
Ibu tersebut memulai ceritanya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Raka mulai khawatir apa yang sebenarnya terjadi?
Ibu tersebut mulai menjelaskan pada Raka, "Ini masih lebih baik dari yang sebelumnya, dahulu Rani lebih buruk daripada yang sekarang. Ia tampak sangat mengerikan dan putus asa. Sewaktu Raka membawanya kemari."
"Raka?!" ujar Raka heran mendengar ibu itu menyebutkan nama Raka. Apa ada Raka lain sebelum dirinya?
"Raka adalah anak saya, dia yang mendirikan 'Rumah Kita' ini. Mengurus anak-anak seperti yang dilakukan Rani sekarang. Raka adalah malaikatnya anak-anak. Raka jugalah penyelamat bagi Rani," lanjut sang ibu menjelaskan siapa Raka yang dimaksudnya. Inilah penyebabnya, kenapa mereka terkejut mendengar nama Raka disebut.
Lalu Raka dengan seksama mendengar lanjutan penjelasan ibu tersebut. Raka adalah penyelamat Rani. Raka adalah hidup Rani. Di saat Rani tak menemukan alasan untuk hidup, Rakalah yang memotivasinya. Mereka seperti ditakdirkan untuk saling melengkapi.
Sebelum Rani bertemu Raka. Dia adalah seorang yang buruk dan mengerikan. Rani merasa kesepian dan merasa dunia tidak adil dan tak pernah berpihak padanya. Dia membenci setiap orang dan bahkan membenci dirinya sendiri. Rani tampak seperti orang lain, sangat kasar dan beringas. Sempat pernah ingin bunuh diri. Hal itulah yang terjadi saat Rani menghilang dari kampus. Ia benar-benar menjadi sosok yang berbeda dari saat ini.
__ADS_1
"Kenapa?" Raka tak menyangka itu terjadi pada Rani. Bagi Rani, dunia seakan kiamat setelah mengetahui kedua orang tuanya bercerai. Ibu yang sangat ia cintai pergi begitu saja meninggalkannya. Makanya rumah Rani tempo hari tampak sepi. Ibunya tak pernah mengatakan alasannya meninggalkan Rani. Ia hanya pergi begitu saja dan meminta perceraian pada ayah Rani.
Namun penyebab Rani depresi bukan fakta orang tuanya yang bercerai. Rani mendapati kenyataan bahwa ibunya meninggalkannya karena menyembunyikan sebuah penyakit ganas yang menggerogoti tubuhnya. Dia tidak memberitahukan siapa pun mengenai kondisinya tersebut bahkan hingga akhir hayatnya. Sang ibu hanya menanggung sakitnya sendiri selagi Rani membencinya dan tanpa tahu alasan ibunya pergi. "Aku benci Bunda, jangan kembali dan jangan pernah menemui Rani lagi," ujar Rani sewaktu ibunya hendak pergi. Ia berusaha menahan air mata tak keluar, begitu juga sang ibunda. Sementara Ayah Rani hanya bisa pasrah karena tak dapat mencegah keinginan sang istri untuk mengakhiri rumah tangganya.
Rani sangat depresi dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan. Ia sangat menyesal. Di akhir hidup sang bunda, ia mengatakan kalimat benci bukan kalimat cinta. Ia bahkan meminta ibunya untuk tidak menemuinya lagi. Dikarenakan itulah Rani membenci dirinya karena bersikap tak layaknya seorang anak. Harusnya Rani menemani dan merawat ibunya saat dibutuhkan. Namun yang terjadi malah ibunya benar-benar pergi dan tak kembali pada Rani untuk selamanya. Hal itu benar-benar memukul Rani. Ia tak lagi percaya pada dunia.
Sebuah takdir yang tidak bisa ditolak oleh Rani, ibunya meninggal dengan menyembunyikan penyakit ganas. Ditambah lagi dengan sang ayah yang sudah menikah kembali, membuat hubungan mereka menjadi renggang. Ia pergi meninggalkan sang ayah dan memulai hidupnya sendirian. Ia berubah menjadi sosok yang berbeda. Ia merasa kesepian dan merasa hidupnya sudah hancur dan sudah berakhir.
