
Haloo guyss... Happy Reading!!!
Sebelum baca udah difavoritekan belum? Biar kalian gak ketinggalan info updatenyaa....
Terusss kalau kalian sayang, kasih VOTE dan LIKE yaa kalau kalian pengen komentar, silahkan isi kolom KOMENTAR juga...
Maaf ya Author sedikit bawel hehehe...
Oke, Silahkan nikmati dan semoga suka~
******
Sosok itu memberitahu Rani bahwa dia belum berhasil menuju keabadian. Ia hanya berada diambang keberhasilan. Ia mengingatkan satu hal yang sangat penting, yakni demi kebahagiaan kita tidak boleh egois. Harus selalu ada kata saling untuk mengusahakannya. Kini mereka harus saling mengikhlaskan untuk kebahagiaan keduanya.
"Bagaimana caraku memastikan kebahagiaannya?" Rani bertanya. "Kau benar. Dia tidak bisa selamanya mencintai orang yang sudah tiada." Rani sadar ia hampir saja egois.
"Dia harus temukan cinta sejatinya yang lain setelah kepergianmu. Kau harus pastikan kebahagiaannya dengan begitu." Sosok itu mengingatkan Rani tentang aturan terakhir yang harus Rani ikuti.
Ini memang sulit. Bagaimana caranya menemukan cinta sejati yang lainnya, jika cinta sejati itu hanya dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia lakukan? Rani berpikir keras untuk menemukan seseorang yang pantas menggantikannya. Terlebih lagi orang itu haruslah yang diinginkan Raka.
Di saat mereka sedang memikirkan caranya. Tiba-tiba datang seorang pria paruh baya yang berpenampilan sama seperti sosok itu. Ia mendekat dan memperlihatkan wajahnya. Sosok itu terbata-bata saat pria paruh baya itu menghampirinya, "Tu-Tu- Tuan ...."
Tuan itu mendekat dan memukul sosok itu, "Aku tahu kau akan membuat kesalahan cepat atau lambat." Tuan itu memarahi sosok itu. Ia juga memiting kepalanya dan menjitaknya berkali-kali. Seperti seorang ayah yang sedang memberi pelajaran pada anaknya.
Tapi sosok itu masih membela diri, "Tuan, apa yang kulakukan, sampai kau seperti ini padaku?"
Rani yang masih berada di sana ikut mencoba membantunya, ia menarik lengan tuan itu agar melepaskan sosok itu. "Tuan kau siapa? Siapa kau berani memukulnya? Jangan gunakan kekerasan. Bicara saja padanya."
Tapi tuan itu tidak menghiraukan Rani dan dia minta Rani pergi. Sosok itu juga memberi isyarat pada Rani untuk pergi. Ia mengayunkan tangannya meminta Rani pergi dan meninggalkan mereka berdua. Terpaksa Rani mengendap-endap dan pergi dengan perlahan, sebelumnya ia masih menoleh ke arah sosok itu dengan pandangan bersalah.
__ADS_1
Setelah itu sang tuan mencengkeram kerah sosok itu dan berkata, "Siapa yang menyuruhmu ikut campur urusan manusia?!"
Sosok itu tahu kesalahannya dan dia memohon agar jangan melakukan hal ini di depan Rani. "Aku harus melindungi image-ku di depannya. Jangan mempermalukanku." Sosok itu hanya tidak ingin Rani mengetahui identitas aslinya.
Mereka menghilang dari situ dan pergi ke tempat lain. Sang tuan marah, "Kita tidak bisa mencampuri urusan manusia, itu aturan pertama sebagai Penjemput arwah, beraninya kau ...."
Sosok itu memotong perkataan Si Tuan dan membela diri, "Bukan seperti itu ... Aku terpaksa membantu, bukannya aku ingin membantu, sepanjang hidupku sebagai Penjemput dan Pengantar, baru kali ini aku bertemu manusia seperti itu. Aku merasa kasihan padanya."
"Kau, apa kau kencan dengan gadis itu?" Si Tuan menginterogasinya. Ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Sosok itu menyanggah dengan cepat, "Tidak! tapi kau tidak tahu betapa keras kepalanya dan depresinya dia. Coba saja kau sendiri yang mengurusnya, kau pasti takkan sanggup."
Si Tuan bicara pada dirinya sendiri, "Itulah mengapa kau tidak bisa mendengar orang yang mati muda dan yang mengajukan diri sebagai Penjemput roh, perasaannya pada manusia akan segera pulih dengan cepat."
Sosok itu berkata, "Bukankah Tuan yang memberiku kesempatan kedua supaya aku bisa bertemu dan membantunya."
Si Tuan memukulnya, "Kau yang merengek memintanya seperti anak manja yang mengesalkan. Jadi aku mengawasimu sendiri, dasar kau. Aku takut dia mungkin melakukan sesuatu yang impulsif dan roh kalian akan lenyap."
"Lalu kau mau apa?" tanya Sang Tuan. Sosok itu menjawab, biarkan dia terus yang mengawasi dan membawa Rani. "Kau benar2 tidak punya perasaan." sesal Sosok itu.
"Aku bukan manusia, bagaimana aku bisa punya perasaan?" jawab Sang Tuan. "Oh my God!" Sosok itu menyerah
Waktu Rani tinggal 219 hari 4 jam dan 59 menit.
Rani kembali memanggil sosok itu dan mengeluhkan nasibnya. Ia mengomel memikirkan caranya dia bisa segera menuju keabadian. Padahal sosok itu sudah berkali-kali berkata bahwa ia tak punya lagi solusi. Bahkan ia sudah mendapat hukuman karena membantu Rani untuk terakhir kalinya.
