Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Sesuatu yang Tak Terduga


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Saatnya setiap pengunjung perpustakaan harus meninggalkan tempat, termasuk dengan Rani.


Tanpa sadar Rani terlelap tenggelam dalam bukunya. Saat bel peringatan berbunyi ia terbangun. Mengusap kedua matanya yang berat. Ia memperhatikan sekitar. Ternyata ia masih di perpustakaan. Langsung saja Rani meletakkan buku yang ada di tangannya kembali ke tempat semula. Sebelum ia meletakkannya, ia mencium cover buku tersebut dan mengusapnya. Semua rahasianya tersimpan dalam buku ini. Lalu Rani keluar dari perpustakaan dengan sempoyongan. Kepalanya terasa sangat pusing. Pandangannya terasa kabur. Kemudian ia mengusap wajahnya, tapi tetap saja pandangannya kabur.


Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga terjadi. Setiap orang berkumpul membentuk kerumunan. Menatap kejadian yang terjadi dengan ngeri. Kondisi sangat riuh dan kepanikan tentu saja terjadi.


*****


Raka baru saja bergabung dengan Kevin dan Mitha. Ia menanyakan Rani pada Mitha kenapa mereka tak terlihat bersama.


Mitha menjawab, Rani sedang di perpustakaan. Raka menoleh arloji di tangannya. Jam menunjukkan pukul setengah empat sore. Ini waktunya perpustakaan tutup. Raka berpamitan ingin menyusul Rani. Sekali lagi saja ia akan memastikan Rani untuk menerimanya. Jika memang tidak bisa lagi, maka ia akan coba untuk menjauhi dan membencinya seperti yang Rani inginkan.


Hujan rintik-rintik perlahan turun. Membasahi jalanan menuju arah perpustakaan. Orang-orang berlarian. Raka bingung dengan yang terjadi di sekitarnya. Kenapa orang-orang berlari seperti kepanikan? Padahal Hujan tidak terlalu deras.


Di ujung tatapannya ia melihat kerumunan orang. Tentu saja ia penasaran, apa yang sedang terjadi?


Hatinya menuntut agar mempercepat langkah menuju kerumunan itu. Terasa sesak di batin Raka. Ia tak tahu kenapa ini terjadi. Saraf motorik pada otak Raka memberi perintah ke kakinya untuk bergegas. Tanpa peduli apapun yang sedang terjadi. Ia harus berlari dengan cepat. Kegelisahan tak berhenti di hati Raka. Hatinya berdebar-debar kencang tak seperti biasanya. Apa yang sedang terjadi ada hubungannya dengannya?

__ADS_1


Raka menerobos kerumunan tersebut. Terdengar desas-desus yang tak jelas. Membuat perasaannya makin tak jelas.


"Ia tidak memperhatikan jalanan, saat lampu hijau Ia malah melintasi jalanan yang ramai," terdengar ucapan seseorang pada kerumunan itu.


"langsung saja Ia tergelatak tak sadarkan diri setelah sebuah mobil yang melaju kencang menabraknya," ujar yang lainnya.


Hati Raka makin gusar. Ia memaksakan diri mendekati korban yang tergeletak tersebut. Raka tak mampu berkata-kata melihat sosok yang tergeletak tak berdaya. Banyak darah mengalir di kepalanya. Ia langsung mengangkat kepala gadis tersebut dan meletakkannya di pahanya.


Ia menggenggam erat tangan gadis itu sambil berteriak "Panggil ambulance sekarang juga."


"Ambulance sedang dalam perjalanan." ucap seseorang dari kerumunan.


Gadis itu tersenyum. Menggerakkan tangannya ke pipi Raka "Aku tidak apa-apa" ujarnya lembut tanpa merasakan sakit sedikitpun.


"Dimana ambulancenya, kenapa lama sekali?" teriak Raka lagi dengan tak tenang


"Maafkan aku. Kamu jadi berlumuran darah," ujar sang gadis.

__ADS_1


"Jangan pedulikan aku, kamu harus bertahan, kuatkan dirimu." tampak air mata keluar dari mata Raka.


Gadis itu mengusapnya. Tangan sang gadis terasa dingin menyengat pipi Raka.


"Aku baik-baik saja. Tenangkan dirimu." ucap sang gadis menyuruh Raka tenang.


"Jangan bicara lagi." Raka menghentikan gadis itu bicara.


Raka langsung menggendong gadis itu memasuki ambulance yang datang. Ia masih terus menemani tanpa melepas genggaman tangannya.


"Kamu harus bertahan." Raka sangat khawatir.


"Maafkan aku sudah menyuruhmu untuk membenciku. Maafkan aku sudah menyakitimu dengan mendorong mu untuk menjauh. Maafkan kata-kata kasar ku padamu." ujar sang gadis dan air mata bergulir. Ia tak hentinya mengucapkan maaf dalam kondisi yang memprihatinkan.


Raka mengusap air matanya yang mengalir "Hentikan ... Jangan ucapkan itu lagi." Raka sangat khawatir dan takut terjadi apa-apa pada gadis ini.


****

__ADS_1


Mitha mendapat telepon yang memberitahunya untuk segera ke Rumah Sakit. Suara di balik telepon mengatakan ia harus bergegas karena orang yang paling ia sayang tak punya banyak waktu untuk bertahan. Sebelum ia pergi, ada yang harus ia sampaikan pada Mitha. Sesuatu yang tak terduga terjadi.


__ADS_2