
Mitha tidak bisa menolak permintaan temannya, Rani adalah sahabatnya. Satu-satunya yang ia miliki. Mitha sempat bingung, benarkah Rani menginginkannya melakukan hal itu? Benarkah Rani datang padanya untuk memintanya melakukan hal itu? Mitha sempat berpikir cukup lama setelah ia terbangun dari mimpinya. Ia sadar akan keadaannya dan apa yang dikatakan Rani padanya, "Saat itulah aku tau, cinta itu memang menyedihkan, bukan karena dua orang yang salah. Itu karena waktunya yang salah. Sekali kau melewatkan waktu itu, kau tak akan bisa membalikkan keadaan."
Rani kembali ke taman, tempat ia biasanya berkeliaran. Ia sadar dirinya hanya seorang roh, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya. Rani menjadi sedih mengingat apa yang dikatakan Mitha. Ia kesal karena ia baru menyadarinya. "Mitha benar. Tidak seharusnya aku kembali lagi. Aku hanya menjadi orang yang satu-satunya egois dengan perasaanku."
"Kau menyesalinya?" Sosok itu lagi-lagi datang menghampiri Rani. Ia menatap Rani dengan tatapan meledek. Rani tahu, sosok itu sedang mengejeknya. "Sekarang semua sudah terjadi. Kau tidak bisa kembali. Kau harus selesaikan masalah yang sudah kau mulai. Aku sudah sering memperingatimu bahwa ini tidaklah mudah."
"Siapa bilang aku menyerah. Aku belum menyerah." Rani tak mau kalah. Ia masih bersikap percaya diri. "Apa rencanamu berhasil?" tanya sosok itu dan Rani menjawab ia belum tahu jawabannya. Apakah dengan meminta bantuan Mitha, itu akan berhasil atau tidak. Tapi dia yakin Mitha pasti membantunya. "Aku telah bersalah pada Mitha, tapi aku yakin dia pasti akan melakukannya. Aku mengenal Mitha dengan sangat baik."
Sosok itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak percaya Rani masih percaya diri. Lalu ia duduk di samping Rani dan berkata, "Seseorang yang menginginkanmu dengan segenap hati. Kenapa kau tidak menerimanya dan menggenggam erat tangannya? Bukankah kau harusnya tahu bahwa kekasih sepertinya tak akan ada lagi esok hari." Kalimat yang diucapkan sosok itu persis dengan kalimat terakhir yang diucapkan Raka untuk Rani di hari kematiannya pada tanggal 30 Maret.
Rani menatap heran sosok yang berada di sampingnya. "Siapa kau sebenarnya? Darimana kau mengetahui kalimat itu?" Rani mulai mencurigainya. Sosok itu kelabakan, ia tidak bisa menjawab Rani. Namun Rani masih menuntut jawaban darinya. Sosok itu akhirnya menjawab dan berkilah bahwa dia adalah Penjemput dan Pengantar. Sudah sering dia mendengar kalimat itu dan Rani pun mempercayainya.
Mitha sudah berada di kampus saat ini. Tapi dia terlihat masih belum memutuskan dan dia juga tidak melihat Raka berada di kampus saat ini. Dia hanya bertemu dengan Kevin. "Ada apa?" Kevin menanyai Mitha. Sejak kejadian tempo lalu, Mitha memang menjaga jarak dari Kevin. Tapi dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia melihat Mitha gelisah karena itu dia memulai berbicara dengan Mitha. "Kau sengaja menghindar dariku?" tanya Kevin.
Mitha menjawab tidak. Dia hanya ingin bertemu dengan Raka, ada yang perlu ia katakan. Lalu Kevin menjawab sejak kematian Rani, Raka tak terlihat di kampus. Dia masih menyalahkan dirinya dengan apa yang menimpa Rani. Kevin mengatakan, apa yang ingin Mitha katakan pada Raka katakan saja padanya, nanti biar dia yang sampaikan. Namun Mitha menolak untuk mengatakannya. "Aku hanya bisa mengatakannya langsung pada Raka." Lalu ia pergi meninggalkan Kevin.
__ADS_1
Mitha melangkahkan kakinya menuju Perpustakaan. Tempat yang biasa Rani kunjungi. Saat ia akan melangkah masuk ke dalam, dia menemukan Raka yang tengah berdiri di depan Perpustakaan. "Apa yang kamu lakukan?" Mitha mendekat dan bertanya.
"Oh, tidak ... tidak ... Aku hanya ...." Raka terbata-bata. Mitha menduga-duga, apakah Rani juga datang ke dalam mimpi Raka. "Ayo masuk," Mitha mengajak Raka masuk tapi ia menolak. Dia membenci tempat ini. Dia berdiri disitu karena hanya sedang merindukan Rani. Perpustakaan ini adalah tempat favorit Rani. Meskipun ia membenci tempat ini tapi hanya tempat ini yang bisa didatangi ketika ia merindukan Rani.
