
Menarik kembali kata-kata yang sudah diucapkan pada Mitha, hanya akan membuatnya sakit hati dan Mitha pasti membencinya. Keputusan yang sudah diambil baik itu sengaja atau pun tidak sengaja akan dipertanggungjawabkan oleh Raka. Ia akan berusaha menjalankan hubungan ini bersama Mitha, meskipun tak ada rasa cinta di dalamnya.
Tak pernah sekali pun Mitha menuntut dan mengekang Raka sebagai seorang pacar. Namun justru dengan kondisi yang seperti itu malah membuat Raka semakin tidak nyaman. Ia tidak tahu harus berbuat apa, selagi di dekat Mitha menjalankan perannya sebagai kekasih bayangan. Ketulusan yang diberikan Mitha semakin hari semakin membuatnya merasa bersalah sudah melibatkannya dalam permainan hati yang konyol. Mitha terlalu baik untuk dipermainkan.
Setelah kejadian itu, Kevin juga tampak menjaga jarak darinya. Kejadian tempo hari masih membuatnya kesal. Namun Raka harus menyelesaikan setiap masalah yang sudah diperbuatnya. Jika ingin masalahnya selesai, maka dia harus menemui Kevin. Meluruskan kesalahpahaman yang telah terjadi.
Tak butuh waktu lama bagi Raka menemukan Kevin. Ia terlihat sedang di kantin menikmati sepiring batagor kesukaannya. Raka menghampiri dan sengaja duduk di sampingnya, "Mau apa lo?" ketus Kevin. "Batagor," jawab Raka sambil mencomot batagor Kevin.
Lalu Kevin mengernyitkan dahi. Ia tahu alasan Raka menemuinya, "Bagaimana dengan Lia?" Raka sengaja membahas topik ini agar Kevin mau diajak ngobrol.
"Kalau mau nanya Rani, langsung tanyaa ... jangan bawa-bawa Lia," ketus Kevin yang tahu maksud Raka sebenarnya.
"Gw minta maaf, Vin." Terdengar tulus terucap dari Raka. Kevin menoleh menghadap Raka memastikan apakah benar Raka telah mengucapkan itu?
"Sudahlah. Lupakan kejadian tempo hari ... gw yang salah dah ngasih saran bodoh. gw pikir lu gak bakal ngelakuin hal bodoh yang gw bilang. Tapi yasudahlah, mau gimana lagi. Sudah terjadi." Kevin memaafkan Raka.
"Maaf gw sudah salah paham sama lu Vin, gak seharusnya gw dibutakan oleh perasan. Lo adalah sahabat gw ... gak akan mungkin lu bakal ngecewain sampai mengkhianati gw." Raka menyesal.
__ADS_1
Kevin kemudian menceritakan semuanya pada Raka apa yang sedang terjadi saat itu. Meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Namun yang sudah terjadi antara Raka dan Mitha, itu sudah tak bisa lagi dihentikan. Mau tidak mau harus dijalankan kalau tidak putuskan sesegera mungkin.
"Lu gak merasa bersalah sama Mitha?" tanya Kevin. "Gw bersalah sama Mitha. Tapi nasi dah jadi bubur, Vin ... gw gak tahu harus apa? Kalau gw bilang pada Mitha yang diucapkan adalah kesalahpahaman, pasti dia gak akan nerima, dia pasti akan kecewa dan sakit hati. Belum lagi kalau Rani tahu alasannya, pasti dia bakal sangat membenci gw."
"Lu tahu dia bakal sakit hati, tapi lu masih terus melibatkannya ... bukannya itu akan semakin menyakitkan bagi semuanya?" ujar Kevin. Raka tampak berpikir panjang, apa yang diucapkan Kevin benar. Kesalahpahaman yang terjadi sudah menyakitkan semuanya. Sudah semakin memperburuk keadaan. Itu semua karena keegoisannya.
"Gw penasaran. Kenapa lu gak jadi ungkapin perasaan lu sama Rani?" tanya Kevin. "Entah lah ... waktu terlalu singkat." Raka menghela nafas panjang.
"Waktu dan waktu ... selalu waktu yang jadi masalah, harusnya lu langsung bilang kalau suka sama dia ... gak perlu bertele-tele sampai ngebuang waktu yang berharga. Waktu gak akan ngasih lu jawaban, Bro!" Kevin kembali pada sifatnya yang suka menceramahi Raka.
"Lo masih mikir, bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Nanti kalau dia tolak bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan konyol yang harus dihindari jika ingin mendapatkan jawaban yang tepat. Dalam percintaan gak ada perumpamaan. Cinta gak perlu pake teori. Biarkan mengalir dan harus diperjuangkan bukannya menyerah." Kevin melanjutkan.
"Lalu sekarang harus gimana?" tanya Raka tak tahu lagi harus berbuat apa. "Gw gak tahu ... lu yang harusnya selesaikan masalah ... Mengembalikan semua pada tempatnya," ucap Kevin pasrah. Jika Kevin sudah berkata demikian. Maka itu memang adalah akhir bagi Raka. Tak ada solusi.
"Tapi kemaren ada yang aneh," ujar Kevin tiba-tiba setelah menyeruput es tehnya. "Apa yang aneh?" tanya Raka penasaran.
"Rani—" jawab Kevin singkat.
__ADS_1
"Rani suka sama lu?" Raka mulai ngawur lagi. "Dasar bodoh." Kevin menjitak kening Raka.
"Gak mungkinlah dia suka sama playboy macam gw dan gw juga gak bakal nikung sahabat sendiri. Paham?!" Kevin mempertegas.
"Bagus." Raka lega mendengar Kevin tidak akan tertarik dan merebut Rani dari hatinya. "Lalu apa yang aneh?" Raka melanjutkan pertanyaannya.
"Kayaknya Rani juga suka sama lu," ujar Kevin mengira-ngira. "Saat Rani melihat kalian, jalannya terasa berat ketika gw ajak menghampiri kalian, seperti ada yang ia sembunyikan. Langkahnya tertahan melihat Mitha sama lu, gw rasa Rani tidak menyukai itu. Apa jangan-jangan dia menyembunyikan dan mengubur perasaannya karena dia tahu Mitha lebih dulu menyukai Lu?" lanjut Kevin namun terdengar kurang meyakinkan.
Bagaimana mungkin Rani memiliki perasaan padanya sedangkan sikap Rani padanya sangatlah dingin?
Ditambah lagi secara terang-terangan Rani sudah mengatakan ketidaksukaannya jika Raka mendekat. Bukankah itu sudah cukup menjelaskan bahwa Rani tidak meyukainya?
Tapi tak menutup kemungkinan itu juga terjadi karena sesama sahabat pasti saling menceritakan kesukaannya. Kemudian segelumat kejadian yang pernah terjadi malam itu terbesit di benak Raka. Rani dengan tenang menerima perlakukannya. Ia melihat Rani yang berbeda. Ini benar-benar sudah menjadi rumit.
*****
Jangan lupa vote, like dan komentar yaaaa
__ADS_1