
Raka sedang menunggu Rani keluar dari Perpustakaan. Raka masih belum bisa menerima alasan yang diberikan Rani agar ia menjauh. Jadi ia sengaja menunggu Rani sebelum bertemu dengan Mitha nanti. Raka perlu bicara sekali lagi dengannya untuk memantapkan diri dan menerima alasan yang konyol tersebut. Sehingga ia bisa berpikir jernih akan melakukan apa nanti pada Mitha.
Raka memperhatikan arlojinya dengan seksama. Itu menunjukkan hampir pukul setengah empat sore. Ini waktu yang tepat. Perpustakaan akan segera tutup dan Rani pasti akan keluar. Ia memperhatikan sekitar. Namun Rani tak kunjung keluar dari Perpustakaan tersebute.
Ia melihat dari luar jendela. Menemukan sosok Rani tengah hanyut dalam menikmati buku yang ia baca. Raka tak mampu untuk masuk ke dalam karena memang tak pernah sekali pun baginya masuk ke dalam Perpustakaan, itu adalah hal yang paling ia hindari sejak menginjakkan kaki di kampus ini. Perpustakaan adalah tempat yang paling membosankan baginya.
Menunggu di luar membuat Raka malah semakin gelisah tak menentu. Ia terus saja menggoyangkan kakinya. Sesekali menatap arlojinya yang terus berganti menit.
Sekian lama menunggu, akhirnya sosok yang ditunggu Raka keluar. Secepat mungkin ia mencegat langkah Rani agar sebelum selesai bicara Rani takkan pergi. "Rani, beri aku waktu untuk bicara." Raka menarik tangan Rani untuk menghentikan langkahnya.
Rani terkejut melihat Raka yang tiba-tiba muncul. Namun belum selesai Raka bicara Rani sudah melepaskan tangannya dari Raka. Ia kembali masuk ke dalam karena tidak ingin ada urusan dengan Raka. Ia harus menghindarinya. Tapi Raka terus berusaha menghentikannya, ia tak mau kalah. Meneriaki nama Rani dari luar Perpustakaan tapi tetap saja Rani mengacuhkannya, ia tidak peduli. Malah yang terjadi adalah Raka mendapat tatapan sinis dari pengunjung perpustakaan lainnya.
Lalu dengan tekad bulat akhirnya Raka memaksakan diri memasuki Perpustakaan tersebut. Tempat yang takkan pernah ia kunjungi. Ia melanggar prinsipnya demi seorang Rani. Ia tidak memedulikan tatapan orang-orang padanya. Setiap orang berbisik tentangnya. Ia tidak peduli yang ia butuhkan hanya sebuah kesempatan dari Rani.
Setelah menelusuri setiap lorong rak buku, akhirnya Raka menemukan Rani. Langsung saja ia menghampiri dan duduk di depan Rani. "Walaupun aku tahu, kamu akan mengacuhkanku ... Tapi aku yakin kamu akan mendengar setiap ucapanku," putus asa Raka mengucapkan kalimat itu. Rani hanya melirik sekilas. Kemudian tatapannya kembali diarahkan pada buku yang ia pegang.
"Beri aku waktu untuk menjelaskan, kenapa aku terus saja mendekatimu, tak berhentinya menghampirimu. Aku sudah mendengarkan alasanmu. Sekarang kamu harus dengar alasanku. Tidakkah kamu penasaran? Untuk itu, beri aku waktu menjelaskan semuanya." Raka memohon.
__ADS_1
Rani khawatir dengan apa yang akan dijelaskan oleh Raka. Ia sudah tahu Raka akan berkata apa tapi ia tetap tak ingin mendengarnya.
"Jawab aku!" Raka mulai kesal. Ia merebut dan menyingkirkan buku yang ada di hadapan Rani, "Apa buku ini lebih penting daripada makhluk hidup yang ada di depanmu saat ini?" Raka mulai menaikan nada suaranya.
Tentu saja itu mengganggu orang-orang di sekitar mereka. Di dalam Perpustakaan tidak boleh ada suara yang menggangu pengunjung lainnya. Lantas saja setelah itu, semua tatapan mengarah pada mereka. Rani tentu saja risih dengan situasi tersebut. Dia menutup buku yang ada di hadapannya dan mulai menanggapi Raka. "Lima menit ... waktumu untuk menjelaskan," ujar Rani. Tentu saja Raka senang dan berterimakasih pada semua orang yang sudah membantunya hingga Rani mau bicara. Harusnya dari tadi ia berulah supaya mendapat perhatian dari Rani.
