Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Menuju Keabadian


__ADS_3

Setelah menahan kantuk yang teramat berat dan melelahkan. Rani berhasil membuka matanya. Tapi ada yang aneh terasa saat ia melihat tubuhnya terbaring lemah. "Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa melihat tubuhku? Apa aku sudah mati? Ini tidak bisa terjadi. Aku belum menjelaskannya pada Raka. Dia pasti mengira sampai akhir aku tidak mencintainya. Dia benar-benar mudah untuk salahpaham."


Di samping tubuhnya, Rani melihat Raka tengah berurai air mata. Sesuatu yang tak benar telah terjadi, bukankah ia harus membuka matanya dan mengulangi perkatannya, Rani mencintai Raka. Ia harus menjelaskan pada Raka agar Raka tak salah mengira, apa yang ia ucapkan di hembusan nafas terakhirnya, itu untuk Raka bukan untuk yang lain. Untuk Raka yang ada di hadapannya, untuk Raka yang memberikan kehangatan saat menggenggam erat tangannya. Tapi yang terjadi malah menghalanginya. Takdir tak memihak pada mereka. Ia harus pergi menuju keabadian meninggalkan kekasihnya. Cintanya yang berakhir bahkan sebelum dimulai.


"Raka, aku ada disini." Rani mencoba menyentuh Raka namun ia tak bisa menyentuhnya.


Raka menyibak poni Rani ke samping dan memberikan kecupan. "Raka, bisakah kau mendengarku?" Kembali tak ada jawaban dari Raka. Ia tak bisa mendengar Rani sebab mereka berada di dunia yang berbeda.


Raka mengusap pipi lembut Rani yang terasa dingin. Kemudian ia lanjutkan menyentuh dan mencium lembut bibir Rani. Seperti cerita dongeng, Putri Salju terbangun setelah dicium oleh cinta sejatinya. Raka pikir setelah ia mencium Rani, kekasihnya ini akan terbangun. Namun itu tidak terjadi. Bagaimana bisa sesuatu yang terjadi di dunia dongeng bisa terwujud di dunia nyata.


Hati Rani sakit melihat Raka begitu sengsara dan putus asa. Ia menyesal telah bersikeras menolak Raka di semasa hidupnya. Andai waktu bisa dikembalikan maka ia akan katakan secepatnya. Harusnya cinta itu ia ungkapkan bukan ia pendam. Kini yang tersisa hanya luka dan penyesalan.


"Raka, lihat dan dengar aku. Aku masih disini, di sampingmu. Aku harus katakan padamu bahwa benar, aku mencintaimu." Rani masih berusaha menggapai Raka.


"Percuma saja kau lakukan itu, kau takkan bisa mengagapainya, kau harus pergi. Ikut denganku!" sosok yang berada disebelah Rani dapat melihat dan berbicara dengannya.


"Kau bisa melihatku? Kau bisa mendengarku?" Rani bertanya heran pada sosok mengerikan yang berada di sampingnya. Sosok itu sangat mengerikan dengan pakaian serba hitam yang ia kenakan. Tatapannya juga tampak menakutkan.


Rani kaget, "kau siapa? Benar kau bisa melihatku dan mendengarku?"


Sosok yang di sebelahnya tak memberikan jawaban mengenai siapa dirinya. Ia minta Rani mengikutinya. Sosok itu juga melihat Raka dan memperhatikan betapa Raka sangat mencintai Rani. Lalu ia bergumam, "Apa ini akan berlalu dengan cepat? Apa dia bisa mengikhlaskanmu? Aku tidak ingin mengurusi pasangan kekasih yang menderita karena cinta lagi. Itu akan mempersulit tugasku."


Rani kembali bertanya, "Kau siapa? Apa Kau Malaikat Kematian yang akan menjemputku dan membawa ku pergi untuk selamanya meninggalkan dunia ini?"


Sosok itu berkata, kalau sebutan itu kuno. Di zaman modern ini, bagaimana bisa menggunakan sebutan itu. Lalu ia menyebutkan dirinya adalah Penjemput dan Pengantar. Sebutan untuk malaikat kematian sangat mengerikan. "Aku ini Penjemput dan Pengantar. Aku menjemputmu dari dunia yang fana, kemudian akan mengantarmu menuju keabadian."


Tapi Rani meminta waktunya sebentar. Ada yang harus ia jelaskan pada Raka. "Bisakah aku tinggal sebentar? Ada yang harus aku jelaskan padanya. Dia sangat mudah salahpaham. Bisakah aku kembali pada tubuhku untuk sebentar saja. Dia harus mendengarnya. Aku harus mengatakannya langsung."

__ADS_1


"Seorang manusia dilahirkan untuk sejumlah waktu tertentu. Kau tidak bisa kembali karena waktumu sudah habis. Kau tidak dengar, tugasku sebagai Penjemput dan Pengantar. Tugasku adalah menjemput orang yang waktunya sudah habis. Jadi, aku tidak punya wewenang mengembalikan Roh manusia ke tubuhnya." Sosok itu memaksa Rani untuk segera mengikutinya.


"Aku tahu, aku sudah mati! Tapi Aku mohon sebentar saja. Aku takkan mengingkari takdir ini. Tapi, izinkan aku kembali ke tubuhku. Sebentar saja. Aku hanya ingin memperjelas padanya, Aku mencintainya. Tapi aku pikir dia malah menganggap aku tidak mencintainya."


"Benar, kau sudah mati. Sekarang kau tahu itu, Terima takdirmu dan ikuti aku sekarang."


Rani masih terus memohon. Ia harus mengatakannya langsung pada Raka agar ia bisa pergi dengan tenang. Sosok itu menatapi Rani dengan kasihan dan ia memberikan solusi pada Rani. "Kau tidak bisa kembali pada tubuhmu, tapi kau bisa memberitahunya, apa yang ingin kau katakan."


