Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Menjadi Baik Bukanlah Kesalahan


__ADS_3

Masih pagi sekali, Risa sudah datang ke Restoran untuk bekerja. Ia terlihat lelah karena semalaman tidak bisa tidur. Tapi ia harus bertahan, ia tidak boleh lagi ketiduran saat bekerja. Itu akan mendatangkan masalah.


Beberapa menit kemudian datang Faraz dan dia langsung menyapa Risa. Faraz bertanya apakah Risa sudah sarapan dan Risa hanya tersenyum. Ia sama sekali belum makan sejak tadi malam. Faraz bisa mengetahui hal itu dari senyum canggung Risa dan dia mengajak Risa pergi untuk sarapan.


Setelah selesai sarapan bukannya bersemangat, Risa malah jadi semakin mengantuk. Ia mencubit pipinya dan mengusap matanya sambil mengucapkan kalimat sugesti, "Jangan tidur, aku tidak mengantuk dan aku masih segar." Faraz yang memperhatikannya sedang bergumam hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengira Risa sangat aneh.


Saat briefing pagi sebelum Restoran buka, Souchef menyebutkan reservasi mereka dan Kepala chef memikirkan menu khusus hari ini dan memberikan instruksi. Risa dapat jatah mengambil taplak meja yang sudah dilaundry, tapi ia tidak mendengarnya karena ia sedang terkantuk-kantuk. Kepala chef lalu meneriakinya, "Ini masih pagi. Jangan jadi pemalas! Aku tidak bekerja dengan seorang pemalas."


Faraz menyenggol Risa dan barulah Risa tersentak kaget dan segera minta maaf, ia akan mengecek dan mengambilnya. Dikarenakan buru-buru, ia tidak sengaja tersandung tumpukkan barang di lantai, lalu meminta maaf lagi. "Dasar ceroboh," gumam Souchef. Semua orang menatap dan membicarakan kecerobohannya.


Pengunjung mulai berdatangan dan dapur menjadi sangat sibuk karena banyaknya pesanan. Restoran juga kedatangan seorang blogger yang tengah naik daun. Perempuan itu kini tengah sibuk memotret menu khusus yang nantinya akan dijadikan referensi di blog kuliner miliknya. 


Blogger itu datang bersama putranya yang berusia enam tahun. Putranya sangat merepotkan sekali karena tidak bisa duduk diam. Ia terus saja berkeliaran dan berlarian di samping Risa yang sedang membersihkan meja.


Hasil gambar yang sudah dipotret blogger itu terlihat tidak menarik, ia lalu menyuruh Risa untuk menghangatkan sup yang sedang dia potret. Menurutnya gambar yang ia potret akan terlihat menarik jika ada asap mengepul dari makanannya. Itu pasti akan lebih terlihat menggiurkan jika selesai dipotret. Tapi Risa menjelaskan padanya, jika sup itu dipanaskan ulang maka mienya akan menjadi lembek karena mengembang.


Bukannya menerima, Blogger itu malah jadi kesal dengan penjelasan Risa, "Dengar, aku telah menjalankan blog tentang kuliner selama lima tahun. Aku tahu semua tentang ini. Jadi kalau kusuruh menghangatkan itu, lakukan saja seperti yang aku katakan, pelayan rendahan sepertimu tidak usah mengguruiku," sahut wanita itu dengan angkuh. Risa akhirnya menurut saja dan membawa sup itu ke dapur untuk dipanaskan. 


Putranya Blogger itu mulai merasa bosan dan mengeluh pada ibunya, "Ibu, kapan ibu selesai?" Blogger wanita itu mengelus rambut putranya dan memintanya untuk menunggu sebentar lagi.


Souchef sempat menegur Risa yang menghangatkan sup. Tapi Risa memberi isyarat kalau blogger itu yang menyuruhnya. Dari jauh, Kepala chef juga memperhatikan apa yang sedang Risa lakukan.


Setelah sup itu panas, Risa membawanya kembali kepada blogger itu. Tapi tiba-tiba saja, putranya datang dan menyenggol Risa. Ia membuat Risa kaget dan tanpa sengaja kuah sup yang dibawanya tumpah.

__ADS_1


Melihat kejadian itu, Blogger itu langsung mendekati dan memeriksa keadaan anaknya. Ia langsung mengomeli Risa habis-habisan. Ia mengatai Risa ceroboh yang tidak berhati-hati membawa sup panas. Bagaimana jika anaknya terkena luka bakar. Padahal ia tahu anaknya baik-baik saja, justru tangan Risa-lah yang memerah tersiram kuah sup panas. 


Seperti biasa Risa terus saja meminta maaf. Padahal bukan dia yang salah. Tapi Blogger itu tidak menghiraukannya. Ia terus saja mengomeli Risa dan membela anaknya, "Anakku berlarian karena dia masih anak-anak. Orang dewasalah yang harusnya berhati-hati, bukan sebaliknya. Pelayan macam apa kau ini!"


"Maafkan saya ... Maafkan saya," ucap Risa dengan merasa bersalah. Melihat karyawannya dimarahi, Kepala chef tidak tinggal diam. Ia lalu menghampiri putra Blogger itu dan bertanya, "Hei Nak, berapa usiamu? Kau sudah TK atau belum? Apa kau sudah tahu kalau kau tidak boleh berlarian di tempat umum?"


"Saya tahu." jawab anak itu dengan polosnya.