"Baiklah." Raka memulai menjelaskan, "Aku berterimakasih akhirnya kamu mau bicara dan memberikanku kesempatan untuk bicara,"
"Jangan buang waktumu dengan hal yang tak penting," ketus Rani.
"Waktumu tinggal tiga menit," Rani tak mempedulikan. Ia hanya ingin waktu cepat berlalu agar Raka tak mengatakannya.
"Kamu tahu, aku tadi bertemu Mitha dan dia berkata ada yang ingin dia beritahukan, tapi entah kenapa aku sudah mengira apa yang ingin diucapkannya."
"Dua menit." Rani tak mau dengar itu, ia sudah tahu.
"Alasanku mendekatimu sama seperti yang dilakukan oleh Mitha dan apa yang akan diucapkan Mitha nantinya, aku akan ucapkan padamu sekarang." Raka bermaksud mengungkapkan perasaannya pada Rani saat ini di tempat ini.
__ADS_1
Rani mulai khawatir. Ia tak ingin Raka melakukan hal itu. Sebab ia tidak ingin menolaknya jika sampai Raka mengungkap perasaannya karena ia masih saja memikirkan Mitha. Raka tak boleh mengungkap perasaanya. Ia tak ingin mendengar itu. Rani hanya memikirkan perasaan Mitha, bagaimana mungkin dua orang menyukai satu orang yang sama?
Lalu ia mulai beranjak dari posisinya, "Waktumu habis, tidak ada lagi yang bisa aku dengarkan. Urusanmu dengan Mitha aku tidak peduli. Apa pun yang akan kamu katakan padanya, aku tidak ingin mendengarnya. Tak perlu lagi dikatakan. Menjauhlah, menjauh dariku, hanya itu yang aku minta padamu. Aku sudah berikan kamu kesempatan dan memberimu waktu untuk menjelaskan. Jadi jangan mengusikku lagi. Sekarang aku mohon jangan dekati aku dan jangan pernah berbicara padaku lagi. Aku tidak nyaman jika kamu selalu berkeliaran di sekitarku. Aku muak dengan itu." Rani meninggalkan Raka. Ada rasa bersalah terbesit, ada perasaan lain yang ingin Rani lenyapkan. Ia perlahan berjalan meninggalkan Raka dengan mata berkaca-kaca dan ia lupa membawa bukunya. Ia tinggalkan begitu saja di depan Raka.
Sementara itu, Raka terlihat tak berdaya. Mengusap wajahnya. Menghapus kekecewaan dan kekesalannya. Melirik pada buku tebal yang ada di hadapannya. Buku dengan judul "YOU'RE MY DESTINY".
Rani membaca buku ini, tapi tidak pernahkah sedikit pun ia berpikir untuk menjadi bagian dari takdir Raka? Seperti Raka yang menginginkan Rani sebagai takdirnya. Kenapa Rani tak ingin mendengarkan perasaannya? Kepergian Rani telah membungkam Raka. Selanjutnya apa yang akan Raka perbuat?
Setelah ini, ia berjanji untuk menemui Mitha. Apa Raka harus melakukannya dengan Mitha? Segelumat pertanyaan berputar di kepalanya. Lalu Raka penasaran dengan buku yang ada di hadapannya. Ia hendak membukanya. Namun tak bisa ia lakukan karena bel perpustakaan berbunyi pertanda bahwa setiap pengunjung harus meninggalkan tempat ini. Andai Raka bisa membuka kotak pandora Rani, pasti ia akan tahu alasan di balik Rani mendorongnya untuk menjauh.
Semakin ia mendorongnya untuk menjauh, semakin ia meminta untuk membenci maka sebanyak itu pula perasaan di antara mereka tumbuh dan bersemi satu sama lain.
"Jika kamu memang peduli padaku, kenapa kamu tidak mengejarku dan menghentikan langkahku yang pergi meninggalkanmu?" ucap Rani saat menoleh ke arah Raka dari luar Perpustakaan.
*****
Berikan like, koment dan vote ya guyss!!
__ADS_1