Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
324 Hari lagi


__ADS_3

Beberapa hari ini Rani masih saja berkeliaran tidak jelas. Ia masih belum memutuskan kapan akan menemui Mitha. "Apa yang kau lakukan?" Sosok itu kembali datang menghampirinya.


"Kau lagi?" tanya Rani tidak suka dengan kedatangan sosok itu. "Aku tidak ada urusan denganmu, kau menggangguku, pergi saja. Kau bilang kau tak mencampuri urusan manusia. Kenapa kau selalu menghampiriku?"


Sosok itu berkata kalau Rani sepertinya hanya membuang-buang waktunya tanpa bergerak sedikitpun untuk menyelesaikan masalahnya. "Paling tidak kau harus memulai menyelesaikan masalah yang ingin kau selesaikan. Tapi jika kau ingin mengubah keputusanmu, itu masih bisa. Kau masih bisa menuju keabadian karena kau belum melakukan apa-apa dengan rencanamu. Bagaimana? Kau mau ikut denganku saja?"


Rani mulai panik sekarang, "kau ingin membawaku menuju keabadian?" Sosok itu berkata iya karena sudah 5 hari, Rani masih belum menggunakan tubuh siapapun dan juga belum menyentuh mimpi siapapun. Dia hanya berkeliaran seperti hantu kurang kerjaan. "Kau ingat. Dari tiga aturan yang kuberikan, kau tidak diperbolehkan melanggar aturan-aturan tersebut. Ingat kau punya batas waktu yang tidak boleh dilewati."


Rani mengangguk, dia tahu itu. Bahkan apa yang terjadi jika dia melanggar aturan itupun dia juga masih mengingatnya. Jadi dia minta kepada sosok itu jangan bawel dan jangan terlalu mengkhawatirkannya. Dia pasti bisa melakukannya. "Di saat kau melanggar aturan, sebelum kau punya waktu untuk menoleh, maka semua selesai. Kau tidak akan menuju keabadian dan kau hanya akan tinggal disini sebagai roh jahat." ujar sosok itu sembari mengeluarkan aura mengerikan.


"Masih belum terlambat jika kau pergi denganku. Apa kau ingin pergi?" tanya sosok itu lagi sambil mengulurkan tangannya. "Kata siapa aku akan pergi? bagaimana kau bisa melakukan ini padaku, waktuku masih tersisa 325 hari lagi." tolak Rani. Sosok itu meralat, 324 hari. Lalu ia jalan sambil merangkul bahu Rani, "Ayo ... ikut saja denganku jika kau tidak mampu melakukannya."


Tapi Rani menyingkirkan tangan sosok itu dari bahunya, "Tidak ... Aku belum bisa pergi jika aku belum mengatakannya. Aku akan menemui Mitha malam ini." Rani sudah memutuskan. "Jika kau tidak bisa membantuku, lebih baik kau tidak usah muncul di hadapanku." Rani mengusir sosok itu untuk menjauhinya. Tapi sosok itu selalu saja penasaran dengan yang Rani lakukan dan selalu saja mengkhawatirkan Rani jika ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Siapakah sosok itu sesungguhnya? Apakah dia Raka yang sudah lebih dulu meninggalkan Rani?


Rani masih mendumel betapa bawelnya sosok itu. Ia berjalan menuju kediaman Mitha. Ia belum bisa memasuki mimpi Mitha ataupun merasuki tubuh Mitha karena waktu belum menunjukkan tengah malam. Masih tersisa beberapa jam lagi hingga tengah malam tiba. Untuk itu Rani hanya menunggu dan memperhatikan dari jauh rumah Mitha.


Saat itu juga, Rani kembali bertemu dengan roh pria yang ia temui beberapa hari yang lalu. Ia sedang berdiri dan juga memperhatikan rumah Mitha. Rani lalu mendekatinya, "Hei, Kita bertemu lagi? Kau mengingatku?"