"Kau tahu. Berarti kau berbuat salah?" Kepala chef kembali menanyainya. Anak itu mengakui bahwa ia salah. "Ya. Saya salah."


"Kau salah kan," ucap Kepala chef dan ia menyentuh telinga anak itu seperti menjewer tapi tidak keras. 


Melihat anaknya ditegur, blogger itu marah dan tidak terima, "Hei ... Apa yang kau lakukan?!"


Blogger itu menyebut ini hal konyol. Kepala chef tahu itu, "Lebih konyol lagi meminta sup dipanaskan padahal tahu mienya akan menjadi lembek." Kepala chef yang sudah terlanjur kesal menyalahkan Blogger itu yang seenaknya saja menyalahkan orang lain ketika dia sendiri tidak bisa menjaga anaknya. Blogger itu menjadi meradang mendengar perkataan Kepala chef. Ia juga ikut mengatainya bahwa Kepala chef sangat sombong hanya untuk menjadi seorang tukang masak.


Suasana semakin kacau. Risa mencoba menenangkan. Ia berkata kalau dia baik-baik saja. Tidak perlu mempermasalahkannya lagi. Tapi bukannya tenang, Blogger itu malah semakin menjadi-jadi dengan menjelek-jelekkan Restoran. Kepala chef menjadi tambah kesal dan tanpa pikir panjang, ia menarik Blogger itu segera keluar dari Restorannya. "Kami hanya melayani pelanggan yang normal. Pergi saja sana!" usir Kepala chef


Sebelum pergi, Blogger itu berkata ia tidak akan tinggal diam diperlakukan seperti ini, "Kau tidak tahu siapa aku?!". Tapi Kepala chef tidak mempedulikannya.


Risa ikut keluar dan memberikan kartu milik blogger itu yang tadinya terjatuh. Blogger itu mengambil kartunya dengan kasar lalu pergi dan diiringi salam perpisahan dari Risa. "Saya minta maaf. Sampai jumpa." Risa juga membungkuk mengiringi kepergian blogger itu.


Mendengar Risa meminta maaf, membuat Kepala chef marah, "Hei!" tegurnya. Ia menatap tajam Risa.

__ADS_1


"Saya minta maaf." Hanya itu yang bisa Risa ucapkan kembali karena Kepala chef menegurnya.


Kepala chef menatap Risa kesal, "Apa kau memiliki hobi meminta maaf?" Lalu ia menyuruh Risa segera masuk dan mengikutinya ke dalam. Risa yang tahu akan dimarahi, menghela napas berat dan masuk ke dalam.  


Risa gemetaran dan menunduk takut ketika berhadapan dengan Kepala chef, "Saya benar-benar menyesal Chef. Saya seharusnya lebih berhati-hati. Maafkan saya."


Kepala chef menghela napas dalam, ia menceramahi Risa, "Kau tahu kenapa aku tidak menyukaimu? Sikapmu itu membuat aku kesal. Entah kau melakukan suatu kesalahan atau tidak, kau selalu saja minta maaf. Selalu disalahkan dan selalu salah. Sikap itu bahkan tidak ada bagusnya. Kau bahkan tidak tahu caramu bersikap membuat orang lain disekitarmu terlihat buruk!"


"Saya sungguh ... minta maaf," ucap Risa dengan terbata-bata.


Kepala chef menghela napas kesal, "Dapur bukanlah tempat yang mudah. Ini medan perang. Hanya yang kuat dan tangguh yang bisa bertahan. Kau tidak akan mempunyai kesempatan jika kau terus membuat dirimu menjadi lemah. Kuberi saran yang tulus, kau harus berpikir panjang dan keras apakah kau pantas berada di dapur atau tidak. Jangan bodoh, keras kepala, terluka dan menjadi gangguan bagi orang lain. Kau mengerti?"


Risa terdiam menerima saran yang menohok hati. Sebelum pergi, Kepala chef melihat tangan Risa yang memerah akibat sup panas tadi. Ia lalu menyuruhnya untuk mengoleskan salep. "Tangan wanita tidak seharusnya memiliki bekas luka bakar."


Tapi Risa malah mengkhawatirkan hal lain daripada tangannya yang mulai melepuh, "Apa tidak apa-apa ... Perempuan tadi adalah seorang blogger yang berpengaruh? Komentar yang ia tulis di blognya bisa menjadi senjata beracun yang akan memperburuk keadaan Restoran."


Kepala chef kembali menjadi kesal, "Apa Blogger itu jabatan resmi seperti yang dimiliki seorang pejabat? Belakangan ini Blogger lebih menjengkelkan daripada wartawan. Apa hak mereka dan berdasarkan standar apa mereka memberikan penilaian terhadap makanan dan Restoranku. Memangnya siapa yang coba mereka tipu!"


Kepala chef mulai jenuh berbicara dengan Risa, "Kau obati saja tanganmu itu dan jangan terlalu baik. Itu kesalahanmu!" Begitu melihat Kepala chef pergi, Risa bergumam dengan berkata bahwa menjadi baik bukanlah kesalahan. Tapi menurut Kepala chef, Risa telah berbuat kesalahan karena terlalu baik.


*****


**Jangan segan-segan untuk memberikan vote, like dan koment. Satu kontribusi yang kalian berikan sangat membantu Author untuk menaikkan semangat. Sehingga bisa lebih semangat melanjutkan bab baru.

__ADS_1


Semangat untuk kita semuanya~ 💙💙**


__ADS_2