Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian

Awas Jatuh Cinta (0330) Cinta Dalam Keabadian
Surat Pengunduran Diri


__ADS_3

Haloo guyss... Happy Reading!!!


Sebelum baca udah difavoritekan belum? Biar kalian gak ketinggalan info updatenyaa....


Terusss kalau kalian sayang, kasih VOTE dan LIKE yaa kalau kalian pengen komentar, silahkan isi kolom KOMENTAR juga...


Maaf ya Author sedikit bawel hehehe...


Oke, Silahkan nikmati dan semoga suka~


*****


Rani bertemu dan ingin mengatakan rencananya pada sosok itu tapi saat menemuinya ia berkata bahwa ia sudah tahu. "Apa aku bisa melakukannya sesuai keinginanku?"


"Kenapa kau bertanya, bukankah kau melakukan sesuatu selama ini sesuai keinginanmu?" ujar sosok itu dengan datar dan dia kembali mengingatkan agar tidak menimbulkan masalah. Sampai masa 330 hari selesai.


"Apa aku boleh melakukannya jika sudah dapat izin?" Rani memberitahunya. "Izin?" Sosok itu sedikit bingung dengan perkataan Rani.


Lalu Rani memberitahunya bahwa ia sudah dapat izin dari Ari, "Dia memberiku izin dan menyetujui untuk melakukannya." Sosok itu seperti tidak percaya, "Kau pasti sudah memohon-mohon padanya." Rani cemberut dan sosok itu melanjutkan, "Cepat saja selesaikan dan aku sangat berterima kasih jika kau tidak menimbulkan banyak masalah. Kau selalu saja merepotkan orang lain."

__ADS_1


Rani masih cemberut, menurutnya sosok itu mungkin saja tidak peduli padanya setelah waktunya habis ia akan pergi atau tidak. "Bukannya tidak peduli, aku tidak tertarik," kata sosok itu menenangkan sambil membela diri.


Sosok itu mengingatkannya lagi, "Meskipun kau mencintai Raka. Kontak fisik dengan tubuh Risa benar-benar terlarang! Bahkan jabat tangan juga sudah keterlaluan. Kau hanya diperbolehkan untuk berbicara. Ingat hanya sekedar berbicara." Sosok itu berbicara tegas mengenai aturannya.


Rani sedikit bingung dan ia mendumel, "Bukankah jika aku memasuki tubuh orang lain itu artinya aku menjadi orang itu. Lalu kenapa menyentuh saja tidak boleh?" Lagi-lagi sosok itu menjadi kesal dan bersikeras bahwa itu tidak boleh.


Rani mencurigainya, "Kau seperti orang yang sedang cemburu." Sosok itu seperti tertangkap basah. Lalu dengan tegas ia menolak. "Untuk apa aku cemburu, kau bukan tipeku. Aku tidak tertarik dengan perempuan jelek dan suka menimbulkan banyak masalah sepertimu." Kemudian dia pergi menghilang meninggalkan Rani.


"Kalau tidak, kenapa dia bersikeras? Bukankah yang seperti itu sangat jelas, kalau dia menyukaiku," gumam Rani melihat sosok itu menjadi salah tingkah.


******


Kini Risa berada di kediamannya. Sebuah kamar kontrakan yang kecil. Ia tampak buruk dan sedih. Baru saja tadi yang punya kontrakan menegurnya karena pulang terlalu larut. Ia mengatai Risa sebagai perempuan tak baik-baik. Itulah akibatnya jika hidup sebatang kara dalam keadaan hamil pula. Dia jadi dapat stereotip buruk. Bahkan anak yang sedang ia kandung juga terkena imbasnya. Anaknya dikatakan sebagai anak yang tak jelas siapa ayahnya.


Risa juga teringat perkataan Mitha tadi saat di Restoran, ia adalah wanita yang tak tahu diri dan pembawa sial. Dia seperti sudah mendapat kutukan untuk hidup bahagia di dunia nan kejam ini. Risa menghela napas panjang, mengingat perkataan itu membuatnya semakin sedih. Ia lalu merobek selembar kertas, meraih ballpoint dan menulis surat. Setelah menulis surat, ia berjalan menuju suatu tempat. Pikirannya sangat kalut sehingga ia berjalan sambil melamun, bahkan ia sampai bertabrakan dengan orang lain.


Akhirnya ia sampai ke tempat yang ia tuju. Ia kini berada di depan Restoran. Ia lalu masuk ke dalam. Dikarenakan sudah larut malam, ini sudah lewat tengah malam. Restoran tampak gelap dan tidak ada seroang pun di sana. Sejenak Risa mengedarkan pandangannya ke ruangan dengan raut wajah sedih. Lalu meletakan surat yang ia tulis di salah satu meja. Itu adalah surat pengunduran dirinya. Ia terpaksa menulis surat itu karena ini bukan lagi tempat yang tepat untuknya bergantung dan bertahan hidup.


Kepala chef pasti sudah mendengar semuanya dari Mitha. Itu berarti dia juga akan menganggap Risa buruk seperti yang sudah Mitha labelkan padanya. Tetap bertahan juga akan tetap membuat hatinya teramat sakit. Perkataan yang dilontarkan Mitha sangat menyakitkan.

