
Kevin benar-benar sudah bertekad untuk mendekati Risa. Ia melakukan setiap yang Raka sarankan. Ia sering berkunjung ke Rumah Baca membawakan beberapa barang untuk Risa. Diawal Risa memasang muka masam saat kedatangan Kevin. Tapi ia segera sembunyikan karena Kevin datang bersama dengan Raka.
Kini Kevin sudah semakin dekat dengannya tapi bukan berarti Risa sudah membuka hatinya. Ia begini karena Raka, ia menghormati Kevin sebagai teman Raka. Meskipun begitu Kevin tak pernah gentar meluluhkan hati Risa.
Hari ini waktunya Risa ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilannya. Biasanya ia selalu ditemani oleh Raka. Namun hari ini lain, Kevin yang datang menjemputnya dan berkata Raka tak bisa pergi sebab banyak urusan di kampus. Raka sebenarnya sengaja mengirim Kevin yang pergi agar Risa dapat nyaman dengan Kevin.
Mendapatkan kesempatan seperti itu Kevin langsung menerima tanpa pikir panjang. Saat Kevin datang, ekspresi wajah Risa tampak kecewa. Ia lebih nyaman bersama Raka daripada Kevin. Meskipun beberapa hari ini Kevin sudah dekat dengannya tapi tetap saja ia tak nyaman. Ia merasa seolah ia hanya dikasihani.
"Aku akan menenamimu," ucap Kevin.
"Tidak perlu, Vin. Aku bisa pergi sendiri walaupun Raka tak datang, sebenarnya aku dari awal bisa pergi sendiri. Hanya saja Raka selalu memaksa ikut." Risa dengan tegas menolak tawaran Kevin.
Kevin mencegat Risa yang hendak pergi sendiri. Ia bersikeras pada Risa biar ia temani. Ia menarik tangan Risa kemudian berkata, "Kali ini aku yang memaksa untuk ikut dan menemanimu seperti yang biasa Raka lakukan."
Risa menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak boleh tertekan. Tapi Kevin benar-benar membuatnya resah. Akhirnya ia hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan Kevin. Mereka pergi bersama ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Risa menjalani pemeriksaan seperti biasanya. Setelah pemeriksaan selesai kini mereka mendengarkan penjelasan dokter mengenai kondisi kehamilan Risa.
"Anda datang tidak bersama suami anda saat ini nyonya Risa? Kabar ini harusnya didengar oleh pasangan suami istri." ucap dokter saat melihat Kevin bukannya Raka.
Kevin tentu saja terkejut mendengar pertanyaan dokter. Apakah Raka dikira sebagai suami Risa? Lalu Risa membiarkannya? Bagaimana dengan Raka apa ini tidak masalah baginya? Kevin hanya menelan kekecewaan. Ia tidak berarti berada disini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Dok, anda bisa mengatakannya." ucap Risa. Ia melihat kekecewaan yang tergambar diwajah Kevin.
"Begini,, kandungan anda berkembang dengan baik, namun seperti yang saya katakan sebelumnya, anda tidak boleh tertekan karena itu akan mempengaruhi bayi anda. Bayi anda terlihat kecil ukurannya dari seharusnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi anda yang sering tertekan, apakah anda sering memendam masalah? Sebaiknya anda jangan lakukan itu. Jika ada masalah alangkah baiknya anda bicarakan dan selesaikan dengan suami anda." ucap dokter.
Risa paham dengan penjelasan dokter. Akhir-akhir ini ia memang merasa sedikit tertekan. Ia tertekan dengan perasaannya. Lalu jika dokter bilang ia harus bicarakan pada suaminya, bagaimana ia bisa menjelaskan perasaannya pada Raka?
Kevin yang juga mendengar penjelasan dokter, ikut berpikir panjang. Apakah Risa tertekan olehnya?
"Jika ini bisa ditangani, maka saat pertemuan selanjutnya anda bisa datang lagi dan kita bisa memeriksa dan mengetahui jenis kelamin bayi anda," ucap dokter memberikan kabar gembira.
Risa terlihat senang mendengar kabar itu. Ia tak sabar menanti pemeriksaan berikutnya. Kini saatnya mereka pergi.
