
Rani mengucapkan kalimat itu agar Raka membencinya. Sangat kejam terdengar. Ia mengatakan cinta hanya sebuah ambisi. Tentu Raka sakit hati mendengarnya dan apakah ia harus mengusir Raka untuk pergi menjauh? Tapi tiap kali ia melihat Raka, itu selalu mengingatkannya pada Mitha. Entah kenapa ia terus merasa bersalah pada Mitha? Padahal Mitha tak pernah menyalahkan dan menuntutnya. Namun ia sangat tidak nyaman dengan kekecewaan yang terjadi pada Mitha.
"Tak ada hari tanpa bayang wajahmu. Mengapa dirimu yang selalu hadir di benakku? Getar hatiku bahkan selalu memanggil namamu." Tanpa disadari air mata Raka mulai bergulir. Ia tak sangka Rani bisa melontarkan kata yang begitu kejam.
"Saat ku bernyanyi, saat ku melangkah, ku selalu memikirkanmu." Raka terus saja bicara betapa ia selalu memikirkan Rani tiap hari nya.
"Mungkinkah aku pernah ada di hatimu? Mungkin kah kau pernah menangis mengingatku? Mungkinkah kau memendam perih dan tenggelam dalam kerinduan dan rasa ini? Mungkinkah kau juga rasakan itu? Tahukah kamu itu? Itulah yang ku lakukan setiap harinya. Setiap hari selalu ada dirimu di dalamnya. Setiap hari kau mampu membuatku kelu dan tergugu bahkan kau selalu muncul dalam mimpiku." Raka tak berhenti. Ia menekankan kalimatnya agar Rani peduli padanya.
Namun Rani masih tak bergeming sedikitpun. Setiap hal yang ditanyakan, ia juga rasakan itu. Tapi ia takkan memberitahunya. Ia akan terus menyembunyikannya.
__ADS_1
"Aku tertawa seperti boneka yang tersenyum paksa, aku tersiksa saat kau berkata menjauh, tak seorang pun tahu, aku tak pernah bahagia. Aku hanya bahagia jika kamu menerima ku di sisi mu. Bisakah kau lakukan itu? karna memang tak mungkin, aku tanpamu aku tersiksa dan aku tak bisa." Raka hampir putus asa dan meminta agar Rani mengasihaninya.
Rani tak sanggup rasanya menolak Raka. Ia tahu Raka sungguh-sungguh dengan ucapannya. Namun ia sangat dilema.
"Semua hanya mungkin." ucap Rani dengan berat. Ia memohon dalam hatinya agar Raka berhenti mengungkapkan perasaannya. Sudah tak sanggup baginya menyakiti Raka.
"Tidak bisakah kamu memulai menyukaiku, agar semua yang mungkin menjadi benar adanya? Aku takkan meninggalkanmu, bagaimanapun keadaannya aku takkan meninggalkanmu. Jangan pungkiri apa yang terjadi dalam hatimu. Buka hatimu untukku. Untuk Raka. Bukan Raka di masa lalu mu tapi Raka yang ada di hadapanmu saat ini." Raka mengungkit masa lalu Rani.
"Jangan pernah mengucap janji jika kelak kau tak tahu apakah bisa memenuhinya." ujar Rani.
__ADS_1
Rani hendak pergi. Namun dicegat oleh Raka.
"Lupakan masa lalu mu yang kejam, lupakan Raka yang membawa pergi semua cintamu. Aku tahu kamu takut untuk memulai mencintai lagi. Terima saja aku, terima saja seluruh cinta yang ku beri. Itu sudah cukup bagiku, aku takkan pergi menjauh, aku kan selalu menunggumu disini. Aku tak minta kau untuk memberi tapi terima saja. Terima rasa cinta ini. Bahkan jika kau hanya mengasihani ku, aku tak masalah. Biar aku saja yang mencintaimu." Raka memaksa.
Namun Rani tak suka Raka menyeret masa lalunya. Hal itu sama sekali tak ada hubungannya dengan ini. "Aku tak pernah takut. Jika aku ingin mencintai lagi, maka bukan kamu orangnya... Kau takkan pergi? baiklah biar aku yang pergi." Rani melangkah pergi menghela nafasnya dan menahan air mata tak keluar dari pelupuk matanya. Pertahanannya hampir saja runtuh saat Raka meminta untuk mengasihaninya.
Kalimat Rani terdengar kasar. Sejenak Raka terdiam. Perlahan hujan rintik-rintik mulai turun mengiringi kepergian Rani yang meninggalkan Raka seorang diri. Apakah Raka sebaiknya mengalah saja? Rani benar-benar keras kepala dan tangguh dalam menahan perasaannya.
Rani telah membohongi segalanya. Membohongi hatinya, Raka, Mitha serta semua orang yang menyaksikan kisah cinta mereka yang tragis. Ingin rasanya Raka menuruti perintah Rani yang mengusirnya untuk menjauh dan membencinya. Namun dia takkan bisa melakukan itu. Lebih baik diperlakukan begini oleh Rani daripada a harus merelakan perasaannya pada Rani. Ia takkan bisa membenci Rani. Ia takkan bisa berhenti mencintai Rani. Hanya Rani seorang yang mampu membuat seluruh tubuhnya merasakan cinta (dasar Raka benar-benar Bucin)
__ADS_1
Pada nyatanya, memang kata yang terlontar dari mulut Rani tadi sangat kejam dan itu membutuhkan perlawanan yang besar dengan hatinya. Ia harus melawan hatinya agar bisa berkata sekasar itu pada Raka. Di luar saja Rani terlihat baik-baik saja. Namun jika hatinya bisa dibuka, maka akan terlihat luka yang amat dalam. Benar-benar terasa sakit untuk menahannya. Bagaikan dihujam ribuan sembilu. Untuk pertama kalinya ia berkata seperti itu. Ia sungguh tak bermaksud menyakiti hati Raka. Ia terpaksa lakukan itu hanya agar Raka mau menjauhinya. Ia tak ingin mencintai lagi.