Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Beruntung Rani Segera Datang


__ADS_3

Haloo guyss... Happy Reading!!!


Sebelum baca udah difavoritekan belum? Biar kalian gak ketinggalan info updatenyaa....


Terusss kalau kalian sayang, kasih VOTE dan LIKE yaa kalau kalian pengen komentar, silahkan isi kolom KOMENTAR juga...


Maaf ya Author sedikit bawel hehehe...


Oke, Silahkan nikmati dan semoga suka~


*****


Risa menatap aliran sungai yang berada di bawahnya. Ia memeriksa sekitar, tak ada seorangpun di sekitarnya. Ia semakin dalam menatap ke bawah jembatan. Lalu mengelus perutnya yang tampak membesar. Bulir air mata perlahan mulai jatuh membasahi pipinya. Wajah Ari kini terbayang di benaknya. Kaki kanannya mulai menaiki pembatas jembatan. Air mata semakin mengalir tak terbentung. Ia sudah lelah dengan apa yang terjadi. Kembali bertemu dengan Mitha membuatnya jadi putus asa. Ia berpikir mungkin lebih baik menyusul Ari saja.


Di saat kedua kakinya sudah menaiki pembatas jembatan, Roh Rani tiba tepat waktu menghentikan niatnya menjatuhkan diri ke dalam sungai berbatu yang berada di bawah jembatan.


Rani tahu akibatnya jika dia menampakkan diri dan menyentuh Risa, waktunya akan dikurang tiga hari setiap dia melakukannya. Tapi Itu tidak masalah, ini jauh lebih darurat. Dia harus menyelamatkan nyawa Risa. Hanya Risa satu-satunya harapan untuk Raka. Rani mendeka, mengenggam tangannya dan menggelengkan kepala. Memberi isyarat bahwa perbuatan yang akan Risa lakukan saat ini tidaklah baik.


Rani menatap Risa yang mengelus perutnya. Ia turut kasihan dengan apa yang menimpa Risa. Lalu ia bergantian menatap Ari yang berada di sana. Ari mengangguk dan mengisyaratkan bahwa itu adalah anaknya.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana? Aku bahkan sangat menantikan kehadiran bayi ini, tapi aku tak sanggup hidup di dunia ini sendirian dan aku tak punya tujuan. Bagaimana aku akan melahirkan bayi ini?" Risa menumpahkan air mata yang tak lagi terbendung.


Ari pun turut sedih mendengarnya dan ia menyahuti perkataan Risa, "Ini semua salahku."


"Malangnya dia jika hidup bersama ibu sepertiku. Lebih baik kami berdua menyusul ayah bayi ini daripada hidup sengsara seorang diri tanpa keberkahan." Risa terisak melanjutkan kalimatnya dan Rani masih mendengarkan. Rani tak bisa berbicara dengannya. Ia hanya bisa bicara jika sudah memasuki tubuh orang lain, jika ia tetap berusaha untuk bicara maka waktunya akan dikurangi lagi.


Rani paham dengan apa yang dirasakan Risa dan tahu betapa menyakitkannya hidup sendirian di dunia yang sepi. Tapi bukan ini caranya membalas kesakitan itu. Rani ingin memperlihatkan padanya bahwa hidup ini indah dan ini belum berakhir. Seperti saat Raka, sang malaikat menyelamatkannya.


Rani menyentuhnya dan tahu harus berbuat apa untuk Risa. Ia langsung membawanya ke Rumah Baca, tempat dimana impian bisa diwujudkan. Risa bisa tinggal di sana dan bertemu dengan Raka. Rani yakin Raka pasti akan membantunya. Lau Risa akan mewujudkan tujuannya.


Awalnya Risa ragu untuk mengikuti Rani tapi setelah ia menatapnya dan Rani terlihat seperti orang baik. Risa akhirnya mau mengikuti. Dia hampir saja khilaf melakukan hal buruk. Ia sadar jika ia melakukan itu Ari pasti akan sedih. Ia sudah berjanji akan menjaga anaknya.


Risa duduk di lesehan selagi membiarkan Rani masuk ke dalam. Rani menuju satu-satunya kamar yang ada di rumah itu. Ia bertujuan untuk memberikan kamar itu pada Risa dan membiarkannya untuk menempati kamar itu. Tapi saat Rani masuk ke dalam, ia malah menemukan sosok Raka yang tengah terlelap. Rani memandangi wajah Raka. Berharap bisa masuk lagi ke dalam mimpinya. Tapi harapan itu secepat mungkin ia singkirkan karena itu akan membuat Raka goyah dan kembali memikirkannya.