__ADS_1


"Bukankah kau roh perempuan yang waktu itu?" Roh Ari mengingatnya. "Benar. Apa yang kau lakukan disini?" Rani bertanya karena penasaran.


"Ini rumahku." jawab roh Ari. "Kau kakaknya Mitha?" tanya Rani. Roh Ari menjawab iya. Mitha satu-satunya adik yang ia sayangi tapi saat ini dia tidak bisa bersama dengan Mitha.


Lalu Rani penasaran mengenai roh Ari yang juga masih bergentayangan dan tidak menuju keabadian. Rani bertanya, apakah dia juga punya masalah yang belum terselesaikan? Roh Ari menjawab iya. Masalahnya adalah Mitha membenci kekasihnya dan telah salahpaham dengan semua kondisi yang terjadi. Ia hanya ingin Mitha menerima kekasihnya itu dan tidak membencinya lagi. Rani mengangguk paham.


"Aku akan memasuki mimpi Mitha malam ini? Apakah kau ingin aku sampaikan pada Mitha sekalian supaya dia mau menerima kakak iparnya?" Rani menawarkan. Roh Ari menerimanya dan berterimakasih jika Rani bisa lakukan itu. "Apa masalahmu?" Kini Roh Ari yang balik bertanya. Lalu Rani menceritakan masalahnya.


Lalu Ari berkata ia juga mengenal Raka. "Benarkah Raka melakukan itu?" Rani heran kenapa Ari berkata demikian. Kemudian Ari menceritakan bahwa Raka, Risa dan dirinya dahulu sangatlah dekat. Ia tidak pernah mengira bahwa Raka dapat mencintai seorang perempuan sebegitu tulusnya. Dulu pernah ada perempuan yang mendekatinya tapi Raka menolaknya. Ari bahkan juga mengatakan kalau kekasihnya sepertinya juga pernah menyukai Raka. Tapi Raka sangat pasif dengan perempuan. Lalu Ari berkata, Rani sangat beruntung mendapatkan lelaki seperti Raka. Tapi Rani menjawab, "Semua sudah terlambat." Saat dia masih hidup dia tidak bisa menerima cinta Raka yang tulus padanya. Ia hanya mendorongnya menjauh dan menyerahkannya pada yang lain. Dia sudah membuat Raka tersiksa. Itu sangat menyakitkan.


Setelah itu, Roh Ari berpamitan pada Rani karena dia harus mengikuti Risa kembali dan dia juga menyemangati Rani semoga berhasil dengan rencananya.


Lagi-lagi Risa hanya bisa mengucapkan maaf sambil menundukkan kepalanya. "Bekerjalah dengan baik jika kau masih ingin berada disini. Meskipun kau perempuan aku takkan segan-segan padamu." ucap Souchef dan ia lalu pergi.


Risa mengulangi pekerjaannnya seperti yang dikatakan Souchef. Ia mengelap peralatan makan itu lalu menaruhnya dalam rak. Air matanya tiba-tiba saja jatuh dan dia langsung mengusapnya. "Demi bayiku, aku harus kuat dan bertahan."


Menu spesial di Restoran hari ini adalah Caviar Pasta. Kepala Chef ingin membuat caviar pasta dari caviar yang masih tersisa kemarin. Tapi setelah di cek, caviar yang dibutuhkan tidak ada di kulkas. Itu membuatnya keheranan, ini tidak hanya terjadi sekali, tapi beberapa barang juga sering menghilang dari dapur mereka akhir-akhir ini.

__ADS_1


Kepala chef lalu memanggil dan menginterogasi semua pegawainya soal barang-barang yang hilang. Risa yang berada di belakang buru-buru bergabung dan karena ia satu-satunya yang tak tau apa-apa, ia berbisik penasaran pada salah satu rekan kerjanya. Rekan kerjanya itu bernama Faraz. Bukannya menjawab pertanyaan Risa tapi Faraz malah menyuruhnya diam.


