
Sebelum Raka menemui Mitha. Ia sudah bertemu Kevin terlebih dahulu. Ia menceritakan bahwasanya nanti dia akan bertemu Mitha, ada yang ingin dibicarakan Mitha.
"Sudah gw duga, siap-siap aja deh ditembak Mitha," ujar Kevin meledek. Kevin memberitahu Raka bahwasanya dari gerak-gerik Mitha sudah kelihatan kalau Mitha menyukainya. Ia pastikan itu benar. Gerak-geriknya sama dengan ciri-ciri yang terlihat pada Raka untuk Rani.
Pada awalnya Raka menolak perspektif Kevin. Mitha tidak boleh menyukainya karena jika hal itu terjadi, ia takkan bisa membalas perasaan Mitha. Raka tahu betul bagaimana menderitanya menahan cinta sepihak yang takkan berbalas. Bagi Raka hanya Rani seorang yang mengisi relung hatinya. Hanya Rani yang tertambat dihatinya. Tak ada yang lain. Meskipun Rani bersikap kasar padanya, ia tetap tak apa-apa. Meskipun hati kecilnya mengutuk sikap bodohnya. Hal itu tertutup dengan begitu besar perasaannya pada Rani. Ia percaya waktu akan meluluhkan sikap Rani.
Hari semakin sore, guratan senja mulai terlihat di langit. Raka menepati janjinya untuk bertemu dengan Mitha. Mereka akan bertemu di halte bus.
*****
Setelah berbicara tadi, Raka tak tampak lagi oleh Kevin. Ia harus menghentikannya sebelum berbuat sesuatu di luar akal sehatnya. Ia tahu sahabatnya itu sudah berada pada titik yang hancur dan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dia mendengar dari anak-anak di kampus kalau Raka untuk pertama kalinya nembak cewek tapi malah langsung di tolak mentah-mentah. Berita Raka yang mendekati Rani di Perpustakaan tadi sudah cepat menyebar ke seluruh fakultas.
Ia gusar memikirkan apa yang sedang terjadi. Bisa jadi saja Raka benar-benar melakukan yang ia usulkan, mendekati Mitha agar ia bisa mendekati Rani. Hal itu bisa saja terjadi karena cinta yang membutakan.
Ia mengunjungi tempat Raka biasa nongkrong. Tapi sosok yang dicari tak terlihat. Di saat sibuk mencari Raka, malah Rani yang terlihat olehnya. Tepat di ujung jalannya berdiri, Rani terlihat sendirian.
Kevin tiba-tiba berlari ke arah Rani, mendorongnya hingga Rani jatuh ke pelukannya. "Kamu tidak apa-apa?" Kevin memeriksa keadaan Rani yang hampir diserempet motor yang melaju kencang. "Aku baik-baik saja, terimakasih." Rani membersihkan tubuhnya yang terkena debu.
"Syukurlah, harusnya kamu lebih berhati-hati." Raka membantu Rani membersihkan debu yang menempel di rambutbya. "Aku sangat berterimakasih, jika kamu tidak datang mungkin aku akan terluka lebih parah." Terlihat ada goresan di pergelangan tangan Rani.
"Kamu sedikit berdarah." Kevin khawatir dan meniupnya agar tidak perih. "Aku tidak apa-apa ... tanganmu juga terluka.” Rani melihat tangan Kevin terluka saat ia memegang tangannya.
"Ini bukan apa-apa ... yakin kamu tidak apa-apa?" Kevin memastikan lagi keadaan Rani. Kemudian Rani menganggukkan kepalanya tanda dia tidak apa-apa.
__ADS_1
*****
Tanpa mereka ketahui Raka yang sedang menunggu Mitha melihat kedekatan mereka saat itu. Terlihat sampai Rani mau memegang tangan Kevin. Begitu juga, dia melihat Kevin tengah menyentuh kepala Rani. Sesuatu yang Raka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia sudah salah paham. Ia menduga Kevin sedang mencoba mendekati dan menaklukkan Rani. Sesuatu yang Raka inginkan, kenapa Kevin dengan mudah melakukannya? Rani pun tak menolak perlakuan Kevin. Rani menerimanya tanpa mengacuhkan Kevin.
Apa yang dilihat Raka sudah menimbulkan kesalahpahaman. Ia dibutakan oleh emosi sesaat. Kenapa orang yang bersama Rani tersebut harus sahabatnya sendiri? Orang yang sudah sangat dipercayainya dan bukankah dia sudah memperingati Kevin untuk tidak mendekati Rani seperti yang biasa ia lakukan pada perempuan-perempuan lainnya se–fakultas ini. Tapi yang dilihatnya sekarang tampak Kevin sudah mengkhianatinya.
Kemarahan memenuhi tatapan Raka. Namun dia tak bisa berbuat apa pun. Mitha yang sudah datang, tak disadari oleh Raka sudah ada di hadapannya. "Raka, kamu tidak apa-apa?" Mitha merasakan ada yang berbeda dari Raka. Sambil melambaikan tangannya, ia memeriksa apakah Raka baik-baik saja.
"Mitha aku mau jadi pacarmu." Tanpa sadar kalimat itu meluncur dari bibir Raka. Mitha yang mendengar langsung senang. Ia tak menyangka Raka terlebih dahulu mengucapkannya. Langsung saja Mitha memeluk Raka dan mengiyakan. Dia mau menjadi pacar Raka. Meskipun pada akhirnya dia hanya menjadi kekasih bayangan. Hubungan yang dimulai karena kesalahpahaman.