Mitha kembali memaksa untuk masuk tapi Raka menolak dan dia pun berlari pergi dari sana. Mitha kelihatan bingung dengan keadaannya. Dia terlihat seperti orang linglung. "Kenapa dia pergi begitu saja?"
Mitha akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam. Dia langsung menuju pojokan yang disukai Rani. Menghampiri rak buku tempat buku yang disebutkan Rani berada dan ia menemukan buku itu, buku tebal yang ia tak pernah tahu apa yang disembunyikan Rani di dalamnya.
Mitha menatap cover buku itu dan air matanya mulai bergulir. Ia ingat selalu mengejek Rani karena membaca buku tebal ini. Ia mengusap cover itu dan duduk di kursi yang biasa Rani duduki. Ia mulai membalik lembar demi lembar halaman dan menemukan tulisan-tulisan yang ditulis Rani. Air mata semakin tak terbendung mengalir di pipinya saat membaca tulisan yang menjelaskan perasaan Rani sesungguhnya. "Aku minta maaf, Ran. Aku yang bersalah pada kalian. Aku yang telah egois memaksakan perasaanku. Cintaku padanya telah membutakanku. Aku tidak bisa melihat bahwa kalian saling mencintai. Kenapa harus kamu yang berkorban? Jika kamu mencintainya, kenapa kamu tidak bisa mengatakannya? Begitu sulitkah untuk memberitahuku?"
Mitha mengingat setiap kenangan yang mereka lalui bersama. Kini sahabatnya itu, sudah tidak ada lagi disini. Ia juga tidak bisa mengatakan selamat tinggal. Hanya kenangan yang tertinggal dari hari mereka bersama-sama. "Inikah yang kamu inginkan? Kamu ingin aku memperlihatkan ini pada Raka? Aku ragu setelah dia melihat ini, dia akan melupakanmu. Kamu tidak bisa mengucapkan selamat tinggal dan dia tidak akan bisa pergi darimu."
Kembali menemukan Raka, itu tidak mudah. Sebuah kebetulan waktu itu Mitha dapat menemukannya. Untuk kali ini bahkan lebih sulit karena dia membawa sesuatu untuk diberikan pada Raka.
Sepuluh hari telah berlalu sejak Mitha membawa buku Rani. Ia masih belum menemukan Raka sejak saat itu. Akhirnya hari ini adalah harinya. Ia melihat Raka lagi di luar Perpustakaan. Sebelum Raka kembali berlari pergi, ia sudah menahannya. "Raka, tunggu. Jangan pergi. Ada sesuatu yang ditinggalkan Rani untukmu."
__ADS_1
Raka berhenti dan menatap Mitha. "Apa itu? Apakah itu sesuatu untukku?" Mitha mengangguk dan membawa Raka masuk ke dalam.
"Ini ...." Mitha memberikan buku itu. Pertama Raka hanya menatap buku itu dan Mitha bergantian. "Bukalah ... Rani menuliskan sesuatu yang ingin dia beritahukan padamu ..." Raka ingat buku ini. Buku yang waktu itu tak sempat ia buka.
"Rani juga mencintaimu, Raka. Ia bahkan berkata kekasih sepertimu takkan pernah ia temukan," ujar Mitha.
Raka masih terlihat bingung. "Apa maksudmu? Katakan padaku! Supaya aku bisa mengerti!" Raka mengerang. Jelas-jelas ini membingungkan baginya. Setahu Raka, Rani tak pernah mencintainya. Lalu kenapa sekarang Mitha mengatakan hal yang berbeda dari yang ia percayai?
Mitha kembali menyodorkan buku itu. "Bukalah. Kamu akan mengetahuinya." Lalu Mitha pergi untuk meninggalkannya. "Aku akan memberikanmu waktu untuk memahami semuanya. Maafkan aku, Raka."
Mitha tidak menyesal telah melakukan hal ini. Padahal dengan menyembunyikan kebenaran pada buku itu, dia bisa saja mendapatkan Raka tanpa harus repot-repot. Tapi bukan itu yang ia inginkan. "Jika aku menginginkanmu, aku akan membuatmu kembali padaku. Aku tidak ingin menjadi pelampiasan karena kamu tidak bisa melupakan Rani." Dia akan mendapatkan Raka dengan cara yang benar.
Seperti yang diminta Rani, setelah ia berikan kebenaran itu pada Raka. Akankah Raka mau menerimanya kembali dan perlahan melupakan Rani?
****
__ADS_1
Berikan cinta kalian!!!!
Silahkan vote, like dan komen supaya 0330 semakin banyak dicintai 💙💙