Sebelum Kevin mengantarkan Risa kembali ke Rumah Baca ia meminta izin Risa apakah Risa mau makan sesuatu yang manis? Kevin mengingat setiap pembicaraan dokter bahwasanya Risa tak boleh tertekan. Serta makanan yang manis adalah solusi terbaik untuk meringankannya.
"Kalau sedikit sepertinya boleh," Risa bersedia dan juga merasa sedikit bersalah. Kenapa Kevin berpikir seperti itu? Bukan dialah masalahnya, tapi diri Risa-lah masalahnya. Menginginkan Raka yang jelas-jelas tak bisa dimilikinya.
Kevin lega dan melaju pada sebuah Cafe yang menjual es krim dan donat. Kevin membawakannya untuk Risa. Kemudian Kevin berkata, "Risa, aku minta maaf jika sudah membuatmu tertekan."
Risa tertegun apa yang ia pikirkan benar. Kevin berpikir demikian, "Tidak apa-apa Kevin, ini bukan salahmu. Jangan berpikir demikian." jawab Risa menenangkan.
"Seorang ibu hamil memang sering tertekan karena emosionalnya yang sering tidak stabil, itu wajar." Risa kembali melanjutkan kalimatnya agar Kevin tak merasa bersalah.
__ADS_1
"Jika kamu tidak nyaman karena aku selalu berada di dekatmu, maka aku tidak akan lagi mendekatimu, maafkan aku Risa,, aku tidak ingin keberadaanku malah menyakitimu dan calon bayimu," Kevin terdengar menyesal.
"Tidak apa-apa Kevin,, bukan itu masalahnya," ucap Risa kembali dan berkata Kevin harus memakan eskrimnya. Sepertinya saat ini Kevin-lah yang membutuhkan sesuatu yang manis bukan Risa. Kevin tak perlu menyalahkan dirinya.
Kevin tertawa, ia menertawakan dirinya karena ucapan yang dilontarkan oleh Risa bahwa dialah yang butuh glukosa bukan Risa. Bahwa dialah yang tertekan saat ini.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama berbicara. Kevin mengantar Risa kembali kerumah Baca. Risa mengucapkan terimakasih pada Kevin karena sudah menemani dan menghiburnya dengan es krim.
Setelah kepergian Kevin. Tak lama Raka yang datang. Raka bertanya pada Risa bagaimana hasil pemeriksaannya. Kemudian Risa menjawab pemeriksaan berjalan lancar seperti biasanya. Raka pun bersyukur atas itu. Dalam hati Risa berpikir jika Raka mengkhawatirkannya kenapa dia mengirim Kevin? bukannya dia yang pergi.
Kemudian Raka bertanya lagi Bagaimana perasaan Risa terhadap Kevin? Tidakkah Kevin cukup baik saat bersamanya. Risa kembali menjawab dalam hatinya, tidak ada yang lebih baik dari Raka.
"Apa kamu menyukai Kevin? Dia anak yang baik, kamu pasti akan bahagia saat bersamanya karena jika ia tulus dengan perasaannya, maka ia akan serius dan bersungguh-sungguh." tanya Raka
Bukannya menjawab pertanyaan Raka, Risa malah berkata bahwa ia tidak boleh tertekan seperti yang dikatakan dokter. Kemudian Raka terdengar khawatir dan meminta Risa jangan merasa tertekan. Jika Risa punya masalah katakan saja.
"Kamu tertekan kenapa Sa? Apa ada yang membuat kamu tidak nyaman?" Raka bertanya dengan hati-hati
Risa menjawab masalahnya ada pada perasaannya. Tapi ia tak bsa mengatakannya. Namun Raka memaksa ia harus mengatakannya. Jika tidak itu akan berpengaruh pada calon bayinya.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Risa pada Raka setelah Raka menyinggung perasaannya pada Kevin. Risa sedang berusaha melepas penyebabnya tertekan. Namun bukan jawaban yang ia inginkan terdengar dari Raka.
__ADS_1
Raka malah menjawab kalau perasaannya sangat bahagia saat melihat Risa bersama Kevin. Risa menanyakan perasaan Raka padanya bukan perasaan Raka melihat ia bersama Kevin, "Sudah lah, aku tidak jadi menanyakannya." ucap Risa kecewa.