
Risa masih terdiam mendengar pernyataan Ari dan Ari sekali lagi menjelaskan perasaannya, ia menyukai Risa. Tidak hanya sebagai sahabat, Ari ingin memiliki hubungan yang lebih dari sahabat dengan Risa.
"Sa, aku menyukaimu. Sungguh, aku ingin hubungan kita tak hanya sebatas sahabat, bisakah kita lebih dari itu?" Ari menjelaskan perasaannya di depan semua orang kepada Risa.
Namun Risa bingung harus merespon apa. Ia masih bingung dengan perasaannya. Ia tak ingin mengambil keputusan yang salah. Hubungannya dengan Ari hanya sebatas sahabat dan dia tak ingin lebih dari itu. Hal ini berbeda dengan apa yang ia rasakan jika itu adalah Raka
Raka juga mendengar pernyataan Ari. Memang benar, ternyata Ari menyukai Risa. Namun Raka khawatir apakah ia masih bisa dekat dengan Risa? Ia merasa khawatir atau merasa aneh? Keduanya terasa sedikit mengganjal.
"Sa, kamu cocok sama kak Ari.. Aku setuju banget kalau kamu jadian sama Kak Ari, kenapa kamu ga langsung jawab pernyataan kak Ari kemarin? kalian kan juga dah dekat," Raka menyetujui pernyataan Ari tanpa mengetahui perasaan Risa yang sebenarnya.
"Aku gak mau membahas itu, Raka..." Risa kesal kenapa Raka malah ikutan menyarankannya menerima pernyataan Ari.
"Aku senang loh, kalau kalian bisa jadian."
Perasaan Risa kan untuk Raka. Kenapa bisa-bisanya Raka mengecewakannya? Apa dia tak punya perasaan sedikit pun pada Risa? Peka dikit kek,
"Sa, kantin yuk?" Ari tiba-tiba datang menghampiri. Ia tampak bersikap seperti biasanya. Padahal baru kemarin ia menyatakan perasaannya. Risa tak bersikap aneh ataupun menjauh. Ia mengikuti Ari meninggalkan Raka.
Ari dan Risa masih dekat sebatas sahabat. Namun Ari tak henti berharap perasaannya bisa diterima oleh Risa.
__ADS_1
"Sa, kamu gak mau hubungan kita lebih dari ini?" tanya Ari kembali. Ia ingin meyakinkan Risa dengan perasaannya.
"Bukankah ini lebih baik?" ujar Risa santai. Tak pernah baginya memikirkan hubungan yang lebih daripada ini. Bukankah menjadi sahabat itu lebih baik? Kita masih bisa bersikap seperti apa adanya, tanpa ada yang perlu ditambah atau dikurangi?
"Aku mau ngasih tau kamu Sa, kalau kamu adalah orang teratas yang selalu ku undang dalam mimpi dan khayalku, bersama denganmu saja sudah mampu membuat aku bahagia, akhirilah penantianku kenapa Sa? Aku ingin kamu menjadi satu-satunya perempuan di sisiku dan aku akan membuatmu jadi perempuan yang paling bahagia saat itu terjadi." Sekali lagi Ari meyakinkan perasaannya agar Risa mau mendengar dan mempertimbangkannya.
"Akan lebih baik kalau kalian jadian, kamu gak meleleh Sa dengarin pernyataan Kak Ari?" Raka tiba-tiba menimpali, "Kalau aku jadi cewek yang ditembak gitu sama kak Ari, langsung aku jawab iya. Kalian cocok loh kalau bersama. Kak Ari untuk Risa dan Risa untuk Kak Ari."
Kenapa Raka selalu mendorong Risa jadian dengan Ari? Risa penasaran apakah Raka tak juga punya perasaan yang sama dengannya selagi mereka juga dekat selama ini?
"Raka aja setuju Sa." ucap Ari penuh harap.
"Jadi gimana, Sa? Kak Ari emang gak nuntut balasan kamu, Tapi aku penasaran. Kamu nerima Kak Ari atau gak?" Raka kembali mengacaukan perasaan Risa. Tatapan Ari masih penuh harap meskipun ia tak memaksa.
"Terserahlah." ucap Risa pasrah setelah didorong terus-menerus oleh Raka untuk menerima perasaan Ari. Bukankah menerima cinta dari seorang sahabat itu lebih baik?