Rani tahu itu, tapi ia ingin sosok itu kembali mengeceknya. Sosok itu berteriak kesal karena Rani selalu saja mendesaknya, "Mengapa? mengapa? mengapa? mengapa? mengapa? mengapa? MENGAPA?"
"Kenapa kau malah membentak dan marah padaku? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Rani dengn polosnya.
"Tidak ... tidak, tidak, tidak, tidak, TIDAK!" Dia masih stress karena hukuman yang ia dapatkan dari sang tuan. "Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu tapi karena kau terus saja minta bantuan, maka aku mendapatkan hukuman."
__ADS_1
Rani kaget dan merasa bersalah, "Ya Tuhan, bagaimana bisa terjadi? Apa tuan itu melakukan ini padamu?"
"Selama masa kerjaku, aku sama sekali tidak pernah melanggar peraturan sebagai Penjemput dan Pengantar roh. Tapi, demi kau ... hari itu aku melakukannya." Rani semakin merasa bersalah dan berkali-kali minta maaf, "Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku sangat putus asa."
Sosok itu berkata jika Rani menyesal maka jangan membuang-buang waktu yang tersisa lagi, "Cepat selesaikan, aku bisa gila jika terus-terusan mengurusmu."
Tapi Rani tetap bertanya apa sosok itu bisa membantunya mencari tahu bagaimana membuat Raka jatuh cinta lagi pada orang lain. Tapi sosok itu malah berteriak frustrasi, "Tentu saja aku tidak bisa!" Lalu ia menghilang meninggalkan Rani.
Sosok itu mengingat masa lalunya. Saat ia menghabiskan waktu bersama dengan gadis yang ia cintai. Keduanya piknik di pantai dan ia masih mengingat kala itu gadisnya tersenyum cerah seperti sinar matahari di pagi hari. Diam-diam ia memotret dan mengagumi wajah indah kekasihnya. Keduanya berbagi ear-phone mendengarkan melodi nan indah. Gadis itu merebut kameranya karena ia ketahuan sedang memotret diam-diam. Dikarenakan saling berebut, mereka tak sengaja tersungkur dan terjatuh. Gadis itu menimpanya dan pandangan mereka saling beradu. Kalau bukan karena suara jantung yang begitu kencang berdetak mungkin sedetik kemudian mereka akan berciuman. Meskipun hal itu tidak terjadi tapi keduanya tampak bahagia saat itu.
*****
Rani telah kembali dari tempatnya di makamkan. Ia baru saja melihat Raka datang dan bergulir air mata. Raka sedih harus mengikhlaskannya tapi ia tetap harus lakukan. Rani pun ikut pilu mendengarkan perkataan Raka di saat ia menatap pusaranya. Cinta ini memang benar-benar menyakitkan dan benar-benar menyulitkan.
Ia kembali ke taman dan menemukan sosok itu sedang tiduran di bangku taman sambil menyanyi dan Rani mendekatinya, lalu sosok itu bicara sendiri menyindir Rani yang datang, "Lagi ... ada orang yang tidak diundang datang. Pasti ingin mengeluh lagi."
"Aku baru saja kembali setelah melihat Raka. Dia menangis lagi. Aku takut air matanya akan kering karena selalu saja menangisiku." Rani menekuk wajah pucatnya.
Sosok itu menjawab, "Air mata adalah perwakilan perasaan yang paling akurat. Manusia akan menangis jika perasaan mereka kuat. Seperti terlalu suka, terlalu sedih, terlalu kesepian, terlalu salah, dan lainnya. Meskipun ada juga air mata yang menipu ... Kita bisa membedakannya. Jadi apa masalahnya? Berarti perasaannya padamu sangat kuat."
"Ini karena aku tidak pantas mendapatkannya. Dia harusnya tidak usah bertemu denganku. Aku hanya bisa menyiksa dan menyakitinya," jawab Rani sendu.
"Inilah mengapa aku tidak menyukai manusia, kalian pikir kalian sangat hebat. Kalian tidak bisa menyembunyikan perasaan sesungguhnya tapi berlagak kuat dengan menahannya," jawab Sosok itu
Rani minta sosok itu jujur padanya, "Apa aku bisa melakukannya? Apa nanti ada yang benar-benar mencintainya? Apa aku bisa temukan orang itu? Orang yang akan membuat Raka bahagia selain diriku?"
Sosok itu tidak tahu, ia tidak punya wewenang dalam hal itu. Hati manusia siapa yang tahu. Lalu Rani mengeluh ini terlalu berat. Sosok itu berkata dengan lembut, "Hati manusia gampang sekali berubah, tidak ada yang abadi. Mereka mencintai, lalu membenci. Panas, lalu dingin. Kesal, lalu senang. Mungkin itu akan berlaku juga pada Raka. Kau lakukan saja usahamu, waktu pasti akan mengobatinya. Aku sudah pernah melihat hal itu. Dia bisa berubah seiring waktu menemukannya dengan orang yang tepat. Terpenting apa kau akan menerimanya jika itu terjadi, saat ia menggantikan dirimu dengan orang lain?"
Sejenak Rani terdiam dan tampak sedang berpikir panjang. "Aku akan menerimanya. Aku tidak bisa membuatnya bahagia maka aku akan mengusahakan dia bahagia meskipun itu bukan denganku. Raka berhak bahagia. Aku harus berlapang dada dan tidak boleh egois. Itu semata demi kebahagiaannya."
__ADS_1