dingin pada siapa pun yang bernama sama. Apa dia sengaja menghindariku? Aku tak mengerti?" Raka melanjutkan pertanyaannya.


Kemudian ibu itu kembali menarik nafas panjang dan menjawab pertanyaan Raka, "Bagaimana Raka akan mencampakkan Rani dengan hati selembut malaikat?" tukas sang ibu.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Raka penasaran.

__ADS_1


"Malam itu, tanggal 30 Maret. Hari pertama kami menggelar pertunjukkan seni di rumah ini. Hari paling membahagiakan bagi keduanya. Tapi hari itu tak pernah terjadi—" jawab sang ibu yang masih berurai air mata.


"Apa Raka akan mengungkapkan perasaannya pada Rani di hari itu?" Raka memotong penjelasan ibu itu dan terlihat gelisah. Namun masih tetap mendengarkan sang ibu hingga selesai. "Entah apa yang terjadi di malam itu tapi pada malam itu kami tak menyangka kejadian itu terjadi." Mata sang ibu kembali berkaca-kaca mengingat segelintir kejadian di masa lalu.


Raka masih saja penasaran. Ia ingin tahu keberadaan Raka itu, jika tidak akan sulit baginya mendekati Rani jika Raka itu masih di sini. "Raka kecelakaan, dia mengalami tabrak lari saat hujan turun begitu derasnya." Sang ibu tak dapat membendung air mata yang sudah ditahan sejak tadi. Ingatan buruk itu kembali harus diingatnya. Lalu Raka terkejut dan merasa bersalah.


"Hidup Raka tak terselamatkan, lukanya sangat parah. Semua organnya rusak. Kami tak menyangka kejadian seburuk itu menimpa malaikat kami dalam waktu yang cepat. Memang benar, hidup Raka tidak akan lama dengan jantung yang lemah itu tapi kami tidak menyangka bisa secepat itu Raka pergi meninggalkan kami," lanjut sang ibu.


Saat itu, Rani masih termangu dengan apa yang dikatakan Raka padanya. Ia seperti mendengar petir di tengah matahari terik. Perkataan yang Raka lontarkan terdengar sangat mustahil. Perkataannya tidak sesuai dengan tindakannya.

__ADS_1


Tepat di bawah pohon itu, ia masih bertanya-tanya, apa yang salah? Bahkan sampai hujan turun begitu derasnya. Ia masih berada di sana dengan pikiran kalut dan tatapan yang kosong. Bagaimana bisa Raka tak mencintainya?


Sehingga hal itu membuat Rani terlambat mengetahui keadaannya. Ia hampir saja melewatkan kalimat terakhir yang diucapkan Raka sebelum menutup mata untuk selamanya. Kalimat yang sangat ingin didengarkan Rani. "Raka sangat mencintai Rani," ucap Raka mengetahui akhir cerita sang ibu.


Sang ibu mengangguk mengiyakan ucapan Raka, "Tapi Rani tak sempat mendengarnya, Raka tidak memberitahu perasaannya yang sebenarnya. Dia membawanya hingga mati."


Lalu Raka mengusap mukanya. Ia tak tahu bahwa masa lalu Rani begitu pelik. Tak seharusnya ia memaksakan keinginannya agar Rani mau mendekatinya. Itulah penyebabnya. Kematian Raka menjadikan Rani tertutup dan bersikap dingin. Perasaannya yang dalam pada Raka itu pasti takkan mudah digantikan. Pasti sulit menggantikan Raka di hatinya. Sehingga membuat Rani tidak tertarik dengan apapun yang terjadi di sekitarnya. Hanya Rumah Baca inilah yang menjadi alasan bagi Rani tetap melanjutkan hidupnya. Jika bukan karena itu, mungkin Rani bisa saja kembali seperti waktu sebelumnya kehilangan malaikat, penyemangat dan alasannya untuk hidup.


Rani akan tetap hidup untuk melindungi tempat ini karena inilah impian Raka, sang penyelamat. Alasan untuk hidup bermanfaat dan membahagiakan setiap orang. Itulah impian Raka. Oleh karena itu, Rani masih menjaga setiap impian orang-orang yang percaya pada Rumah Baca ini. Ia hidup untuk menjaga impian Raka.

__ADS_1


Raka akhirnya mulai mengerti dengan apa yang terjadi pada Rani dan ia berjanji akan mengembalikan keceriaan dan kecerahan hidup Rani. Seperti yang dilakukan Raka sebelumnya. Walaupun Raka tidak bisa menjadi Raka yang persis sama di hati Rani. Ia hanya berharap Rani bisa perlahan menerima keberadaannya. Lalu mengenai perasaannya akan tetap ia jaga di dalam hati. Raka percaya sewaktu-waktu, waktu akan mengubah Rani. Ia akan membuat Rani melihatnya dengan penuh cinta. Perlahan waktu akan mengobati luka di hati Rani. Perlahan Rani akan menerimanya. Meskipun memakan waktu lama, ia akan tetap menunggu. Itu tak jadi masalah, menunggu juga bagian dalam proses berusaha.


Hidupnya hanya akan bermakna jika Rani jadi pelengkap. Hidup Rani akan bermakna, jika bisa menerima Raka seperti yang ia lakukan pada Raka sebelumnya. Itulah keinginan Raka. Menjadikan Rani sebagai takdirnya. Jika memang benar Rumah Baca ini bisa menampung dan mewujudkan impian. Itulah impian Raka dan dia pasti akan mewujudkan itu. Kalimat yang sangat ingin didengar Rani. "RAKA MENCINTAI RANI."


__ADS_2