Kalau sudah terserah berarti Ari dan Risa sudah jadian. Risa mengesampingkan perasaannya pada Raka. Kalau Raka senang mereka jadian, yasudah dia tinggal jalani saja. Lagipula Ari adalah sahabatnya. Ia sudah sangat mengenal Ari. Perasaan akan tumbuh dan akan terbiasa jika terus bersama dan dijalani. Sama halnya dengan perasaannya yang bisa tumbuh menyukai Raka. Lagipula Raka tak menyukainya jadi percuma saja berharap pada orang yang tak punya rasa yang sama. Tangan butuh dua telapak yang sama biar bisa bertepuk. Begitu juga dengan cinta, butuh dua hati yang sama untuk merajutnya agar tidak kusut.
******
__ADS_1
FLASHBACK BERAKHIR
Risa masih menatap Raka yang ada di hadapannya. Perasaanya terdahulu masih tersisa untuk Raka sebagai cinta pertama yang tak mudah dilupakan meskipun ia sudah lama menjalin hubungan dengan Ari bahkan sampai membuahkan hasil seperti ini. Cinta pertamanya tak berhasil. Tapi ia bisa mewujudkan cinta pertama bagi Ari. Calon bayi yang ada dikandungannya saat ini adalah buah cintanya dengan Ari.
"Bagaimana dengan Kak Ari?" Raka mengangkat wajahnya membuyarkan lamunan Risa tentang masa lalu.
Risa mengelus perutnya yang membesar dan Raka mengamati "Apa dia calon bayi kalian?"
Risa terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar pertanyaan Raka. Apakah dia terlihat buruk bahkan di mata Raka saat ia mengandung bayi yang tak berdosa ini? Apakah Raka juga akan memandangnya rendah karena sudah melakukan sebuah kesalahan? Apa yang sudah ia perbuat memang salah, tapi hasil dari perbuatannya ini bukanlah kesalahan.
"Kenapa kamu jadi sedih? Apa aku salah? Apa aku membuat kamu sedih?" Raka mengoreksi kembali pertanyaannya.
"Ari sudah pergi meninggalkanku, ini bukanlah sebuah kesalahan. Hanya saja takdir tidak baik padaku. Sehingga Dia memisahkan kami dan mengambil Ari terlebih dahulu." Risa menjawab dengan lemah
Raka memperhatikan saat melihat Risa mengelus perutnya. Tampak di jari manis Risa melingkar sebuah cincin. Ia mengerti perasaan Risa. Tak ada yang lebih tahu perasaan bagaimana kehilangan dan ditinggalkan kekasih. Raka tahu dengan baik bagaimana itu.
"Apa yang terjadi dengan Kak Ari?" Raka penasaran apa yang menimpa mereka sehingga mereka terpaksa berpisah. Ia tak pernah sedikit pun memandang rendah Risa. Sebab Risa adalah sahabatnya.
"Kecelakaan itu telah merenggut segalanya, kala itu saat sore hari hujan turun tidak begitu deras hanya rintik-rintik, aku dan Ari dalam perdebatan yang cukup serius. Aku tak ingin memiliki bayi ini, aku ingin menggugurkannya. Sementara Ari tak ingin aku melakukan itu, tapi bagaimana aku bisa bertahan? Hubungan kami tak pernah direstui oleh keluarga Ari, itu sebabnya aku ingin mengakhirinya. Tapi yang sudah terjadi tak bisa menghentikanku untuk mengakhirinya. Aku mengandung dan itu sebabnya Ari semakin tak ingin berakhir denganku. Tapi aku tak ingin Ari meninggalkan keluarganya demi aku dan bayi ini. Kami berdebat di dalam mobil. Aku sangat yakin waktu itu lampu sudah hijau saat Ari melajukan mobil di depan kampus itu, tapi tiba-tiba ada seorang gadis muncul entah darimana. Dia sudah ada saja di depan kami. Ari tak sengaja menabraknya, lalu gadis itu tergeletak. Saat itu aku menyuruh Ari menghentikan mobil. Tapi mobil yang melaju kencang sulit dihentikan, Ari tak memperhatikan ada kendaraan lain di depan kami. Ia memutar setir dan menabrakkan diri pada batang pohon di pinggir jalan. Ari berusaha melindungi kami dengan mengorbankan keselamatannya. Aku tak sadarkan diri hingga saat di rumah sakit. Aku pikir, aku sudah kehilangan bayi ini. Namun aku malah kehilangan Ari. Ia menghabiskan darah cukup banyak hingga rumah sakit tak bisa menolongnya. Ia memintaku berjanji menjaga bayi ini dan melingkarkan cincin ini padaku. Tapi setelah ia memintaku berjanji ia malah pergi meninggalkanku untuk selamanya." Tangis keluar dari bibir Risa saat mengulang kembali kejadian pada hari itu.
__ADS_1