Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Kehidupan Risa


__ADS_3

Perempuan itu adalah Risa dan roh laki-laki itu adalah Ari. Sejak kematian Ari yang meninggalkannya bersama cabang bayi yang belum lahir, membuat Risa harus bertahan hidup dengan mandiri. Meskipun Ari meninggalkan tabungannya, Risa tidak mau menggunakannya. Tabungan itu bisa saja habis jika dia tidak bijak menggunakannya. Kandungannya masih kecil sehingga dia membutuhkannya untuk berjaga-jaga dari hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi.


Saat ini Risa sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah Restoran. Ia mendapat tugas membersihkan peralatan kotor dan membantu beberapa hal kecil di dapur. Kehamilannya membuat Risa gampang lelah. Sehingga tanpa sadar ia sering ketiduran. Roh Ari saat ini berada di dekat Risa. Ia memperhatikan Risa yang tengah tertidur karena kelelahan. Ia sedih dan merasa bersalah karenanya Risa menjadi menderita.


Saus yang sedang di masak Risa hangus terbakar. Ia masih tertidur dan Ari tak bisa membantu membangunkannya. Meskipun ia sudah berupaya keras. Souchef (Asisten Chef) datang menghampiri. Ia segera mematikan kompor dan membangunkan Risa yang tertidur dalam posisi duduk di depan kompor. Souchef berteriak memarahi Risa, "Apa kau gila? Mana ada orang yang tertidur saat memasak saus. Kemana otakmu?"


Risa merasa bersalah, buru-buru bangun dan meminta maaf. Souchef berteriak, "Kau pikir minta maaf saja cukup? Kau hampir menyebabkan kebakaran. Melakukan hal dasar saja tidak becus. Seharusnya kau kupecat saja. Restoran siapa yang kau coba bakar?"


"Bukan Restoranmu!" sahut Kepala Chef yang juga merupakan pemilik Restoran tiba-tiba datang dan sudah berdiri di depan mereka. 


Souchef yang semula galak langsung diam begitu melihat wajah atasannya. Kepala chef melihat asap tebal di dalam dapur dan dia menyindir "Restoran ini juga dilengkapi fasilitas pemandian air panas. Pasti akan membuat pengunjung banyak berdatangan. Aku berterimakasih pada kalian." Sindiran itu membuat Risa menunduk menyesali kecerobohannya.


Lalu Kepala chef itu menyuruh Risa pergi mencuci piring saja. Tugasnya bukan untuk membuat saus. Sekali lagi Risa meminta maaf karena kesalahannya sebelum dia pergi ke belakang untuk mencuci peralatan dapur. Tapi Kepala chef tidak menanggapinya. Ia hanya menghiraukan permintaan maaf Risa.


Masih di dapur, Kepala chef memarahi Souchef. Dia bertanya apa jabatan dan tugasnya di dapur. Souchef itu menjawab dia adalah Souchef. Lalu Kepala chef berkata itu berarti dia hanya orang nomor dua di dapur dan tidak berhak memecat karyawan karena bukan dia pula yang mempunyai restoran ini. Jadi jangan berlagak.


"Sebelum kau menganggap ini Restoranmu. Kau harus mengurusnya. Tapi kau malah menyuruh orang seperti dia untuk membuat saus?" bentak Kepala chef.


"Sebenarnya aku yang membuat saus, aku hanya menyuruh dia untuk mengawasi selama 10 menit. Ternyata sebentar saja dia tidak bisa melakukannya." jelas Souchef dengan terbata.

__ADS_1


"Memangnya ada waktu sebentar di dapur? Sebentar di dapur itu bagai hidup dan mati. Kau tahu?" ucap Kepala chef dengan nada tinggi. 


Souchef meminta maaf dan dia menjadi kesal karena kesalahan Risa malah dia yang dipermalukan, "Kau kurang profesional, menyuruh orang lain mengerjakan pekerjaanmu. Tidak bisa aku toleransi. Ini bagian dari sifatmu bukan dari hal yang kau pelajari."


"Maafkan aku, Chef." ujar Souchef.


"Lakukan dengan benar, kau bisa kan? Jangan di ulangi." Kepala chef lalu pergi dan menganggap masalah selesai.


"Ya, Chef." jawab Souchef menundukan kepala. 


Begitu Kepala chef pergi, Souchef mendekati Risa dan menariknya pergi ke belakang. Souchef memojokan Risa ke tembok. Ia kesal, usianya sudah 30 tahunan tapi dia dimarahi seperti anak kecil. Sungguh memalukan. "Maafkan aku, Souschef." ucap Risa menyesal.


"Aku minta maaf Souchef. Aku tidak akan mengulanginya. Mohon maafkan aku kali ini saja." jawab Risa. "Lakukan dengan baik, hah." Souchef itu lalu pergi.


Risa kembali menggosok panci yang dia gosongkan tadi, lagi-lagi ia melakukan pekerjaanya sembari terkantuk-kantuk. Ia tahu ia tidak boleh seperti ini. Lalu ia mengusap matanya dengan air, memberi penyegar pada matanya. Tapi malah terasa semakin perih karena dia tidak sadar tangannya terkena saus dari panci yang ia sedang cuci. "Kau menderita karena aku, Sa." ucap Ari yag masih berada disitu.


