
Raka menanyakan pada Risa apa dia baik-baik saja. Ia terlihat aneh dan tidak sehat. Apa mungkin itu disebabkan oleh bawaan hamilnya?
"Risa, disini sajalah sampai matahari meninggi, aku akan antar kamu nanti ke Rumah Baca sekalian aku pergi ke kampus. Tapi kita ke kampusku dulu, aku hanya mampir sebentar cuma ngasih proposal penelitian ke Dosen." Raka memutuskan agar Risa istirahat saja di sini sampai pagi terang setelah itu ia akan mengantarnya kembali.
"Kamu bisa berbaring dan beristirahat kembali di kamar itu, itu kamar kak Luna. Dia kan sudah menikah jadi sekarang dia tinggal sama suaminya. Jadi kamar itu kosong dan kamu bisa menggunakannya untuk sementara. Kasihan bayimu," ujar Raka menunjukkan kamar di dekat ruang tamu.
Risa melihat ke arah kamar tersebut. Apa Raka tak mempercayai apa yang sudah diucapkannya? Lalu ia mengelus perutnya dan mengikuti saja permintaan Raka. Mungkin nanti Raka akan mempercayainya.
"Sebelum kita ke Rumah Baca, apakah kau bisa mengantar ku ke suatu tempat?" Risa menawarkan permintaan pada Raka.
"Baiklah, aku akan menemanimu kemana kau inginkan. Jangan sungkan denganku, Sa." ucap Raka sambil menatap Risa dengan tatapan sendu.
Risa menuju kamar yang ditunjukkan oleh Raka. Setelah masuk membaringkan diri. Ia kembali mengingat-ingat bahwasanya memang benar dia bertemu dengan gadis itu. Lalu kenapa Raka tak mempercayainya dan malah menatapnya kasihan?
Risa penasaran apa sebenarnya yang terjadi dengan hubungan mereka. Ia melihat goresan tulisan nama mereka di kursi itu. Hal itu cukup menjelaskan betapa manis dan bahagianya hubungan mereka. Tapi kenapa yang ia lihat dari kedua sisi malah sebaliknya. Raka maupun gadis yang ia temui itu sama-sama terlihat menyedihkan.
Ia sangat penasaran tapi tak mau menanyakannya, ia takut hal itu akan menyinggung Raka ataupun gadis itu. Sehingga ia tak punya tempat lagi untuk tinggal. Ia harus menjaga sikapnya hingga bayinya ini lahir. Ia sudah berjanji pada Ari akan menjaga bayinya. Serta ia takkan pernah lagi mencoba melakukan hal buruk seperti yang hampir ia lakukan.
Beberapa waktu kemudian, terdengar pintu kamar diketuk. Pagi sudah terang menderang, matahari sudah naik untuk menyapa makhluk bumi. Raka kemudian memanggil Risa untuk keluar dan menikmati sarapan terlebih dahulu sebelum mereka pergi. Setelah melihat wajah Risa dari balik pintu. Raka mengatakan bahwasanya Risa bisa membersihkan diri dan menggunakan pakaian yang ada di lemari lalu keluar untuk sarapan.
__ADS_1
Saat sarapan di meja makan Risa memperhatikan sekeliling kenapa tak ada seorang pun di rumah Raka. Kemudian Raka menghampiri meja makan dengan membawa dua porsi nasi goreng.
"Aku harap kamu bisa menikmatinya, aku tidak terlalu bisa memasak." ucap Raka
"Terimakasih, Raka. Aku malah merepotkanmu." Risa mulai menyendok nasi goreng yang ditawarkan Raka.
"Tidak apa-apa. Aku tadi sudah bilang, jangan sungkan denganku." ucap Raka.
Risa terlihat canggung dan masih gelisah memeriksa sekitar. Raka yang menyadari kegelisahan Risa mengatakan bahwasanya keluarganya sedang di rumah kakaknya.
"Ayah dan Ibuku pergi kerumah Kak Luna, Kak Luna sama sepertimu sedang mengandung. Jadi tinggal aku disini sendiri, tapi nanti Buk Ina datang. Dia yang bekerja disini bersih-bersih dan bantu Ibu." Raka menjelaskan pada Risa kemana semua orang pergi.
"Oek..Oekk," Risa tiba-tiba merasa mual dan muntah-mutah. Hal itu pasti disebabkan oleh kehamilannya.
Raka menjadi khawatir, ia mengira itu disebabkan oleh nasi gorengnya yang tidak enak.
