
Pada pukul 03.30 pagi tampak seorang perempuan yang tengah berjalan dengan gontai dan putus asa. Pandangannya lurus tanpa arah. Banyak pikiran yang tengah merasuki alam bawah sadarnya.
Ia berjalan perlahan menuju tepian jembatan. Menatap aliran sungai nan tenang dibawahnya. Mengukur-ukur apakah dia sanggup untuk jatuh ke bawah.
Tak ada seorangpun di sekitarnya. Ia makin dalam menatap ke bawah jembatan. Ia mengelus perutnya yang tampak membesar. Bulir air mata perlahan mulai jatuh membasahi pipinya. Kaki kanannya sudah mulai menaiki pembatas jembatan. Air mata makin mengalir dari pelupuk matanya. Ia benar-benar putus asa dan tak punya tujuan.
Di saat kedua kakinya sudah menaiki pembatas jembatan, ada tangan seorang gadis yang menghentikan niatnya untuk menjatuhkan diri ke dalam sungai berbatu yang berada di bawah jembatan itu. Telapak tangan yang begitu dingin.
Perempuan itu menatap pada sang gadis. Namun Gadis tersebut tak bersuara dan wajahnya tampak pucat. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat bahwa perbuatan yang sedang dilakukan sang perempuan tak baik. Seberapa buruknya masalahnya, ini tak pantas ia lakukan. Hidup belum berakhir jika ia memilih jalan pintas seperti ini.
Lalu Gadis itu menatap ke arah perut sang perempuan dan tampak kesedihan dalam tatapannya. Perempuan itu menatap balik perutnya kemudian dia mengelusnya.
__ADS_1
Saat Gadis itu menyentuh perut perempuan itu tanpa bersuara. Tiba-tiba riuh tangis keluar dari bibir perempuan itu. Ia tak sanggup melakukan apa yang sudah diniatkannya. Ia tak ingin bunuh diri dan tak ingin membunuh cabang bayi yang sedang di kandungnya. Namun ia juga tak sanggup tinggal sendiri di dunia nan kejam ini. Hidup sendirian begitu menakutkan baginya. Ia takut dengan pandangan rendah dan cacian buruk orang-orang yang melihatnya. Hal itu sangat buruk dan membuatnya menderita untuk tetap bertahan di dunia yang kejam ini.
Gadis itu ikut menatapnya sedih namun tetap menahan perempuan itu melakukan hal buruk. Tetap saja bunuh diri bukan solusinya.
"Aku harus bagaimana? Aku bahkan sangat menantikan kehadiran bayi ini, tapi aku tak sanggup hidup di dunia ini sendirian dan aku tak punya tujuan. Bagaimana aku akan melahirkan bayi ini?" tanya perempuan itu sambil menumpahkan air mata yang tak lagi terbendung.
"Sama saja malangnya jika dia hidup dengan ibu seperti aku. Lebih baik kami berdua menyusul ayah bayi ini daripada hidup sengsara seorang diri tanpa keberkahan." isak sang perempuan dalam tangisannya.
Gadis itu hanya mendengarkan tanpa bicara. Ia tahu betapa menyakitkanya hidup sendirian di dunia yang sepi. Tapi bukan ini caranya membalas kesakitan itu. Perempuan itu harusnya tahu bahwa hidup sebenarnya indah dan harusnya memperlihatkan itu pada calon bayinya.
Namun ia salah, gadis ini masih berada di sampingnya dan ikut menatapnya dengan sedih. Seperti dia ikut merasakan penderitaan sang perempuan. Kemudian sang gadis menyentuh pundak perempuan itu. Ia menganggukkan kepalanya memberikan isyarat bahwa perempuan itu harus mengikutinya.
__ADS_1
Lalu Perempuan itu mengusap pipinya yang banjir dengan air mata dan mengikuti perlahan gadis itu. Ia pikir gadis ini akan membantunya karena tampak dari wajahnya bahwa gadis ini terlihat seperti orang baik.
Perempuan itu kembali mengelus perutnya yang membesar, ia merasa bersyukur ada yang peduli dengannya dan calon bayinya. Lalu mereka tiba di depan rumah yang dikelilingi banyak pepohonan yang di cat berwarna-warni.
Benar, rumah itu adalah Rumah Baca Kita. Rumah yang dibangun oleh Raka. Tempat impian Raka dan Rani bernaung. Memberikan setiap kebahagiaan kepada siapapun yang tak pernah menyerah meraihnya.
Gadis itu masih melanjutkan langkahnya memasuki Rumah Baca. Perempuan itu tampak tak yakin karena ia tak mengenal tempat itu. Apakah benar jika ia mengikuti gadis ini?
Gadis itu terhenti saat perempuan itu juga terhenti, ia tahu perempuan itu tampak ragu memasuki Rumah Baca. Lalu gadis itu menganggukkan kembali kepalanya. Ia sama sekali tak bicara. Tapi kelihatannya ia memaksa perempuan ini masuk dan ikut ke dalam. Ini satu-satunya pilihan bagi perempuan itu untuk menyelamatkan dirinya dan memberikan kehidupan yang indah untuk calon bayinya.
Lalu ia tak punya pilihan dan mengikuti gadis itu masuk. Gadis itu menuntunnya pada lesehan tempat anak-anak biasa belajar dan membaca. Perempuan itu langsung duduk. Tempat ini terasa asing baginya tapi cukup membuatnya nyaman.
__ADS_1
Saat dia mengalihkan pandangan pada setiap foto yang terpasang di dinding ia mulai lega. Di salah satu foto ia melihat ada gadis yang bersama dengannya tadi. Jadi ini adalah rumah gadis itu. Ia mengelus kembali perutnya. Mengucapkan syukur ada yang membantunya dan calon anaknya.
Gadis itu tak lagi kembali setelah masuk ke dalam dan perempuan itu tak sengaja ketiduran setelah memperhatikan suasana Rumah Baca, mungkin dikarenakan lelah dan akibat tangis yang memuncak tadi. Ia akhirnya ketiduran di tempatnya terduduk.