
Risa sudah boleh pulang. Tapi ia harus selalu memeriksakan kandungannya tiap bulan. Saat ia akan pulang Raka masih bersamanya.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Raka melajukan mobilnya ke Supermarket terlebih dahulu sebelum mengantarkan Risa ke Rumah Baca.
Risa terlihat bingung kenapa Raka berhenti di sini? Saat tiba di depan Supermarket Raka mengajak Risa keluar dari mobil dan ikut bersamanya. Risa pun mengikuti mungkin Raka membutuhkan bantuannya. Maka ia takkan segan untuk membantu Raka.
Saat memasuki Supermarket, Raka mengambil keranjang troli yang besar. Risa menatap Raka, sepertinya ia akan belanja bulanan. Namun Raka langsung menuju blok susu untuk ibu hamil berada. Risa baru menyadari kalau Raka melakukan ini untuknya. Ia langsung menjadi tidak enak pada Raka.
"Kamu suka rasa vanila atau coklat, Sa?" Raka menanyakan Risa apa yang ia sukai, "Atau kita beli keduanya saja?"
"Satu saja cukup Raka," ucap Risa pelan. Ia tidak ingin membeli banyak barang. Sebenarnya ia memiliki uang. Ari meninggalkannya buku tabungan yang tidak diketahui keluarganya sebelum Ari pergi untuk selamanya. Tapi Risa tidak ingin membelanjakannya untuk hal-hal yang tak terlalu berguna. Kandungannya masih punya waktu panjang. Ia tidak bisa menduga apa yang akan terjadi nantinya. Jadi ia harus bersiaga untuk itu.
Keranjang troli sudah hampir penuh. Risa mulai khawatir. Raka begitu memperhatikannya, "Raka aku rasa ini sudah cukup," Risa mencoba menyelesaikan waktu berbelanja yang panjang ini.
__ADS_1
"Kenapa Risa, kamu lelah? Apa kita perlu istirahat sebentar?" tanya Raka yang khawatir dengan keadaan Risa. Ia pasti menjadi lebih mudah lelah karena membawa beban yang dua kali lipat lebih berat dari badannya.
"Aku tidak apa-apa, aku rasa barang yang dibutuhkan sudah cukup. Tidak perlu lagi." Jawab Risa
Raka menatap keranjang troli tersebut. Ia menimbang-nimbang apakah ini cukup? Rasanya waktu ia kemaren menemani kakaknya, barang yang dibeli bahkan dua kali lebih banyak dari ini. Raka rasa Risa pasti kelelahan tapi ia tidak ingin menyebutkannya. Kemudian Raka meminta Risa duduk saja biar ia yang lanjutkan. Risa pun dipaksa duduk dan biar Raka yang pergi mengantri ke kasir.
Sebelum Raka pergi, Risa menyerahkan kartu atmnya pada Raka. Ia menyuruh Raka menggunakan itu saat membayar. Namun Raka langsung menolak. Jadi inilah penyebabnya. Risa khawatir akan biaya yang harus ia keluarkan makanya ia menahan untuk membeli barang-barang yang lain.
"Biar aku saja, Sa. Kamu bisa menggunakan itu untuk yang lainnya. Aku yang membawamu kemari jadi biar aku yang mengurusnya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Kamu duduk saja di sini. Jaga kandunganmu dengan baik-baik. Aku sudah berjanji pada Kak Ari untuk menjaga kalian. Biarkan aku melakukan ini Sa, aku ingin membalas semua kebaikan kamu dahulu padaku." Raka bersikeras dan meminta Risa tak perlu khawatir. Risa tidak boleh tertekan seperti yang sudah dikatakan oleh dokter.
Saat Raka ke kasir, Risa merasa harus ke toilet. Kemudian ia memberi isyarat pada Raka yang sedang mengantri supaya Raka tak kebingungan mencarinya nanti. Raka pun mengangguk paham.
Saat sampai ke toilet, Risa tak sengaja bertabrakan dengan seorang pemuda. Ia baru keluar dari toilet pria sementara Risa akan memasuki toilet perempuan. Memang letak kedua toilet itu bersebelahan. "Maaf saya tidak memperhatikan jalan," ucap pemuda itu. Ia menarik tangan Risa saat Risa hampir saja terpeleset ketika menabraknya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," Risa memaklumi dan menarik pelan tangannya agar dilepaskan. Pemuda itu memperhatikan Risa cukup lama. Sepertinya ia tertarik pada pandangan pertama kepada Risa. Namun Risa tak menghiraukan, ia langsung memasuki toilet perempuan.
Tanpa Risa tahu, ternyata pemuda itu menunggunya keluar dari toilet. Dia ingin mendekati dan berkenalan dengan Risa. Pemuda itu tidak tahu kalau Risa sedang hamil karena memang perut Risa tidak terlalu kelihatan membesar. Risa juga lebih suka menutupinya dengan mengenakan pakaian yang berukuran agak lebih besar dari badannya. Jika pemuda itu tahu Risa hamil mungkin ia tak berani untuk mendekat.
"Hai..." pemuda itu melambaikan tangannya dan tersenyum sumringah pada Risa.
Risa yang terkejut hanya merespon dengan menundukkan kepalanya dan berjalan melewatinya. Pemuda itu tak gentar, ia terus mengikuti Risa.
"Namaku Kevin.." Pemuda itu adalah Kevin yang kita kenal. Dialah sahabat Raka. Ia menghentikan langkah Risa dengan mengulurkan tangannya dihadapan Risa. Ia ingin berkenalan. Tapi Risa merasa tidak nyaman dengan Kevin yang seperti orang asing baginya. Ia tidak merespon dan beralih untuk menghindar. Begitulah Kevin selalu nekat untuk mendapatkan yang ia inginkan. Meskipun sering berujung sia-sia.
"Apa tidak boleh untuk saling mengenal?" ujar Kevin mengiba.
"Maaf, saya buru-buru.. Teman saya sudah menunggu, dia bisa khawatir jika saya menghilang terlalu lama," jawab Risa singkat tanpa membalas perkenalan. Ia ingin menghindari Kevin secepatnya.
__ADS_1
Kevin pun membiarkan Risa pergi. Ia masih menatap punggung Risa yang mulai menjauh. Kevin bergumam Ia menyukai Risa. "Gadis misterius yang membuatku penasaran," Kevin melipatkan kedua tanggannya didada dan tersenyum membiarkan Risa terus berjalan pergi. Kevin berharap bisa bertemu dengan Risa dilain waktu. Saat itu terjadi ia pastikan Risa menyebutkan namanya dan membalas uluran tangannya.