Sesampainya Risa kembali dari kamar mandi, Raka mengatakan jika nasi gorengnya tidak enak tidak usah dipaksa memakannya. Kasihan bayinya. Kemudian Risa menjelaskan ia mual dan muntah bukan karena nasi gorengnya. Tapi memang sewajarnya perempuan hamil tiap paginya begini. Lalu Risa meneguk air menawarkan rasa mual di mulutnya dan kembali menyantap nasi goreng buatan Raka.
"Ini enak." Risa memuji nasi goreng buatan Raka dan Raka tersenyum bangga atas pujian itu.
__ADS_1
Kemudian Bu Ina datang ke rumahnya dan Raka menyambutnya. Pandangan Bu Ina terhenti sejenak ke arah Risa, namun ia tak berani berkata-kata. Bu Ina berpikir kenapa tiba-tiba ada seorang perempuan pagi-pagi di rumah ini? Apa dia pacarnya Raka?
Mereka telah selesai menghabiskan nasi goreng tersebut. Raka langsung mengambil piring Risa dan mengatakan Risa duduk saja, biar dia yang meletakkan dan membersihkan piringnya.
Saat Raka berjalan ke dapur hendak menghampiri Bu Ina. Risa kembali merasa mual dan ingin muntah. Ia langsung berlari ke kamar mandi. Sontak Bu Ina langsung mengetahui bahwa perempuan yang ia lihat bersama Raka ini sedang hamil. Bu Ina mendelik menatap Raka yang tengah mencuci piring. Ia curiga apakah perempuan itu dihamili oleh Raka. Kemudian Bu Ina menggeleng-geleng membayangkan jika memang yang ia pikirkan itu benar.
Selesai Raka mencuci piring, Risa pun sudah keluar dari kamar mandi. Risa sudah merasa baikan ketika Bu Ina memberikannya minyak kayu putih. Bu Ina ingin sekali bertanya siapakah Risa tapi ia urungkan. Ia takut di marahi karena terlihat penasaran.
Kemudian Raka berpamitan pada Bu Ina. Ia pergi bersama Risa melajukan mobil yang terparkir di garasi. Ia sengaja membawa mobil ke kampus tak seperti biasanya. Biasanya ia hanya pakai bis. Raka sebenarnya lebih menyukai naik bis daripada naik kendaraan pribadi, karena jika naik bis dia bisa melihat Rani. Tapi saat ini ia memutuskan untuk membawa mobil saja karena dia pergi bersama Risa. Kasihan Risa jika dia harus naik kendaraan umum. Risa kan sedang hamil.
Tiga puluh menit perjalanan, Raka tiba di kampus dan langsung memarkirkan mobilnya di parkiran Fakultas. Ia meminta Risa tak usah turun. Tetap saja di dalam mobil karena ia takkan lama. Lalu Risa mengiyakan.
Saat Raka keluar dari mobilnya. Ia berpapasan dengan Mitha yang saat itu juga berada di parkiran. Awalnya Mitha terkejut melihat Raka yang tak biasanya membawa mobil. Lalu Mitha menyapa Raka dan saat itu juga Mitha melihat seorang perempuan dalam mobil Raka dikarenakan kaca mobil Raka memang tidak terlalu gelap. Ia bisa dengan jelas melihat apa saja yang ada di dalam mobil itu. Mitha penasaran siapa perempuan itu, karena wajahnya tidak kelihatan. Apa Raka sudah move on dari Rani dan menemukan perempuan lain? Mitha kecewa jika memang Raka sudah move on dari Rani. Ia merasa kesal kenapa perempuan lain bukan dirinya. Padahal ia masih menyimpan perasaannya pada Raka.
"Baru nyampe, Tha?" tanya Raka pada Mitha. Namun Mitha terlihat tidak fokus. Pandangannya masih pada sosok perempuan di dalam mobil Raka.
"Eh iya Raka, tumben bawa mobil. Aku gak pernah melihat kamu sebelumnya bawa mobil," Mitha langsung cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Raka bisa curiga jika ia menatap perempuan yang di dalam mobil terlalu lama.
"Iya nih, karena ada hal yang mendesak aja. Oh iya aku duluan nih, buru-buru mau nemui dosen pembimbing." Raka bergegas ingin pergi. Ia tak ingin Risa menunggunya terlalu lama dalam kondisi seperti itu, pasti Risa gampang kelelahan menurut Raka.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam secara bersama karena Mitha juga ada urusan ke dekanat.