Rani sudah sampai di Rumah Baca Kita. Disana terlihat lebih sepi dari biasanya. Suasana juga jadi lebih menyedihkan. Rani melihat Dido sedang duduk melamun sambil mendekap buku cerita yang pernah Rani berikan padanya. "Kak Rani, Dido kangen," lirih Dido dengan mata berkaca-kaca.


"Dido, kenapa?" ujar Bu Riri mendekatinya. Dido menggeleng dan mengusap air matanya yang sudah jatuh.

__ADS_1


"Dido kangen sama Kak Rani?" tanya Bu Riri dan Dido mengangguk mengiyakan. "Kalau Dido kangen sama Kak Rani, Dido doakan Kak Rani supaya Kak Rani tenang disana." Bu Riri menasehatinya.


Roh Rani yang melihat adegan itu ikut tersentuh dan menjatuhkan air matanya. "Kak Rani pasti senang disana ya, Bu? Bisa ketemu dan kumpul lagi sama mas Raka," ujar Dido lagi.


Bu Riri terdiam. Dido membuatnya ikut mengingat Raka, anaknya. Lalu dia tersenyum dan mengusap kepala Dido. "Kenapa orang yang kita sayang lebih cepat dipanggil Tuhan, Bu?" tanya Dido lagi. Begitulah Dido dia selalu punya banyak hal untuk ditanyakan. Bu Riri menjawab artinya Tuhan lebih sayang dengan mereka dan supaya kita juga selalu mendoakannya jika kita memang menyayanginya. "Baik, Bu. Dido bakal doain Kak Rani dan Mas Raka tiap hari biar mereka tenang di surgaNya Tuhan."


Lalu Dido bertanya tentang keberadaan Raka pada Bu Riri. Raka yang merapikan rambutnya sebelum pertunjukkan dan Raka yang membacakan buku cerita untuknya. Bu Riri tidak bisa menjawab karena dia tidak tahu alasannya. Tapi yang kemungkinan terjadi adalah Raka pasti lebih terpukul dengan kepergian Rani sehingga dia tidak siap untuk datang lagi kemari. Tempat ini pasti akan selalu mengingatkannya pada Rani.


Selesai melayani para pelanggan, semua karyawan tengah beres-beres sebelum pulang. Dalam ruang ganti karyawan. Terdengar suara keluhan dari para karyawan pria. Mereka mengeluh karena memasak 150 porsi pasta hari ini. Kenapa pelanggan terus saja berdatangan. Menyebalkan sekali. Soucheflah orang yang paling keras mengeluh sementara yang lain merasa senang, bukankah jika bisnis lancar gaji mereka akan naik. Tapi Souchef berkilah dengan mengatakan bahwa Kepala chef tidak perhatian pada karyawan.


Karyawan di Restoran Risa bekerja hanya terdiri dari 5 orang dan hanya dia satu-satunya perempuan. Oleh karena itulah Ari selalu mengikutinya. Ia ingin menjaga Risa dari laki-laki yang mungkin akan mengganggunya.


Setelah membersihkan semua peralatan yang kotor. Risa hendak masuk ke ruang ganti tapi tidak jadi begitu ia melihat para pria itu masih disana dan sedang ganti baju. Begitulah ruangan itu terpaksa dipakai bersama karena hanya Risa satu-satunya perempuan. Sehingga jika Risa ingin memasukinya ia harus menunggu semua pria itu selesai.


Risa sedikit mengintip untuk memeriksa apakah pria-pira itu sudah selesai berganti pakaian. Salah satu pria yang masih berada disana mengetahui hal itu. Ia menyuruh Risa untuk masuk dan memberi tahu kalau mereka sudah selesai. Lalu pria itu pergi menyusul yang lain ketika Risa masuk ke dalam. Risa pergi ke lokernya, berganti pakaian dan siap untuk pulang.


Risa keluar dari restoran berjalan menuju halte bis. Sepanjang jalan dia terus saja menundukkan wajah. Saat di dalam bis, ia lebih banyak diam dan melamun. Roh Ari duduk disebelahnya sambil memandang sendu wajah Risa. "Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau terlihat sangat tertekan?" tanya roh Ari saat melihat Risa melamun.


Sampailah Risa di rumah kos yang dia tempati. Begitu sampai, ia langsung memotong mangga yang ia beli di jalan tadi. "Kita harus tetap bertahan hidup dengan kuat meskipun dunia ini kejam, Nak. Ibu sudah janji pada ayahmu, ibu akan menjagamu. Kita harus hidup bahagia supaya ayahmu juga bahagia disana, Nak" Risa mengelus perutnya yang belum terlihat membesar.

__ADS_1


Roh Ari menitikkan air mata saat mendengar Risa berkata demikian, "Kau harusnya makan nasi, Sa. Bukankah kau tidak menyukai mangga, Kau bilang mangga itu asam dan terasa seperti gabus?" Tapi Risa dengan lahap menyantap mangga-mangga yang sudah ia potong.


__ADS_2