
Berminggu-minggu telah berlalu sejak kejadian tak terduga. Raka tak lagi menjadi seseorang yang ditolak keberadaannya oleh Rani. Ia sangat bahagia kini bisa menjadi pelengkap harmoni yang indah bersama Rani. Ia tak lagi menjadi bayang-bayang yang tak diharapkan oleh Rani. Keberadaannya sudah diakui.
Ternyata Cinta ini begitu mudah. Akhirnya ia dapat berada di samping Rani. Tak lagi di dorong untuk menjauh tapi selalu di beri ruang untuk mendekat. Tak lagi di minta untuk di benci, tapi selalu di kasih untuk mencinta. Mereka saling mencintai.
Tiap waktunya selalu ia habiskan bersama Rani. Duduk berdua dan tersenyum menatap langit bersama Rani. Sekali-kali bahkan Raka mengajak Rani ke ruang musik dengan memainkan tiap balok not piano. Ia sangat tahu gadis yang ia cintai ini menyukai melodi yang keluar dari tiap dentunan piano. Seperti itulah melodi yang selalu ia dengarkan pada earphonenya.
Bahagia terlihat di saat Raka memandangi gadis yang sangat dicintai berada disampingnya. Sehingga ia selalu tersenyum dalam kondisi seperti ini. Inilah saat yang selalu diinginkannya. Membuat gadis yang ia cintai tersenyum tanpa menahan apapun.
Melodi yang Rani dengarkan padanya selalu terngiang dan tak terlupakan olehnya. Terdengar sendu namun sangat menenangkan. Melodi yang telah memberi warna dalam hidupnya dan Rani lah pelengkap melodi hidupnya. Awal dan akhir baginya.
Tak lupa juga Raka selalu datang ke Rumah Baca menghibur anak-anak. Meski terkadang hatinya terbakar melihat situasi dan kondisi di sana. Masih sulit baginya menerima kenyataan.
****
Saat ini waktunya bertemu Rani. Raka dengan girang langsung menuju jurusan sastra Inggris. Tak sabar bertemu Rani dan jalan-jalan berdua menikmati makan siang.
__ADS_1
Raka yang tampak sangat bahagia malah Kevin yang sangat murung belakangan ini. Ia terlihat tidak senang dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Ia sangat geram tapi masih sanggup menahannya. Ia tahu sahabatnya sangat mencintai gadis itu sampai tergila-gila.
Cinta memang gila. Sampai-sampai Raka terlihat seperti orang gila. Kesana-kemari sambil tersenyum.
"Hoii kemana?" Kevin hendak mencegah Raka untuk pergi
"Kemana lagi, kalau bukan bertemu Rani, kan sudah punya hak milik." Raka mengucapkannya dengan bangga dan penuh percaya diri.
Kevin mengepalkan tangannya. Ia geram. Ia kesal tapi tak bisa terlampiaskan. Lalu Ia mengusap wajahnya. "Lu ngapain lagi sih Ka, gak capek lu? sadarlah woyy, jangan ganggu dia, biarkan Rani tenang." Kevin terdengar putus asa.
Banyak hal yang ingin Raka lakukan bersama Rani karena kini ia sudah bersama dengan Rani. Ia sudah mencatatnya dan mempersiapkan apa saja yang akan ia lakukan bersama Rani untuk menghabiskan waktu ini. Mereka akan makan bersama, nonton bersama, jalan-jalan sambil berpegangan tangan, berlibur, pergi kesana, pergi kesitu dan masih banyak lagi. Tak ada yang akan terlewatkan untuk di lakukan.
Ia hanya bingung, ada apa dengan orang-orang ini terutama Kevin? Kenapa terganggu dengannya? Tidak suka saja kalau melihat ia bahagia dengan keinginannya. Selalu saja menatapnya dengan kasihan. Apalagi yang harus di kasihani darinya? Buktinya ia sudah mendapatkan dan bersama dengan Rani, Orang yang selalu ia inginkan. Orang-orang ini benar-benar aneh. Tapi memang begitulah adanya. Orang tidak pernah suka dan tidak pernah menerima melihat orang lain bahagia.
Sama seperti hari-hari sebelumnya Raka senantiasa menunggu hingga kelas selesai. Menatap dari jendela sang pujaan hatinya. Sungguh menenangkan hatinya bahkan hanya dengan menatap.
__ADS_1
Mitha memperhatikan Raka dari dalam kelas. Apa yang sedang dilihat oleh Raka? Kenapa wajahnya berbinar-binar? Lalu Mitha memperhatikan, mengecek pada siapa Raka menatap. Lalu berdecak saat mendapati apa yang dia tatap sebenarnya. Ia kesal dan tak mau menerimanya.
Ia mendelik ke pojok ruangan, kemudian menatap lagi ke arah Raka. Namun kini tatapannya malah terlihat sangat menyedihkan.
Lalu kelas pun selesai. Satu per satu orang keluar dan Mitha menjadi orang yang keluar terakhir.
"Hai Mitha, Aku akan pergi bersama Rani," ucap Raka girang memberitahunya.
"Kamu mau kemana?" tanya Mitha saat Raka akan melangkah masuk
"Menghampiri Rani-lah lihat dia sudah menungguku disana, sambil tersenyum ... Aduh senyumnya bikin aku sulit bernafas." Raka memegangi dadanya
Lalu Mitha membasahi kerongkongannya yang kering. Ia kecewa benar-benar kecewa melihat apa yang terjadi. Sambil menepuk pundak Mitha, Raka bergegas masuk kedalam kelas menuju tempat duduk favorit Rani. Mitha hanya menatap punggung Raka yang membelakanginya.
Ia menghela nafas "Maafkan aku Raka, aku tak bisa menyaksikan ini, hatiku terasa sakit melihatmu." ujarnya sebelum pergi meninggalkan Raka. Ia tak sanggup melihat pemandangan ini semakin lama. Hatinya gusar dan gelisah. Kenapa hal ini bisa terjadi?
__ADS_1