Daripada memasuki mimpi Raka lebih baik menyentuhnya saja karena waktunya sudah pasti juga berkurang tiga hari karena tadi dia sudah menyentuh Risa. Tapi saat Rani hendak menyentuh pipi Raka dia tidak bisa melakukannya. Tangannya melewatinya begitu saja. Waktunya sudah habis. Sekarang sudah lewat dari jam setengah empat subuh. Itulah aturannya.


Rani menghela nafas tapi itu lebih baik. Jika dia nekat menyentuh, Raka bisa saja terbangun. Setelah puas menatap Raka dia kembali ke luar hendak menghampiri Risa tapi saat ia tiba di luar ia malah melihat Risa sudah tertidur.


Rani melihat roh Ari berada di samping Risa. Ia merasa kasihan ternyata mereka punya nasib yang sama, tidak bisa bersatu dalam cinta karena dipisahkan oleh takdir yang tidak memihak. Ari pun sadar Rani tengah memperhatikannya. Lalu ia berterimakasih padanya karena sudah menyelamatkan Risa.

__ADS_1


"Apa yang sudah terjadi?" Rani bertanya, apakah Ari melihat yang terjadi pada Risa sebelum ia memutuskan untuk bunuh diri. Ari menjawab itu karena Risa tadi bertemu dengan Mitha.


"Kau tidak perlu lagi khawatir, dia aman di sini. Mitha tidak tahu tentang tempat ini. Jadi mereka takkan bertemu di sini," ucap Rani menenangkannya. Lagi-lagi Ari berterimakasih padanya. Kemudian Rani memberitahunya, "Raka berada di sini. Aku baru saja menemukannya di kamar itu. Aku tidak tahu kenapa dia tidur di situ. Tapi setelah dia terbangun, mereka pasti akan bertemu."


Ari terdiam. Dia sebenarnya belum siap jika Risa bertemu Raka secepat ini. Mereka sudah lama tidak bertemu. Hampir tiga tahun lamanya. Masa lalu itu pasti akan terbuka kembali. "Apakah ini menjadi yang terbaik bagi mereka?" Ari meragukannya. Namun Rani sangat percaya diri bahwa Risa-lah orangnya. Risa pasti akan menggengam tangan Raka dan takkan melepaskannya. Cinta ada karena terbiasa, dia hanya perlu mengusahakannya.


Ari tahu tentang waktu yang dimiliki Rani dan mengingatkannya bahwa waktunya tak lama lagi. "Jika ini tidak berhasil, maka aku akan membantunya." Rani sudah bertekad. Meskipun waktunya akan habis terkuras, ia harus segera mewujudkannya. "Ini pasti akan berhasil sebelum waktuku habis."


Melihat tekad Rani, Ari pun ikut sadar bahwa Risa juga harus bahagia. Raka bisa menjadi sumber kebahagiaannya yang tertunda. Ia harus bersikap seperti Rani, berlapang dada dengan keadaan dan mengikhlaskan cintanya bersama orang lain. Terkadang, cinta memang tak harus memiliki.


Raka terbangun dan menemukan Risa yang tengah tertidur. Ia tercengang dan terkejut melihatnya karena mereka sudah lama tak bertemu. "Risa?? kamu benar Risa?" tanya Raka meyakinkan keraguannya. Ia sangat heran kenapa Risa berada disini, harusnya Risa sudah hidup bahagia bersama Ari.


Risa menjawab dan memberitahu Raka bahwa Rani-lah yang membawanya kemari. Bahkan kini Risa mengatakan kalau dia ingin bertemu lagi dengan Rani, ia harus mengucapkan terimakasih karena Rani sudah menyelamatkannya.


"Jangan bercanda kamu." ucap Raka tak yakin dengan perkataan Risa. Raka sudah sepenuhnya sadar bahwa Rani pergi meninggalkannya. Ia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tapi Risa tetap bersikeras bahwa dia benar-benar melihat dan bertemu dengan Rani.


Raka mengusap wajahnya, ia terllihat gusar. Perkataan Risa terdengar tak masuk akal. Tapi jika bukan itu, bagaimana Risa bisa tahu tempat ini?


Raka memandangi foto Rani, "Apakah mungkin kamu ada di sini, Ran? Tidak bisakah kamu memperlihatkan wajahmu padaku seperti kamu memperlihatkannya pada Risa? Aku sungguh merindukanmu." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2