
Raka bergegas agar urusannya cepat selesai. Setelah selesai menemui dosen pembimbing dengan banyak revisian di tangan. Raka segera menuju parkiran, ia cemas Risa sudah menunggu terlalu lama. Ia berjanji hanya sebentar tadi. Tapi kenyataannya ia malah menghabiskan waktu tiga jam untuk bimbingan.
Sebelum menuju parkiran Raka menyempatkan diri ke kantin terlebih dahulu. Ia harus membelikan Risa minuman dan makanan. Ia merasa bersalah karena sudah menyiksa Risa menunggu sendirian di dalam mobil. Untungnya saja tadi dia meninggalkan mobil dalam keadaan AC menyala.
Saat di kantin ia bertemu dengan Kevin. Namun ia tampak buru-buru dan hanya menghiraukan ajakan Kevin untuk makan siang bersama. Saat ini di tangannya sudah ada kantong plastik berisi minuman dan beberapa makanan ringan yang akan ia berikan untuk Risa.
Ia lalu bergegas ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Risa masih berada di dalam mobil. Ia saat ini tengah tertidur. Mungkin karena Raka kelamaan tak sengaja membuatnya tertidur. Setelah masuk ke dalam mobil, Raka menatap Risa sejenak. Ia menatap kasihan Risa. Tak menyangka hal seperti ini bisa menimpa Risa. Ia sangat tahu, Risa adalah perempuan yang ia kenal baik, pintar dan bisa diandalkan. Risa memiliki peran besar bagi hidupnya di masa dahulu dengan membantunya dalam pembelajaran. Jika ia tak dibantu Risa mungkin takkan bisa lulus di Universitas yang terkenal di kota ini. Namun setelah lulus, ia dan Risa kehilangan kontak. Ia tak bisa mengetahui kabar Risa. Sampai akhirnya ia bertemu kembali di Rumah Baca beberapa hari silam.
Risa masih tertidur. Kepalanya terkulai pada posisi yang tak benar. Kemudian Raka membantu memperbaiki posisinya. Merebahkan kepalanya pada bantalan kursi. Namun saat Raka menyentuh kepalanya. Risa tiba-tiba terbangun. Suasana menjadi canggung karena jarak mereka begitu dekat.
__ADS_1
Risa langsung menghindar dan Raka mengalihkan pandangan. Kemudian ia menjelaskan apa yang terjadi. Risa mengangguk mengerti apa yang akan dilakukan Raka. Ia tak mempermasalahkannya. Lalu Raka memberikan kantong plastik yang berisi minuman dan makanan itu pada Risa.
"Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Aku gak memperhitungkannya tadi," Raka merasa bersalah pada Risa.
"Tidak apa-apa." Risa mengambil kantong plastik itu.
"Aku ingin mengunjungi Ari," jawab Risa.
Raka tak keberatan mengantar Risa. Lagipula ia juga ingin menemui Ari. Raka kemudian melajukan mobilnya sesuai petunjuk Risa. Mereka tiba di tempat pemakaman umum. Raka mengenal tempat ini. Rani juga berada di sini. Namun tempat Ari berbeda blok dengan Rani. Meskipun mereka tiba di tempat yang sama, Raka masih belum bisa mengenalkan Rani pada Risa. Jadi hari ini dia hanya akan menemui Ari tanpa menemui Rani.
__ADS_1
Raka mengikuti kemana arah Risa berjalan. Hingga akhirnya sampai di tempat peristirahatan terakhir Ari. Risa terduduk. Ia menatap lama pusara Ari. Tak ada kata yang terdengar dari bibirnya. Ia sepertinya berbicara lewat hati pada Ari. Hingga Raka tak bisa mendengarnya. "Ari, aku datang bersama calon bayi kita. Aku sudah berjanji padamu akan menjaga bayi ini. Beri aku kekuatan dari sana supaya aku bisa menjaga janji ini. Selalu awasi kami dari sana, Ari."
Mata Risa terasa panas. Air mata tak terbendung hingga mengalir membasahi pipinya. Raka yang berada di sampingnya ikut merasa pilu. Ia menenangkan Risa dengan mengelus-elus pundak Risa.
"Kak Ari, Apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa. Apa kau bahagia disana, aku yakin kau bahagia disana dan juga sedang mengawasi Risa dari sana. Jangan khawatir Kak, Risa ada bersamaku. Aku akan menggantikanmu menjaga Risa dari sini. Tapi disana kamu jaga dia juga untukku" lirih Raka.
Mendengar ucapan Raka, Risa mulai tenang dan menghentikan tangisannya. Mereka mulai mengirimkan doa untuk Ari yang sudah tenang di tempat peristirahatannya. Raka mengucapkan jaga dia juga untukku. Artinya Raka juga meminta Ari untuk menjaga Rani di sana. Karena ia yakin, Rani juga pasti bahagia dan sedang mengawasinya dari sana.
Selagi mereka berada di tempat pemakaman umum. Raka sempat terpikir apa sebaiknya ia membawa Risa bertemu dengan Rani sekalian. Supaya Risa tak lagi berkata aneh dengan mengatakan ia melihat dan berbicara dengan Rani. Tapi ia masih menimbang-nimbangnya dan memutuskan lebih baik tidak memberitahunya.
__ADS_1