Jika mau bunuh diri, bagus kalau langsung mati. Tapi jika yang terjadi adalah masih hidup tapi dalam keadaan cacat, apa Rani bisa menerimanya? Hal itu yang selalu Raka ucapkan padanya.
Raka mengamcamnya dengan mengatakan hal seperti itu padanya agar Rani sadar dan kembali pada akal sehatnya. Raka memang tidaklah sempurna. Kaki kanannya cacat sejak lahir. Sehingga ia terbiasa memakai kaki palsu seumur hidupnya. Rani yang melihat keadaan Raka saat itu, langsung mengurungkan niatnya untuk lompat dari jembatan. Ia berpikir bagaimana jika kedua kakinya patah bukannya langsung mati? Pasti dia akan bernasib sama dengan pria yang berdiri di hadapannya. Kasihan sekali. Lebih baik mati daripada dikasihani.
__ADS_1
Rani memang mengikuti Raka. Namun tidak mudah bagi Raka menghadapinya. Awal yang sulit, Rani tidak mau mendengarkannya. Ia masih memikirkan cara termudah untuk cepat menyusul sang ibunda karena ia benar-benar sudah muak dengan hidup. Baginya hidup ini tidak adil karena takdir tak mengizinkannya untuk pergi dengan cepat, ia selalu saja gagal dalam percobaan bunuh dirinya?
Akhirnya Rani perlahan menghentikan kebiasaannya untuk mencoba bunuh diri saat ia tahu fakta lain tentang Raka. Selain kaki yang cacat, Raka juga memiliki jantung yang lemah sejak lahir. Oleh karena itu, Raka tidak bisa menebak kapan waktunya akan berakhir dari dunia ini. Sehingga setiap harinya, Rani selalu melihat Raka berusaha keras untuk tetap bertahan hidup dengan berbuat baik kepada siapapun.
Raka mencoba dengan tegar untuk tetap menjalankan hidupnya meskipun menurut orang lain itu tidak adil. Melihat Raka berjuang sangat keras untuk bertahan dalam hidup membuat Rani sadar untuk menghargai kehidupan yang dimilikinya. Ia harusnya bersyukur telah memiliki hidup yang sempurna bukan malah menyia-nyiakannya.
Sang ibu yang bercerita menitikkan air mata. Raka kasihan dan memberikan sang ibu selembar tissu. "Raka menderita seperti itu karena ulah saya. Ia lahir dari rahim perempuan yang berlumur dengan dosa. Menghabiskan hidup dalam masa muda yang suram. Bergaul dengan dunia malam yang menggiurkan. Hingga saat Raka lahir bagaikan seorang malaikat. Kehadirannya menyadarkan saya bahwa hidup bukan untuk itu. Bukan untuk bersenang-senang saja. Lebih tepatnya, Rakalah yang membuat kami semua berubah." Sang ibu menyeka air matanya. Ia menceritakan yang terjadi pada Raka disebabkan oleh dirinya yang terlalu terbuai pada urusan duniawi. Sehingga ia mendapat balasan dengan Raka menjadi seperti itu. Ia merasa menyesal, harusnya ia yang diberi balasan bukannya Raka yang tak salah apa-apa. Namun itulah takdirnya, ia harus menerimanya dengan lapang dada, seperti yang selalu Raka ajarkan.
Kemudian setelah saat itu, Raka memutuskan untuk mendirikan Rumah Baca ini. Tempat dimana orang-orang tak beruntung sepertinya bisa meraih mimpi setinggi-tingginya. Ia memberikan harapan kepada setiap orang yang tidak punya harapan bahwa impian akan selalu tercapai jika kita bersungguh-sungguh menaklukkannya.
"Maafkan saya sudah membuat Ibu menceritakan ini semua." Raka merasa menyesal sudah bertanya.
__ADS_1
Kembali ibu itu melanjutkan ceritanya. Di Rumah Baca inilah, Rani perlahan berubah dan mulai menghargai kehidupannya. Ia selalu tersenyum saat bersama dengan Raka. Meskipun Raka cacat, ia tak pernah malu untuk bergaul dengan Raka. Bahkan ia sering pergi bersama dengan Raka. Mereka menikmati hidup dengan saling berbagi kebaikan dan kebahagiaan. Mereka seperti pasangan yang diciptakan dari surga. Sangat serasi.