Raka tak bisa berpikir jernih saat melihat Rani dengan Kevin. Sehingga ia tanpa sadar memanfaatkan Mitha yang berada di hadapannya. Mengikutsertakan Mitha dalam permainan bodoh akibat tipu daya emosi dan amarah yang tersulut di hatinya. Sehingga ia tak mampu berfikir positif. Raka tak bisa menyalahkan Kevin. Ia hanya menyalahkan dirinya. Untuk apa dia menyalahkan orang lain sedangkan ia melibatkan orang lain dalam kebodohan dan kesalahannya?
*****
Kevin terdiam, tatapannya menuju ke arah depan. Wajahnya memerah melihat Raka sedang berdua dengan Mitha yang sedang memeluknya. Kevin mengira pasti Raka sudah salah paham padanya. Kenapa Raka melakukan itu? Setelah ia bersikeras menolak melakukan itu sebelumnya.
"Kevin?" tanya Rani lagi. Kevin pun sadar, Rani di hadapannya. Inilah penyebabnya. Raka bersikap seperti orang kehilangan akal. Kevin mengusap wajahnya kemudian mengepalkan tinjunya. Menatap lurus ke arah Raka yang berada jauh di balik punggung Rani. Melihat wajah Kevin yang berubah menjadi merah. Rani menoleh ke arah tatapan Kevin, setelah ia bertanya tapi tak mendapat jawaban dari Kevin. Ia juga melihat apa yang membuat Kevin gusar. Ia kaget yang dilihatnya saat itu adalah Mitha sedang memeluk Raka. Ia menelan kekecewaan. Pasti Mitha sudah menyatakan perasaannya.
"Ayo kita pergi ke sana, ada yang tidak benar sedang terjadi di sana," ujar Kevin dan mengajak Rani menuju halte bus tempat Mitha dan Raka berada.
Langkah Rani menjadi berat untuk berjalan ke arah tersebut. Rani menundukkan pandangannya dan menyembunyikan perasaannya. Ia berjalan mengikuti Kevin dari belakang hingga mendekat ke arah Raka. Bagaimana pun ia harus menyembunyikan perasaannya.
Menyadari keberadaan Rani, Mitha melepas pelukannya. Terlihat aura bahagia muncul di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rani. Tak sabar memeluk sahabatnya dan mengatakan semuanya. Namun Kevin yang juga sudah mendekat, langsung saja melayangkan tinju ke wajah Raka.
__ADS_1
Raka yang masih dibutakan emosi langsung membalas. Mereka berdua berkelahi tanpa sebab yang diketahui kedua gadis itu. Kevin melayangkan tinju karena ingin menyadarkan Raka bahwa apa yang ia lihat adalah kesalahpahaman. Namun Raka yang tak terima diperlakukan begitu langsung membalas. Hatinya panas, penuh kebencian dan kemarahan.
Melihat mereka berdua berkelahi, langsung saja Mitha dan Rani mencegatnya dan berusaha menghentikannya. Ini kebetulan atau takdir?
Mitha memegangi Kevin sementara Rani memegangi Raka. "Sudah hentikan!" ujar Rani menahan Raka. Tentu saja Raka tak bisa melampiaskan kekesalannya pada Kevin. Rani yang berada di depannya akan terluka jika ia terus melanjutkan. Ia tak ingin menyakiti Rani.
"Minggir!!!" Kevin berusaha melepas halangan dari Mitha. Emosi benar-benar memucak di ubun-ubunnya.
"Aku takkan minggir. Jika aku minggir, kamu akan melukai Raka." Mitha bersikeras menahan.
Kevin akhirnya diam. Ia terlihat menyerah. Kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Terlihat jelas di mata Kevin bahwa apa yang telah Raka lakukan itu salah. Namun Raka terlambat menyadari.
Rani hendak pergi menyusul Kevin. Ia terlihat tidak baik-baik saja. Tangannya yang terluka berkat menolong Rani tadi, kini ditambah lagi lebam di pipinya berkat tinju dari Raka. Membuat Rani mengkhawatirkannya. Tapi tanpa disadari, tangan Raka mencegat Rani. Refleks menahan kepergian Rani.
"Tetaplah bersamaku, di dekatku. Jangan pergi." kalimat itu terlihat dari pancaran mata Raka tanpa mempedulikan bahwa Mitha juga ada di hadapan mereka saat ini.
Namun Rani tidak mempedulikan Raka. Ia menghempaskan tangan Raka. Menyusul Kevin yang mulai menjauh. Kemudian memeluk sahabatnya, Mitha. Meminta maaf dan memberikan selamat. Kemudian pergi meninggalkan Mitha bersama Raka. Ia masih teguh menyembunyikan perasaan kecewanya.
Kemudian Mitha menghampiri Raka, memeriksa kondisi Raka dan menanyakan dengan tulus apakah Raka baik-baik saja. Lalu Raka akhirnya sadar. Ia sudah melakukan sesuatu di luar akal sehatnya. Melakukan hal yang tidak benar dengan melibatkan Mitha dalam permainan hatinya. Padahal dia berusaha untuk tidak melakukannya, tapi karena cinta itu tuli dan buta, ia tak dapat berpikir jernih dan langsung saja melakukannya.
Ia salah telah mengedepankan logika dibanding perasaan. Logika yang didasarkan pada kesalahpahaman atas apa yang ia saksikan. Tanpa mempertimbangkan perasaan Mitha yang sudah terlibat dalam kekacauan ini.
*****
__ADS_1
Berikan like, komen, vote dan rate yaa guysss