__ADS_1


Setelah ia meletakkan surat itu dan ingin pergi, seseorang datang. Ia terkejut dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Ternyata yang datang adalah Kepala chef. Risa melupakan kalau Kepala chef tinggal di sini. Kamarnya tepat berada di lantai atas. Kepala chef turun ke bawah karena ia merasa haus. Ia mengenali wajah Risa yang berdiri seperti hantu di Restorannya dan ia merasa heran apa yang dilakukan Risa tengah malam begini.


Ia menyalakan sebagian lampu dan bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?" Risa menjawab dengan terbata-bata bahwa ia ingin mengambil barangnya yang ketinggalan. Tapi Kepala chef tidak begitu mendengarnya dengan baik karena ia masih dalam keadaan setengah sadar dari tidurnya. Lalu ia memutuskan kembali ke lantai atas tanpa melihat surat pengunduran diri yang Risa tinggalkan. Padahal tadi ketika Risa tiba-tiba pergi, ia ingin bertanya alasannya. Apakah benar ia menghindari Mitha?


Kepala chef ingin mengetahui cerita yang sebenarnya terjadi di antara mereka dari sudut pandang Risa. Ia sudah mendengar dari sudut pandang Mitha dan kini ia harus mendengar langsung dari Risa apa yang sebenarnya terjadi supaya ia bisa memutuskan harus memihak siapa. Tidak mungkin Risa seburuk yang dilabelkan Mitha. Selama ia mengenal Risa sejak mulai bekerja dengannya ia merasa Risa sangat baik meski sering bersikap ceroboh. Jadi tidak mungkin Risa seburuk itu.


Kini Risa sudah berada di luar, ia memandang gedung Restoran dengan sedih. Terdengar suara hatinya saat menatap Restoran, "Chef, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk semuanya. Maaf untuk semua orang di Restoran. Selamat tinggal untuk kalian semua. Seberapa keras aku mencoba untuk menolak jadi sakit, itu tidak pernah berakhir. Rasa sakit yang menimpaku bahkan semakin terasa sesak mencekikku. Semakin aku menghindarinya malah semakin menyakitkan."


Risa mengingat kenangannya saat pertama kali diterima sebagai karyawan di Restoran. Saat itu Kepala chef menerimanya dan berkata, apakah mimpinya menjadi Chef atau bukan, jangan bekerja dengan keras tapi bekerjalah dengan baik. Kepala chef juga menepuk pelan pundaknya dan membuatnya tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa menemukan harapan di tempat ini.


Risa juga ingat betapa terkejut dan takutnya dia ketika pertama kali melihat karakter asli Kepala chef yang sentimental dan sering marah pada Souchef karena masakannya tidak enak. Ia benar-benar salah menduga bahwa penampilan tak menggambarkan karakter seseorang.


Tapi itu tak berlangsung lama sampai akhirnya Risa dapat memahami karakter Kepala chef dan menyadari bahwa sebenarnya Kepala chef adalah orang baik saat ia diperlakukan dengan baik ketika mereka pergi membeli bahan makanan tempo hari lalu. Ia juga ingat saat Kepala chef mengajarinya berlatih menggunakan pisau dengan benar. Meskipun saat itu ia terlihat gugup tapi ia sangat bahagia karena menjadi chef adalah impiannya sejak kecil.


"Aku ingin menjadi chef sepertimu. Aku sangat bersemangat karenamu. Aku senang karenamu. Aku sudah melalui rasa sakit yang di perlukan, jadi sekarang aku akan pergi. Restoran ini sudah seperti sebuah rumah bagiku. Tapi dunia mungkin mendorongku untuk menjauh dan tak pantas mendapatkannya. Bagaimana pun aku akan pergi. Selamat tinggal, Chef" Risa membungkuk hormat pada gedung Restoran, lalu pergi dengan langkah pasti.


Ia berjalan terseok-seok tanpa arah. Waktu saat ini sekitar jam tiga subuh. Jalanan sangat sepi dan senyap. Tidak ada seorangpun karena mereka semua tengah terlelap di dalam dunia mimpi. Langkah Risa terhenti di tengah jembatan. Ia menatap ke bawah jembatan tampak derasnya air mengalir.


*****

__ADS_1


Keesokan paginya, Kepala chef terbangun mendengar dering ponselnya. Matanya masih terpejam saat ia menjawab telpon dari Souchef yang menemukan dan mengabarkan tentang surat pengunduran diri Risa. Matanya yang semula terpejam langsung terbuka lebar mendengar Risa telah pergi.


Ia bergegas turun ke lantai bawah dan membaca surat pengunduran diri yang Risa tinggalkan. Faraz menjadi sedih karena Risa pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kepala chef baru akhirnya tersadar dengan apa yang ia lihat semalam saat Risa datang. "Ini yang ia lakukan semalam, bukan mengambil barang yang tertinggal melainkan sengaja meninggalkan surat ini. Dasar bodoh." Kepala chef menggerutu kesal. Ia menduga perginya Risa pasti ada hubungannya dengan kedatangan Mitha kemarin.


__ADS_2