Kepala chef berkata kalau mereka membutuhkan uang, ia akan memberikannya karena ia yakin mereka akan bekerja lebih keras setelahnya atau kalau mereka menggunakannya untuk berlatih memasak semalaman, ia justru senang. Tapi yang terjadi saat ini malah membuat Kepala chef tak tahan karena kepercayaan yang paling penting telah dirusak karena sebuah caviar. Meskipun harga caviar itu sangat mahal, baginya kepercayaan adalah yang paling penting.


Risa masih tak mengerti dan bertanya bisik-bisik ke Faraz. Melihat Risa sangat penasaran, akhirnya Faraz memberitahu Risa apa yang terjadi. Saat Faraz menyebut caviar dengan harga yang sangat mahal telah hilang dari dapur langsung membuat Risa menganga.


Kepala chef mendesak mereka untuk mengaku. Tentu saja nanti ia akan marah, tapi lebih baik daripada diam dan terganggu karena itu. Risa sudah mau bersuara, tapi Souchef mendahuluinya. Dia merasa setidaknya harus bertanggung jawab sebagai orang yang menghabiskan waktu lebih banyak dengan yang lainnya dibandingkan Kepala chef. Dia adalah orang nomor dua setelah Kepala chef di dapur. Souchef berkata bukankah menemukan pelakunya lebih banyak buruknya daripada baiknya? Dia mungkin saja akan menemukan pelakunya tapi rasa ragu dan tidak percaya mereka akan makin besar dan itu membuatnya khawatir akan keakraban tim mereka. Barang-barang yang hilang bisa dibeli, tapi kerjasama mereka tidak, jadi Souchef ingin semua diakhiri saja. Ia berjanji mereka akan bekerja lebih keras untuk mengganti jumlah yang hilang.


“Itu pasti kau,” tebak Kepala chef mengira bahwa Soucheflah yang mengambil caviar itu. Souchef otomatis menyangkal tapi karena ia tak berani menatap matanya, Kepala chef jadi yakin kalau pelakunya memang Souchef. Roh Ari yang juga berada disana turut membenarkan karena sebelumnya ia juga melihat Souchef menyelundupkan caviar itu untuk kepentingan pribadinya.


Terpaksa Souchef berbisik dan mengakui kesalahannya ke Kepala chef kalau ia meminjam caviar itu untuk menarik hati seorang gadis dan berniat mengembalikannya tapi ia lupa. Itu membuat Kepala chef tak bisa menahan marahnya lagi.


Di belakang, Risa berusaha menginterupsi, tapi tak ada yang menghiraukannya. Kemarahan Kepala chef membuat Souchef marah juga, kalau ia tak bisa dipercaya, untuk apa mempekerjakannya? Suasana makin panas, Souchef akhirnya menyebut soal Kepala chef yang selalu merendahkannya di depan semua orang. Meskipun begitu, Souchef sudah berusaha membuat tim mereka makin kompak. Souchef berteriak kalau ia bekerja disini bukan karena tak ada tempat lain, sebenarnya ia punya banyak tawaran.


“Kalau begitu pergi! Aku tak akan menghentikanmu!” balas Kepala chef tak kalah marah. Souchef yang tak tahan lagi melepas celemeknya lalu pergi. Kepala chef tak berusaha menghentikannya.


Risa berusaha bicara, ia meminta Kepala chef agar tenang sedikit dan membujuk Souchef agar kembali dan meminta agar dia melupakan kesalahan Souchef sekali ini saja, seperti yang biasa ia alami. Ia selalu diberi kesempatan, apakah Kepala chef tidak ingin memberikan kesempatan yang sama pada Souchef. Tapi tentu saja itu tidak berhasil dan semuanya malah jadi kacau.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah membela orang yang sering mengintimidasi kamu, Sa? Ari mendumel karena Risa masih perhatian pada orang yang selalu menyiksanya. Akan lebih baik orang seperti Souchef itu tak berada di dekat Risa karena dia selalu saja menyulitkan Risa.


__ADS_2