Rani tak percaya. Bagaimana ia bisa memberitahu Raka sementara Raka tidak bisa melihat apalagi mendengar rohnya. "Kau sungguh-sungguh? Kau bisa memberitahuku? Kau tidak sedang membohongiku, kan? Supaya aku bisa mengikutimu. Jika kau membohongiku, aku takkan mengikutimu. Biar saja pekerjaanmu menjadi lebih sulit."


"Kebohongan hanya dilakukan oleh manusia. Apa aku terlihat seperti manusia?" Sosok itu mengancam dengan memperjelas identitas aslinya seperti yang Rani sebutkan. Benar, dialah Malaikat Kematian. Dia melakukan tugasnya seperti yang diperintahkan Tuhan untuk mencabut nyawa manusia.


Rani membungkuk dan berkata, "Ampuni aku."


"Kau minta aku mengampunimu? Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah seorang yang menerima perintah dari Tuhan. Kau harus minta Tuhan yang mengampunimu bukan memohon padaku."


Sosok itu mengasihani Rani yang tampak putus asa dalam berdoa. Lalu ia memberitahu Rani selama menjadi Penjemput dan Pengantar, ia sering melihat dan mendapati situasi seperti ini sering kali terjadi, "Di situasi seperti ini, hanya ada dua solusi, kau harus memutuskannya." ucap sosok itu.


"Apa pilihannya?" Apapun itu Rani akan melakukannya. Ia harus selesaikan masalahnya dengan Raka agar ia bisa pergi dengan tenang meninggalkan Raka. Ia tidak ingin melihat Raka sengsara dengan kepergiannya.


"Satu, menerima dan pindah ke hidup sesudah kematian dan meninggalkan dunia ini. Kau hanya harus langsung pergi menuju keabadian bersamaku." ujar sosok itu memberikan pilihan pertama.


"Apa kau bercanda? itu artinya aku pergi tanpa mengatakannya. Bukan itu yang aku inginkan." tolak Rani memilih pilihan pertama.


"Selama aku menjalankan tugasku, tidak banyak manusia yang memilih itu. Jika tidak ada lagi harapan di hidupnya, tidak ada lagi yang harus ia katakan. Maka mereka akan memilih untuk pergi dengan sukarela. Tanpa memohon padaku dan pekerjaanku selesai dengan cepat."


Rani bertanya, "Lalu yang lain?"

__ADS_1


Sosok itu melanjutkan dengan berkata mereka mengambil pilihan kedua.


"Apa pilihan keduanya?" Tanya Rani


"Kau bisa memberitahunya dengan perantara orang lain. Kau bisa masuk kedalam mimpinya atau kau masuk kedalam tubuhnya. Tapi ada resiko untuk itu,"


"Apapun resikonya aku akan menghadapinya." Rani sudah bertekad untuk menyelesaikan persoalannya di dunia ini. Hanya satu hal yang perlu ia katakan, Rani mencintai Raka.


"Jika kau sudah memberitahu apa yang ingin kau katakan. Kau bisa kembali menuju keabadian, jika semua orang ikhlas akan kepergianmu. Tapi, Kau tidak bisa menuju keabadian jika masih tersisa satu orang yang tidak merelakan kepergianmu. Jika orang itu tidak bisa mengikhlaskanmu, maka kau harus tetap di dunia ini sebagai roh," jelas sosok itu.


Rani tak peduli dengan resiko yang disebutkan. Tidak mungkin ia akan berakhir sebagai roh gentayangan. Menurutnya, Raka akan ikhlas dengan kepergiannya jika Raka tahu yang sebenarnya. Raka pasti akan mengikhlaskannya karena Raka mencintainya.


"Hanya selama 330 hari batas waktumu. Untuk meyakinkan siapapun agar bisa mengikhlaskan kepergianmu. Kau juga tidak bisa memberitahu dan memaksanya untuk segera mengikhlaskanmu. Biar dia sendiri dengan tulusnya melepas dan mengikhlaskan kepergianmu. Jika kau melewati batas waktu itu, maka kau akan selamanya takkan bisa kembali menuju keabadian. Rohmu akan selalu tersesat dan tertinggal di dunia ini dan aku juga tidak bisa membantumu."


Rani merasa dia tidak perlu waktu selama itu, dalam waktu tiga hari ia pasti bisa menyelesaikannya. Tapi sosok itu berkata tidak akan mudah, karena orang-orang itu harus benar-benar ikhlas dengan kepergian seseorang. Ia harus memastikan orang itu dapat kembali bahagia untuk kehidupannya. Melakukan hal-hal yang baik bukannya melakukan hal-hal yang sia-sia. Meratapi kepergian seseorang itu adalah hal yang tak berguna.


Rani berkata dengan penuh percaya diri, "Kau lihat, Raka mencintaiku. Itu artinya setelah dia tahu bahwa aku juga mencintainya, maka dia akan ikhlas melepaskan kepergianku supaya aku bisa tenang. Aku tahu dia pasti bisa melakukannya."


Sosok itu menertawai Rani, "Jika dia mencintaimu, bukankah berarti dia lebih sulit melepaskanmu? Ikhlas itu seperti kau rawat kepompong menjadi kupu-kupu, meskipun kau tahu yang bersayap akan terbang."


Seketika Rani terdiam. Sosok itu benar. Lalu ia kembali menawarkan Rani untuk memilih pilihan pertama saja. Itu lebih mudah.


******


Berikan Cinta kalian dengan Like, vote dan Komentar


Berikutnya Apa yang akan Rani pilih?

__ADS_1


Pilihan pertama atau tetap pada pilihan kedua?


__ADS_2